SDN Panunggangan 3 Disegel Ahli Waris

PINANG, SNOL SDN Panunggangan 3 di Kelurahan Panunggangan Timur, Kecamatan Pinang, Selasa (17/2) tidak bisa menggelar kegiatan belajar mengajar.
Penyebabnya sekolah mereka disegel salah seorang warga yang merupakan ahli waris Hj Tjimah Tipis/Cilot. Ahli waris menuntut sebagian lahan dimana SDN tersebut berdiri. Penyegelan dilakukan dengan cara menggembok dan memasang berbagai poster tuntutan pada Senin (17/2) malam sekitar pukul 21.00 WIB.
Salah seorang ahli waris, Dedi mengaku terpaksa melakukan penyegelan lantaran tuntutannya soal sebagian lahan yang diklaim miliknya tidak digubris. Dedi ketika dikonfirmasi mengatakan, sejak 2010 lalu dirinya telah melayangkan surat kepada Dinas Pendidikan dan Kantor BPN Kota Tangerang, yang menyatakan bahwa SDN Panunggangan adalah seluas 1.686 meter, dimana 686 di antaranya milik keluarganya.
“Yang menjadi aset Pemkot Tangerang atas tanah di SDN Panunggangan 3 ini semuanya 1000 meter. Sementara sisanya sebanyak 686 meter itu miliki keluarga kami, ini dibuktikan dengan kepemilikan girik/C. No. 1333, persil 92.D.III a/n Tjimah Tipis,” ujar Dedi.
Karena tidak ada tanggapan dari Pemkot Tangerang lanjut Dedi, ia terpaksa menyegel gerbang sekolah tersebut. Penyegelan ini jelasnya bukan berarti akan menguasai semua lahan sekolah, tapi hanya sebagian tanah milik keluarga.
“Aksi penyegelan ini kami lakukan, bukan untuk melawan Pemkot Tangerang, tapi hanya menuntut dari luas tanah yang dimaksud untuk dikembalikan kepada keluarga kami,” jelas Dedi.
Udin salah seorang murid kelas 6 mengaku tidak mengetahui pemberitahuan sebelumnya. Dia dan teman-temannya kaget tiba-tiba sekolah meliburkannya.
“Tadi saya sama teman-teman sudah datang ke sekolah. Tapi disuruh pulang lagi kata guru karena hari ini libur,” ucapnya dengan nada polos.
Pantauan di lokasi, beberapa wali murid yang tinggalnya tak jauh dari sekolah itu, nampak mengecek kebenarannya. “Saya mau cek saja, karena takut anak-anak pada bohong. Mereka bilangnya cuma libur saja soalnya,” kata Latif, salah seorang wali murid di lokasi.
Sebenarnya, kata Latif, dirinya sedikit menyayangkan penyegelan itu. Sebab, apapun permasalahannya, harus juga melihat dari sisi kebutuhan pendidikan ratusan murid di sekolah itu.
Kepala UPTD Kecamatan Pinang Maryasan mengungkapkan, hal itu tidak perlu lagi diperdebatkan lagi, karena pihaknya sudah melakukan musyawarah dengan lurah setempat, ahli waris, Sekretaris Camat (Sekcam) Pinang, UPTD, Kasi Pembangunan kecamatan serta Babinsa.
“Dari hasil musyarawah itu, akhirnya ahli waris bersedia membuka sekolah itu,” tukasnya.
Maryasan menambahkan, adapun permasalahan tuntutan dari pihak ahli waris akan ditangani oleh Pemkot Tangerang. “Saya sudah koordinasikan masalah ini ke Bagian Hukum,” pungkasnya. (jojo/mg-18/made/satelitnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.