Kejari Bidik Dugaan Korupsi Bansos

10 Pengelola Yayasan Dimintai Keterangan
PANDEGLANG,SNOL Kejak­saan Negeri (Kejari) Pandeglang selidiki kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (Bansos)/ Hibah Pemprov Banten tahun 2011. Hingga kini, sudah 10 dari ratusan yayasan penerima dana bantuan hibah tersebut.
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Pandeglang Sitti Ratnah mengatakan, penyeli­dikan dilakukan karena awal pada Februari lalu pihaknya menerima laporan dari penerima dana Bansos/hibah itu. Dua minggu kemudian pihaknya mengeluar­kan Surat Perintah Penyelidikan (Sprindik), sebagai prosedur dimulainya penyelidikan.
“Dari 10 yayasan yang sudah kami periksa, rata-rata yayasan yang bergerak dibidang ke­agamaan. Sedikitnya, 10 orang lebih sudah kami mintai keterangannya,” kata Ratnah, Senin (3/3), seraya enggan merinci nama-nama yayasan dimaksud.
Dana Bansos/hibah yang disalurkan rata-rata sekitar Rp500 juta. Bahkan ada beberapa yayasan yang menerima sebesar Rp1,5 Miliar. Dari total bantuan itu tidak semuanya diterima oleh pihak penerima bantuan. Potongannya berkisar antara 10-60 persen dari total nilai bantuan yang seharusnya.
Disinggung soal target penyelidikan, Ratnah menyatakan pihaknya akan berusaha maksimal untuk memprosesnya. Dengan segala kemampuan, kekuatan dan bahan keterangan yang dimiliki, proses penyelidikan akan berjalan sesuai prosedur atau aturan perun­dang-undangan yang berlaku.
“Kami hanya memproses ban­tuan yang penerimanya khusus di wilayah Pandeglang, bukan di daerah lain,” tambahnya.
Hasil penyelidikan sementara, beberapa yayasan penerimanya fiktif alias tidak sesuai dengan alamat yang tertera dalam berkas penerima dana Bansos/Hibah tersebut. Hal itu menjadi kendala untuk menelusuri serta meminta keterangan pihak penerimanya.
Belum diketahui pasti, berapa kerugian Negara dan jumlah dana Hibah/Bansos yang dikucurkan ke wilayah Pandeglang karena proses penyelidikan masih berlangsung. Pihaknya menghimbau kepada pihak yang menerima bantuan itu untuk secara kooperatif datang ke kejaksaan, guna memudahkan proses penanganannya.
Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Pandeglang Masmudi menambahkan, dugaan korupsi Bansos/Hibah ini, diduga kuat sudah terencana, terstruktur dan sistematis. Yang dikorbankan adalah penerima bantuan itu sendiri. Bahkan beberapa penerima yang sudah dimintai keterangan­nya dikejaksaan mengaku hanya menandatangani kwitansi kosong.
“Ada juga yang sama sekali ti­dak tahu jika yayasannya terdaftar sebagai penerima dana Bansos/ Hibah. Tahu-tahu orang yang bersangkutan diminta menandatangani kwitansi,” ujarnya.
Kasus ini masih butuh pendala­man dan pengembangan. Pi­haknya akan menelusuri penerima lainnya. Setelah dianggap cu­kup barang bukti atau kejaksaan berhasil mengumpulkan minimal dua alat bukti, maka proses akan ditingkatkan ke penyidikan. (mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.