Emily Zoe Hertzman, Peneliti Kanada yang Jadi Bagian Rumah Pusaka Marga Tjhia

SEBAGAI anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia, Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), memang punya seabrek pusaka. Salah satunya adalah rumah marga Tjhia yang berumur ratusan tahun yang salah satu penghuninya adalah Emily Zoe Hertzman, antropolog dari Kanada.
DOAN WIDHIANDONO, Singkawang
RUMAH keluarga Tjhia serasa diabadikan waktu. Bentuk dan struktur bangunannya masih sama sebagaimana ia dibangun lebih dari seabad lalu.
Pada papan penanda yang didirikan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Singkawang tertulis bahwa Rumah Marga Tjhia dibangun pada 1902. Umurnya mencapai 112 tahun.
”Tapi, terdapat peta pada 1887 yang menunjukkan bahwa bangunan ini sudah ada di tepi sungai itu,” kata Emily Zoe Hertzman disambangi beberapa waktu lalu.
Perempuan 34 tahun itu membuat suasana kontras yang elok dan penuh nuansa pluralisme pada cagar budaya di jantung Kota Singkawang tersebut. Dia adalah perempuan kulit putih, berambut pirang, dengan bola mata biru yang dalam. Bule banget.
Dengan mengenakan kaus hitam yang bersahaja, Emily keluar tanpa alas kaki dari sebuah rumah kuno yang berarsitektur Tionghoa. Terlebih, saat bercakap-cakap, dia memakai bahasa Indonesia yang apik diselingi bahasa Tionghoa dialek Khek (Hakka) yang medok. Tentu, sesekali ada kosa kata bahasa Inggris -bahasa ibunya- yang menyeruak.
Selama beberapa lama, alumnus Departemen Antropologi Universitas Toronto, Kanada, itu mengajak Jawa Pos mengelilingi rumah kuno nan apik tersebut. Secara fasih, dia menjelaskan bagian per bagian rumah yang seluruhnya dibangun memakai kayu belian (ulin) tersebut.
Kompleks Rumah Marga Tjhia seluas 5.366 meter persegi itu dirintis Chia Siu Si (mandarin: Xie Shou Shi). Dia adalah imigran asal Tiongkok Selatan yang mengadu nasib sampai ke Asia Tenggara hingga berlabuh ke Singkawang.
Saat sukses dan punya tujuh putra, dirinya membangun sebuah rumah besar. Dengan begitu, setiap putranya bisa tinggal bersama sebagai satu kesatuan. “Arsitektur rumahnya unik. Tidak murni Tiongkok. Ada juga pengaruh Belanda di sini,” ungkap Emily.
Bangunan paling depan adalah ruang bertingkat yang dulu difungsikan sebagai kantor untuk menerima jual-beli hasil laut. Setelah itu, ada halaman luas yang membatasi bangunan depan tersebut dengan bangunan induk.
Kini bangunan induk itu difungsikan sebagai kelenteng. Tetapi, Emily mengungkapkan bahwa ada studi tentang desain interior yang berteori bahwa di bangunan induk tersebut dulu terdapat kursi untuk menerima tamu yang dikelilingi enam pintu kamar.
Kepada keturunannya, Chia Siu Si mewariskan masing-masing dua pintu yang tidak boleh dibagi-bagikan. Sekarang bangunan induk itu dikelilingi rumah-rumah kayu bak perkampungan komunal. Rumah-rumah tersebut menyambung jadi satu dan membentuk tapal kuda (huruf U) yang mengitari sisi kanan-kiri-belakang bangunan induk.
Sekarang ada 10 keluarga yang tinggal di situ. Semua hidup bersama sebagai satu kampung komunal yang masih satu keturunan. Saat ini Rumah Marga Tjhia dikelola Yayasan Keluarga Tjhia Hiap Seng. Yayasan itulah yang bertanggung jawab menjaga rumah plus mengupayakan pelestariannya.
“Jarang di Indonesia ada yang seperti ini. Ada keluarga Tionghoa yang tinggal seperti di kampung kecil, secara komunal, dan tidak tinggal di ruko,” katanya.
Emily bukan orang asing di Rumah Marga Tjhia tersebut. Dia menikah dengan Chia Khun Nyian alias Tedy, keturunan kelima Chia Siu Si. Mereka sudah punya putri, Carmela Tedy Hertzman, yang berumur lebih dari 9 bulan.
Perempuan kelahiran Hamilton itu memang tertarik terhadap kebudayaan Tiongkok. Terutama setelah dia besar di Vancouver, kota yang punya banyak sekali imigran Tionghoa. Baik dari Tiongkok maupun Hongkong. Ketika kuliah, dirinya sengaja berpetualang ke Indonesia sebagai turis. (*/c14/diq/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.