Kantor Balai Besar Dilempari Telur Busuk

Nyaris Bentrok dengan Keamanan
PANDEGLANG,SNOL Sejum­lah mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Babunnajah (SPB) Pande­glang, terlibat adu otot dan nyaris bentrok dengan petugas keamanan dan staf Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWSC-3) Dinas Pekerjaan Umum Dirjen Sumber Daya Air (SDA).
Kericuhan terjadi ketika massa yang awalnya melaku­kan orasi di depan gerbang BBWSC-3, kesal karena aspirasinya tidak ditanggapi oleh pejabat setempat. Mereka juga nekad naik pagar dan masuk ke halaman dalam kan­tor balai besar itu. Salah satu pendemo sempat melempari kantor BBWSC-3 dengan telur busuk, sebagai simbol kekece­waan dan kekesalan pendemo. Ketika pendemo masuk, para petugas keamanan dan staf Balai Besar langsung maju menghalangi pendemo. Na­mun, pendemo melakukan per­lawanan sambil terus berorasi menyampaikan aspirasinya menggunakan pengeras suara (Toa). Beruntung kericuhan tidak berlangsung lama karena langsung diredam oleh aparat kepolisian yang turut mengawal serta mengamankan jalan­nya aksi. Satu persatu pendemo digiring keluar lingkungan perkantoran oleh polisi.
Dalam aksinya, pendemo menuntut KPK agar oknum pe­jabat di lingkungan BBWSC-3 segera ditangkap, termasuk mitra perusahaan yang beker­jasama dengan pihak balai yakni PT Wijaya Karya (Wika) dan oknum PT Adhi Karya, lantaran diduga terindikasi melakukan korupsi .“Kami minta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun ke Pan­deglang, tangkap oknum peja­bat di lingkungan BBWSC-3 yang merampas uang rakyat dan menghisap darah rakyat Pandeglang,” kata Arif Ekek, orator aksi, Selasa (4/3).
Proyek pengadaan sarana umum khususnya di wilayah Pandeglang selatan, seperti pembuatan tanggul, sodetan dan mega proyek dengan nilai miliaran rupiah lainnya, tidak ada yang selesai serta tidak ada manfaatnya terhadap masyara­kat sekitar dan Pandeglang khususnya dan umumnya untuk warga Banten.
“Aparat penegak hukum seperti Polri dan Kejaksaan juga, kami minta turun tangan mengusut tuntas dugaan tindak pidana korupsi di BBWSC-3 yang ada di Kabupaten Pande­glang,” tambahnya.
Orator lainnya Ade, mengatakan pemerintah harus tegas ketika melihat penin­dasan terhadap rakyat. Jangan sampai program nasional ataupun daerah yang bertujuan mensejahterakan masyarakat, malah menjadi petaka bagi ma­syarakat. Rakyat yang menjadi hakim, karena katanya, rakyat pemilik sah negeri ini.
“Segala bentuk penindasan harus dihanguskan. Tangkap koruptor di BBWSC-3 yang menyengsarakan rakyat dan peng­hisap darah rakyat,” teriaknya.
Pegawai atau staf yang ditemui di BBWSC-3, eng­gan mengomentari apa yang menjadi tuntutan pendemo. Mereka meminta konfirmasi langsung ke provinsi atau kementrian Pusat, “Maaf, kami nggak ada kewenangan mem­berikan pernyataan. Silahkan konfirmasi ke provinsi atau ke pusat,” ujar sumber yang enggan dikorankan namanya. (mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.