Lakalantas, 22 Orang Tewas

Penyebab Jalan Rusak, Ugal-ugalan dan Tanpa Penerangan
PANDEGLANG,SNOL Angka kecelakaan lalulintas di wilayah Pandeglang, terbilang tinggi. Selama dua bulan saja (Januari-Februari), sedikitnya 22 orang meninggal dunia (MD) akibat kecelakaan di jalan raya. Sekitar 14 orang luka berat (LB), 65 orang luka ringan (LR) dan kerugian materi mencapai Rp104,8 juta.
Kasat Lantas Polres Pandeglang AKP Ari Satmoko mengatakan, jumlah pelanggaran salama bulan Januari-Februari tercatat 2.172 pelanggaran jenis tilang dan 8.396 pelanggaran jenis teguran. Masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya mematuhi aturan rambu lalu lintas agar pengendara selamat di jalan raya.
“Kami berupaya maksimal untuk mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat, agar tetap menjaga keselamatan saat berkendara.
Selain turun ke sekolah tingkat SMP/SMA, kami juga lakukan kepada para tukang ojek, sopir angkutan umum dan kalangan lainnya. Dibantu dengan pemasangan himbauan disejumlah titik strategis,” kata Ari Satmoko, Minggu (9/3).
Kasat Lantas juga mengingatkan, hampir seluruh ruas jalan di wilayah Pandeglang rawan kecelakaan. Selain karena jalannya berlubang, bergelombang, gelap, juga akibat minimnya rambu-rambu peringatan serta masih banyaknya pengendara yang ugal-ugalan di jalan raya.
Pengendara yang tidak membawa Surat Izin Mengemudi (SIM), STNK dan kelengkapan berkendara lainnya, biasanya akan sembunyi-sembunyi atau bahkan terpaksa menghindari jalur yang dijaga petugas polisi. Sehingga, tanpa disadarinya pula jalur yang dilewati itu ternyata rawan kecelakaan.
“Kalau pengendara yang taat aturan, nggak pernah takut sama Polantas karena polisi yang berjaga di pos, patroli dan mengawal lalulintas di jalan raya, sudah tugas dan fungsinya sesuai kewajibannya mengamankan jalur,” tambahnya.
Kanit Laka Satlantas Polres Pandeglang Ipda Tulus menambahkan, dalam penanganan kasus laka lantas, pihaknya mengacu pada aturan perundang-undangan yang berlaku yaitu undang-undang lalulintas dan peraturan berkendara di jalan raya. Sehingga, jika terjadi kecelakaan di salah satu titik, maka pihaknya akan mudah dan secepatnya mengidentifikasi lokasi.
“Kami juga bekerjasama dengan anggota di setiap Polsek. Kami berharap, tingkat kecelakaan bisa terus ditekan, melalui gerakan kesadaran bersama dalam berlalulintas dan mematuhi rambu-rambu,” ujarnya.
Sosialisasi ke sekolah-sekolah dilakukan secara rutin antara 1-3 bulan. Dengan tingkatan sekolah yang berbeda dan lokasi sekolahnya yang berbeda pula. Kalangan remaja seusia anak sekolah SMP/SMA masih senang ugal-ugalan atau balap liar di jalan raya.
Ada sekitar 5 titik yang diperketat pengawasannya oleh pihak kepolisian, karena kerap dijadikan lokasi trak balap liar, yaitu jalur Saruni-Majasari, Cikondang- Sukarela, Stadion Badak- Saruni, Cigadung-Kadubanen dan Cadasari. Hampir setiap malam Sabtu dan Minggu, lokasi tersebut diramaikan dengan aksi balap liar.
Jika dibiarkan, hal itu sangat membahayakan dan meresahkan masyarakat. Sehingga pihaknya juga meminta kepada masyarakat lain berperan serta membantu mengawasi aksi liar tersebut. “Kalau ketauan anggota pasti dibubarkan, dan patrol kami 24 jam mengawasi lokasi itu,” imbuhnya. (mardiana/ jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.