Penipu CPNS Tipu Puluhan Orang

Polres Pandeglang Bongkar Sindikat Penipuan
PANDEGLANG,SNOL Sindikat pelaku penipuan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang beroperasi sejak tahun 2011 lalu akhirnya terbongkar. Tiga tersangka berhasil dibekuk anggota Satuan Reskrim (Satreskrim) Polres Pandeglang. Seorang sekretaris desa di Kabupaten Pandeglang terlibat dalam kasus penipuan yang telah memperdayai ratusan korban itu.
Kasat Reskrim Polres Pandeglang AKP Gatot Priyanto mengatakan, tiga tersangka yang berhasil dibekuk antara lain SD (45), warga Kampung Ciekek Kelurahan Karaton Kecamatan Majasari, AS (59), warga Kampung Pasar Cipeucang Desa Palanyar Kecamatan Cipeucang dan NAP (44), warga Kampung Citangkil, Desa Tangkil Sari, Kecamatan Cimanggu.
“Ketiga tersangka kami amankan dari rumahnya masing-masing. Awalnya kami tangkap AS pada Kamis (30/1) dan kedua tersangka lainnya (SD dan NAP,red) kami amankan di rumahnya masing-masing juga Jum’at (31/1),” kata AKP Gatot Priyanto, Selasa (4/2), seraya menyatakan, SD adalah seorang pengusaha, AS wiraswasta dan NAP berprofesi sebagai Sekdes (Carik). Dari rumah AS, diamankan sejumlah kwitansi dengan jumlah bervariasi antara Rp 25 juta sampai Rp 75 juta. Sedangkan dari rumah SD disita ratusan lembar berkas yang merupakan dokumen perjanjian dan SK yang diduga palsu serta satu unit perangkat komputer.
Hasil pemeriksaan sementara kepolisian, ditemukan korban penipuan bukan hanya warga Kabupaten Pandeglang tetapi juga warga Kabupaten/Kota Serang, Kota Cilegon, Kabupaten Lebak bahkan sampai warga Tangerang, Jakarta serta Jawa Timur yang ingin menjadi PNS di wilayah Provinsi Banten.
“Modus kejahatannya yakni SD berkoordinasi dengan beberapa pesuruhnya mencari orang yang ingin menjadi PNS. Ketika sudah ada calon korbannya, dipertemukanlah dengan SD dan saat itulah terjadi transaksi harga atau komitmen,”ungkap AKP Gatot. Dia menjelaskan, saat pelaku dan calon korbannya membuat komitmen, maka si calon korban harus menyerahkan uang 50 persen kepada SD. Jadi, kalau calon korban bersedia menyerahkan uang senilai Rp 70 juta misalnya, maka diawal ia harus menyerahkan uang senilai Rp 35 juta dan tertera di atas kwitansi bermaterai Rp 6000.
“Pengakuan SD dari 60 korbannya, baru 16 orang saja yang sudah dikembalikan uangnya. Tapi korbannya mencapai ratusan orang, dan semuanya tidak ada yang lolos menjadi PNS,” paparnya. Beberapa korban yang sudah menjalani pemeriksaan atas kasus itu, diantaranya, Rohmat (42), warga Kampung Cempaka, Desa Tangkil Sari, Kecamatan Cimanggu, Nengsih (31), warga Komplek Korem, Desa Cilaku, Kecamatan Curug, Kota Serang.
Salah seorang pelaku NAP mengaku, sekitar awal bulan tahun 2011 lalu, ia didatangi dua orang yang diduga sebagai suruhan SD. Ia diminta untuk bekerjasama mencari warganya yang ingin menjadi PNS. Pertengahan tahun 2011, akhirnya NAP mempertemukan calon korban dengan SD melalui beberapa orang perantaranya.
“Saya baru kali ini, hanya satu orang saja korbannya. Dan waktu itu juga saya tidak tahu sebelumnya kalau ini modus penipuan, malah saya juga merasa tertipu. Waktu itu SD minta korban menyerahkan uang Rp 80 juta. Tapi terjadi nego sampai Rp 60 juta,” aku NAP, seraya mengaku, sempat diberikan uang operasional sebesar Rp 3 juta.
Beberapa lama setelah pertemuan itu, apa yang dijanjikan oleh SD tak kunjung terealisasi. Namun, pertengahan tahun 2012 sampai pertengahan tahun 2013 desakan kepada SD terus dilakukan oleh NAP dan korbannya. Sehingga keluar SK seolah-olah pengangkatan PNS di Kota Serang. Yang ternyata SK SK Palsu karena tidak berlaku.
NAP mengaku, dengan berhasilnya membawa 1 orang korbannya ke SD ia menerima imbalan sebesar Rp 5 juta, sambil berdalih bahwa uang itu dikasih alias bukan atas permintaannya.
Untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kejahatannya, para tersangka di jerat pasal 378 KUHP untuk tersangka SD dan dua tersangka lainnya NAP dan AS dijerat pasal 372 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 4 tahun. (mardiana/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.