TNUK Mau Dipagar

Selamatkan Badak Jawa dari Kepunahan
PANDEGLANG,SNOL Antisipasi penyelamatan populasi badak jawa dari kepuna­han gencar dilakukan. Pengelola Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) berencana membangun pagar di setiap batas kawasan itu.
Salah satu cara yang akan dilakukan adalah dengan membangun batas khusus atau JRSCA. Program itu difokuskan un­tuk membangun pagar wilayah timur. Ada dua segmen pembangunan, yaitu segmen Utara sepanjang 5,3 Km dari Cilintang-Cimahi yang sudah selesai dibangun.
“Kini pindah ke segmen Selatan antara Tanjung Sodong ke Bangkonol,” ungkap Kepala Balai TNUK, Haryono.
Sedangkan segmen tengah sengaja tidak dipagar, karena merupakan perbukitan ter­jal dan tidak akan bisa melewati lokasi itu. Kawasan badak jawa perlu dipagar, karena salah satu tujuannya supaya hewan yang dilindungi pemerintah itu tidak keluar dari area JRSCA dan masyarakat tidak masuk ke area itu.
“Keberadaan badak dan kerbau dalam satu tempat, berpotensi adanya penularan suatu penyakit yang dapat membahayakan populasi badak,” terangnya kemarin.
Fungsi kedua dari JRSCA, untuk me­ningkatkan proses perkembangbiakan. Adanya wilayah sempit yang dipagar, dimungkinkan frekwensi perkawinan akan lebih meningkat. Sehingga bisa terus berkembang biak dan populasinya bertambah.
Tujuan lainnya adalah untuk eko tourism. Artinya, badak jawa itu nanti bisa dilihat di daerah JRSCA. Rencananya pengelola TNUK akan mendirikan bangunan sejenis canopy trail antara pohon ke pohon atau tower tinggi, agar pengun­jung bisa melihat badak tersebut. “Target JRSCA sendiri sebetulnya Maret ini akan dilaunching, tapi karena faktor cuaca kemungkinan akan mundur,” tambahnya.
Luas kawasan JRSCA itu, imbuhnya, sekitar 4000 – 5000 hektar. Dengan ketinggian pagar mencapai 1,6 meter dibeton, dilengkapi dengan sling 4 buah tanpa aliran listrik, dan 3 sling lainnya yang dilengkapi aliran listrik. Sehingga jika ada badak yang menabrak akan dikejutkan dan kembali ke area aslinya.
Diberitakan, Badak Jawa atau Badak Cula Satu (Rhinoceros Javanicus), salah satu satwa paling langka di dunia yang menghuni kawasan TNUK, diketahui bertambah tujuh jumlahnya. Dari tahun ke tahun, Badak Jawa terus bertambah. Di tahun 2011, ditemukan 35 individu, di tahun 2012 ditemukan minimal 51 individu dan di tahun 2013, ditemu­kan minimal 58 individu. Seperti telah diberitakan, Badak Bercula Satu (Rhinoceros Javanicus), salah satu satwa paling langka di dunia yang menghuni kawasan TNUK, diketahui bertambah tujuh jum­lahnya.
Dari tahun ke tahun, jumlah Badak Jawa terus bertambah. Di tahun 2011, ditemukan 35 individu Badak Jawa, terdiri dari 22 individu jantan dan 13 individu betina. Dari populasi terse­but, terdapat lima individu anak Badak Jawa (masih bersama induknya). Jumlah tersebut meningkat di tahun 2012. Ber­dasarkan hasil identifikasi terhadap video klip yang dipasang di TNUK, ditemukan minimal 51 individu badak jawa, terdiri dari 29 individu jantan dan 22 individu betina. Dari populasi tersebut terdapat 8 individu anak badak jawa.
Sementara di tahun 2013, ditemukan kesimpulan terjadi penambahan tujuh Badak Jawa dibandingkan tahun sebe­lumnya hingga menjadi 58 individu, terdiri dari 35 jantan dan 23 betina. Dari populasi tersebut, terdapat 8 individu anak dan 50 individu remaja -dewasa.
Haryono, Kepala Balai TNUK dalam jumpa pers hasil monitoring Badak Jawa tahun 2013 di Pandeglang, kemarin mengungkapkan, di tahun 2011 dan 2012, pemantauan populasi Badak Jawa dilaku­kan dengan menempatkan 40 kamera video jenis trophycamp pada lokasi yang sering dikunjungi badak jawa. Sementara di tahun 2013, monitoring dilakukan dengan mengoperasikan 120 unit kamera video mulai bulan Maret sampai Desem­ber 2013 atau selama 10 bulan. (mardi­ana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.