Demi Pesangon, Segel Gudang

Nasib Eks Karyawan Batavia Air
TANGERANG, SNOL Nasib 3.000 karyawan eks Batavia Air semakin tidak jelas. Satu-satunya harapan mereka untuk mendapat pesangon dari dari sparepart menimbulkan keraguan. Pasalnya estimasi awal nilai sparepart yang mencapai Rp 200 miliar ternyata kini hanya tinggal Rp 50 miliar saja.
Oleh sebab itu, puluhan eks karyawan Batavia Air tersebut kembali mendemo gudang logistik penerbangan tersebut di Pergudangan Bandara Mas, Kecamatan Neglasari, Minggu (16/3) pagi. Dalam aksi tersebut, para mantan karyawan menyegel gudang logistik dengan mencoretnya menggunakan cat semprot. Aksi itu, dilakukan karena pemberesan aset pailit yang dilelang oleh kurator untuk pembayaran utang para kreditur menemui banyak kendala. Akibatnya, pesangon para karyawan tidak kunjung diberikan sejak perusahaan itu dinyatakan pailit pada 30 Januari 2013 silam.
“Keadaan seperti ini sangat meresahkan eks karyawan. Sebab, jika dibiarkan, maka pesangon untuk 3.000 karyawan hanya berupa impian belaka,” ujar kuasa hukum eks karayawan Batavia Air, Odie Huditanto, Minggu (16/3). Odie menjelaskan, spare part yang diklaim PT Metro Batavia bernilai sekurangnya 200 miliar. Namun, setelah dihitung oleh tim appraisal independen, ternyata nilainya menyusut, kurang dari Rp 50 miliar.
“Yang mengejutkan lagi, Nurmelinda, salah satu kepercayaan debitur yang ditugaskan untuk menjaga gudang sparepart itu secara mendadak berhenti pada 3 Maret 2014 lalu tanpa melakukan serah terima pekerjaan pada kurator. Dan diikuti juga oleh 12 staf yang di bawah dia,” ucapnya. Atas sikap bertanggungjawab itu lanjut Odie, pihaknya menuntut Nurmelinda dan para stafnya secara hukum, atas susutnya nilai aset spare part yang sebelumnya diklaim senilai Rp 200 miliar.
Untuk itu sambung Odie, pihaknya akan mendatangi Pengadilan Niaga di Jakarta Pusat pada Rabu 19 Maret 2014 mendatang. Hal ini guna meminta kepada hakim pemutus dan hakim pengawas, agar segera memberikan penetapan terhadap aset milik PT Metro Batavia berupa Kantor Pusat Batavia Air di Jalan Juanda, Jakarta Pusat senilai Rp 60 miliar serta gudang logistik di Pergudangan Bandara Mas senilai Rp 20 miliar. “Dari penjualan kedua aset di atas, maka sudah 50 persen pesangon karyawan senilai Rp 150 miliar akan terbayarkan,” imbuhnya.
Para karyawan ini mengancam akan kembali menduduki dan menguasai gedung di Jalan Juanda, Jakarta sampai proses lelang dilaksanakan dengan target penjualan selambatnya di bulan April 2014. “Kami tunggu sampai Mei 2014 untuk penjualan seluruh boedel selesai dan membayar pesangon karyawan. Setelah itu, kami akan meminta PPATK) untuk menelusuri pinjaman dari Bank Muamalat ke PT Metro Batavia,” pungkasnya. (jojo/made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.