Putri Sultan Cirebon Nikahi Pemuda Biasa

CIREBON,SNOL Nuansa putih menyelimuti Bangsal Prabayaksa, Keraton Kasepuhan Cirebon, tempat dimana Muhammad Akbar SIp mengucap janji suci menikahi Ratu Raja Siti Fatimah Nurhayani Natadiningrat SIKom, putri kedua Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat SE dan RAS Isye Natadiningrat, Kamis (13/3).
Tepat pukul 14.00 WIB, janji suci itu diucapkan. Wajah Akbar terlihat tegang. Dengan Bahasa Cirebon halus (bebasan), ijab yang diucapkan Sultan Sepuh dijawab dengan qobul yang lugas dan tegas oleh Akbar. Saat acara sakral itu, Akbar juga terlihat menitikkan air mata.
Ditemui usai akad nikah, pasangan suami istri ini mengaku bahagia. Diakui Akbar, saat mengucapkan qobul, dirinya merasa terharu.
“Terharu campur bahagia, campur aduk rasanya,” ungkap putra dari H Sudirman dan Hj Yeti Maryeti itu.
Selain seperangkat alat shalat sebagai mas kawin, ada koin uang 3 dinar dan 41 gram emas yang diberikan Akbar untuk Siti Fatimah. Pemilihan dinar sebagai mas kawin diakui Akbar untuk mengikuti sunnah Rasul.
Sama halnya dengan yang dialami Akbar, Siti Fatimah pun mengaku terharu saat menjalani prosesi akad nikah. “Sedih, terharu, tapi seneng sekarang saya sudah punya suami,” ungkap wanita yang akrab disapa Ratu Putri.
Ditanya soal momongan, Ratu Putri menginginkan tiga orang anak. Namun, keduanya berserah diri kepada Allah SWT soal jumlah momongan.
“Pengennya sih 3, tapi apa dikasihnya aja. Nggak nunda-nunda kok,” kata Ratu.
Prosesi akad nikah dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran, kemudian khutbah nikah oleh Kepala Kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, dan hadir sebagai saksi pengantin wanita Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar.
Saat pengucapan ijab qabul, Akbar tidak didampingi Ratu Putri. Usai ijab qobul dibacakan dan dinyatakan sah oleh para saksi, Ratu Putri baru memasuki ruangan akad nikah dan sungkem kepada Akbar, istilahnya tradisi ‘Temon’. Kedua mempelai terlihat sumringah dengan wajah yang berseri-seri usai prosesi ‘menegangkan’ terlalui.
Prosesi dilanjutkan dengan adat pernikahan yang menggunakan Bahasa Cirebon dan Bahasa Indonesia. Kedua mempelai pertama-tama sungkem kepada kedua orang tua masing-masing. Lalu melakoni prosesi adat injek tigan, banting kendi tutupe tigan dan adep-adep sekul.
Sultan Sepuh PRA Arief Natadiningrat mengaku bahagia atas pernikahan putrinya. “Alhamdulillah akad nikahnya lancar. Ini pertama kali saya jadi wali. Mungkin yang pertama sekaligus terakhir, karena saya cuma punya anak perempuan satu-satunya. Sempat tegang juga sih tadi,” ungkap Sultan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Dedi Mizwar turut senang bisa menjadi saksi nikah. “Saya diundang Sultan Sepuh, alhamdulillah bisa melihat dan menjadi saksi nikah pernikahan putrinya. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah,” ujarnya. (mik/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.