Pengembang Modernland Diprotes

Penghuni Tuntut Akses Keluar Masuk
TANGERANG, SNOL Sejumlah penghuni Cluster The Golf Residence (TGR), Kelurahan Cipete, Kecamatan Pinang, Rabu (29/1) menggeruduk PT Modernland Realty Tbk selaku pengembang. Kedatangan para penghuni perumahan dengan nilai investasi termurah Rp 2,4 miliar ini menuntut pengembang menyediakan akses keluar-masuk yang layak.
Pasalnya, satu-satunya akses keluar masuk penghuni TGR diblokade dengan cara ditembok oleh warga penghuni cluster lain sehingga jalur keluar-masuk ke kompleks menjadi amat terbatas. Mereka menuntut pengembang membongkar tembok penghalang tersebut.
Kedatangan para penghuni cluster cukup membuat suasana kantor pemasaran yang berlokasi di Jalan Hartono Boulevard Hall Roko ‘panas’. Sebab keinginan mereka bertemu dengan pihak manajemen tidak kesampaian. Warga penghuni hanya ditemui Bagian Legal, Haris Barkah dan Syaifullah dari Estate Manajemen.
Tak pelak, Haris menjadi sasaran kemarahan warga yang telah habis kesabaran. Bahkan, mereka tidak segan-segan memaki Haris dengan kata-kata ‘pedas’. “Sekarang bagaimana? katanya paling lambat sudah beres 7 Januari, mana buktinya,” kata salah seorang warga Sumin dengan nada tinggi. Haris yang mendapat tekanan hanya bisa menjelaskan, bahwa proses hukum atas pembangunan tembok tersebut saat ini masih dalam penyelidikan di Polda Metro Jaya. “Mohon maaf, janji kami untuk menuntaskan masalah ini dalam sebulan tidak terealisasi,” terangnya.
Mendengar jawaban Haris, warga justru makin terlihat gusar. Mereka menuding, pengembang tidak serius menanggapi keluhan penghuni. Mereka tetap menuntut agar tembok penghalang dihilangkan. “Sampai kapan kami harus menunggu agar dapat akses,”terangnya lagi. Sumin yang geram menambahkan, warga sudah berulangkali mendengar janji pengembang, namun tidak ada solusi.
Penghuni lainnya, Winston, menuturkan, ihwal sulitnya akses keluar masuk warga dimulai ketika para pembeli saat itu mendapat janji dari pengembang bahwa telah ada perjanjian bersama antara PT Modernland dengan pengembang Premier Park bahwa akses yang kini ditembok dapat dipergunakan oleh penghuni dua kompleks bertetangga itu.
“Tapi belakangan, kita tahu bahwa penghuni Premier Park tahunya bahwa itu adalah akses mereka. Mereka tidak mau berbagi akses dengan kami dengan alasan hilang eksklusifitasnya,” katanya. Maka sejak Oktober 2013, mulailah aksi ‘intimidasi’ dilakukan, dari membuat pembatas berkawat yang silih hilang berganti dengan penghalang lainnya.
Puncaknya, katanya adalah dengan dibangunnya tembok pembatas di sisi-sisi akses keluar-masuk. “Saat pembangunan tembok, ada ormas berseragam membekingi, akibatnya kini akses yang semula cukup untuk keluar masuk tiga mobil, kini hanya cukup satu” tegasnya. Tidak cukup sampai di sana, sepanjang kanan-kiri akses, sebuah mobil seperti sengaja terparkir untuk menghalangi.
Warga lainnya yang juga Ketua RT 02 Alex Wijaya mengaku untuk membongkar tembok tersebut, mereka sempat ditawari menyewa Satpol PP oleh pengembang. “Tapi warga menolak, kami tidak mau berkonfrontasi dengan warga Premier Park, penyediaan akses merupakan tanggungjawab pengembang. Untuk itulah kami minta Modernland bertanggungjawab menyediakannya,” terangnya. Terlebih tuntutan warga penghuni ini dinilai tidak macam-macam. “Kami menuntut akses sewajarnya saja, bukan menuntut klub house kok,” terangnya.
Tidak ingin pulang dengan tangan hampa, warga menuntut dibuat nota kesepakatan hitam di atas putih. Pihak pengembang pun menyerah, dan membuat perjanjian akan membongkar tembok penghalang tersebut paling lambat 28 Februari mendatang. Dalam perjanjian juga disebutkan bahwa apapun yang terjadi tembok tersebut akan dibongkar. “Sudah ditandatangani di atas materai,” kata Alex. Usai mendapatkan lembar perjanjian tersebut, warga pun membubarkan diri.
Terpisah, Haris Barkah yang dikonfirmasi tidak banyak memberi tanggapan. Namun begitu, pihaknya mengakui bahwa lahan yang ditembok tersebut merupakan milik Moderland. Namun, dirinya enggan membeberkan mengapa tidak ada tindakan pencegahan ketika tanah tersebut dibanguni tembok. “Hal ini sudah kami laporkan ke polisi, dan sekarang sedang dalam penyelidikan,” singkatnya. Ditanya siapa pihak yang dipolisikan Modernland, Haris juga tidak bersedia memberitahu, demikian pasal yang dituduhkan kepada terlapor. “Maaf tidak bisa kami beritahu. Tidak semua bisa kami ungkap. Itu merupakan hak jawab kami,”pungkasnya. (made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.