Jual Beli Kursi Haji di Kemenag Masih Ada

JAKARTA,SNOL Dalam beberapa tahun ke depan, kuota haji Indonesia semakin langka. Pasalnya pemerintah Arab Saudi memotong kuota haji Indonesia sebesar 20 persen dari kuota normal.
Akibatnya menyuburkan praktek jual-beli kursi haji di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag).
Sejumlah pegawai di bagian Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kemenag saat ini sedang diperiksa oleh Inspektorat Jenderal (Itjen) selaku pengawas internal. Penyebabnya mereka diduga menjual kursi haji yang tidak dipakai calon jamaah haji, kepada calon jamaah haji lainnya. Diduga ada transaksi puluhan juta rupiah dalam praktek kotor ini.
Irjen Kemenag Mochammad Jasin mengakui bahwa saat ini pemeriksaan terhadap beberapa orang Siskohat itu masih berlangsung.
“Kejadiannya adalah menjual kursi yang tidak terisi pada kuota haji 2013 lalu,” ujar mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.
Jasin menuturkan diantara beberapa orang yang diperiksa itu, sudah ditetapkan satu pegawai positif menjual kursi haji. Sayang dia tidak bersedia membeber identitas pegawai itu. Dia hanya memastikan bahwa pegawai itu ada di bagian operator Siskohat dan bukan unsur pejabat teras.
Karena sampai saat ini proses pengusutan Itjen Kemenag masih berlangsung, Jasin sangat irit memberikan komentar. Termasuk apakah praktek jual-beli kursi haji ini melibatkan unsur pimpinan Kemenag, dia ogah membicarakan lebih jauh. “Audit masih berjalan, jadi belum bisa menyimpulkan (ada keterlibatan pejabat Kemenag, red),” jelas dia.
Jasin juga tidak bersedia membeber berapa jumlah pegawai Siskohat yang sedang menjalani proses audit transasksi kursi haji itu. Dia menuturkan bahwa selama proses audit masih berlangsung, dia berpegang pada asas praduga tak bersalah (presumption of innocent).
Ia mengatakan satu orang yang sudah tuntas menjalani pemeriksaan itu, akhirnya divonis dibebastugaskan dari jabatannya di tim Siskohat Kemenag.
Menurut Jasin, saat ini tim Itjen Kemenag terus menggeber audit Siskohat. Sebab banyak sekali tudingan terjadi praktek jual-beli kursi haji di dalamnya. Dengan cara audit ini, dia mengatakan akan menemukan oknum operator komputer yang nakal. “Operator-operator seperti itu harus diberi tindakan tegas. Karena pelanggaraanya berat,” jelas dia.
Apalagi di masyarakat, saat ini antrian haji sudah luar biasa panjangnya. Sehingga praktek jual beli kursi haji, bisa membuat kepercayaan masyarakat terhadap Kemenag turun.
Menurut Jasin keberadaan Siskokhat sangat penting. Sebab melalui Siskohat itulah, bisa diketahui siapa saja calon jamaah haji yang berhak berangkat. Dengan sedikit mengotak-atik database Siskohat, calon jamaah haji yang sejatinya berangkat sepuluh tahun lagi, bisa berangkat tahun ini juga. Caranya adalah kongkalikong dengan oknum petugas komputer siskohat.
Secara teknis, praktek ini sulit dipantau oleh pimpinan Kemenag. Sebab nama-nama calon jamaah haji sangat banyak sekali. Biasanya laporan berkala kepada jajaran pimpinan Kemenag hanya berupa angka-angka jumlah antrian calon jamaah haji.
Selain modus mengutak-atik database Siskohat, praktek jual beli kursi haji biasanya dilakukan untuk mengisi kursi calon jamaah batal berangkat pada waktunya. Misalnya karena meninggal, sakit kronis, atau alasan lainnya.
Untuk berjaga-jaga, setelah mendapatkan nomor porsi haji seluruh calon jamaah dianjurkan mengecek perkiraan atau estimasi tahun keberangkatnya. Jika suatu ketika terjadi perubahan, bisa diduga kuat telah digeser oleh calon jamaah haji yang melakukan patgulipat dengan petugas Siskohat Kemenag.
Pergeseran kuota haji hanya terjadi dalam keadaan darurat. Seperti yang terjadi saat ini, ketika kuota nasional dipotong besar-besaran oleh Arab Saudi. Akibatnya calon jamaah haji yang batal berangkat tahun lalu, menggeser calon jamaah haji yang sejatinya berangkat tahun ini. Kemudian calon jamaah haji yang batal berangkat tahun ini, akan menggeser sejumlah calon jamaah haji yang seharusnya berangkat tahun depan.(wan/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.