Sopir Baik Hati Ditembak Polisi

Di Pandeglang, Dipaksa Akui Terlibat Pencurian Motor
PANDEGLANG,SNOL Tar­tusi meringis menahan sakit akibat luka tembakan di be­tis kanannya. Kemarin dini­hari, warga Kampung Putat Desa Koranji Kecamatan Ca­dasari Kabupaten Pandeglang ditembak kakinya setelah di­tuduh polisi terlibat dalam ke­jahatan pencurian kendaraan bermotor. Anehnya di hari yang sama, pria yang bekerja sebagai sopir truk tersebut langsung menjalani operasi pengangkatan proyektil di RSUD Tangerang dan dipu­langkan ke kediamannya.
Berdasar informasi, Tartusi sedang asyik tidur ketika ru­mahnya yang terletak di be­lakang kantor Desa Koranji Kecamatan Cadasari Kabu­paten Pandeglang diketuk orang Minggu (16/3) dinihari sekira pukul 01.30 WIB. Istri Tartusi, Aas Asliah kemudian membukakan pintu untuk me­lihat tamu. Aas bertemu dengan empat orang tamu yang mengaku sebagai anggota polisi dari Polresta Tangerang dan mencari suaminya. Para polisi itu kemudian bertemu Tartusi. Ayah dua anak itu diborgol dan dibawa ke mo­bil yang sudah menunggu di jalan raya sekitar 100 meter dari rumahnya. Saat hendak naik mobil, ayah dua anak itu berontak dan mengelak ter­libat kasus kejahatan. Polisi kemudian menembak betis kanannya.
“Pas saya mau dinaikan ke dalam mobil polisi itu, saya pegangan ke pintu mobil menolak untuk dibawa. Akh­irnya salah seorang dari mer­eka menembak saya di bagian betis ini,” kata pria berbadan sedang ini sambil menunjuk­kan luka tembakan di betis­nya, Minggu (16/3) siang. Setelah itu, Tartusi dinaikkan ke dalam mobil dan dibawa menuju arah Serang. Selama di perjalanan, dia mengaku mendapatkan intimidasi dan perlakuan tidak wajar dari anggota polisi. Kepalanya ditutupi topeng dan terus menerus dipaksa mengakui keterlibatannya dalam kasus pencurian kendaraan bermo­tor. Pria yang kerap disapa Entus itu sempat hendak diturunkan di SPBU Ciceri-Serang. Tapi karena luka tem­bakan di betis dan serta luka bekas borgol di tangannya, Entus dibawa ke Tangerang untuk menjalani operasi pen­gangkatan proyektil peluru di RSUD Tangerang. Selanjut­nya, Entus diantarkan kembali pulang dan tiba di rumahnya sekira pukul 10.00 pagi.
Akibat luka tembak di kaki kanannya, saat ini Entus han­ya bisa duduk. Dia sulit ber­jalan karena luka di betisnya yang masih dibalut perban terasa perih.
“Saya sudah bilang be­berapa kali kalau saya tidak tahu masalahnya tapi tetap saja saya diperlakukan seperti penjahat,”tambahnya. Peristi­wa penembakan Tartusi men­jadi buah bibir warga sekitar. Keluarga besar, warga dan para tetangga merasa tidak ter­ima dengan perlakuan yang di­alami Tartusi dan keluarganya. Soalnya, dalam ‘penjemputan’ Tartusi, polisi sempat meno­dongkan senjata laras panjang ke arah istri dan tetangga yang menyaksikannya.
“Saya saja ditodong pak, saya takut. Sedih lihat suami dibawa polisi tiba-tiba malah pulang-pulang dia sudah luka dikakinya,” ujar Aas, istri Tartusi. Salah seorang warga yang juga tetangga korban, Encup Sobali mengaku sem­pat mendengar letupan tem­bakan ke udara beberapa kali sehingga ia kaget. Encup sempat melihat keluar untuk mengetahui apa yang terjadi. Tapi pas ia mendekat lokasi, malah ditodong senapan oleh anggota tersebut.
“Pak Entus itu orang baik hati pak. Dia sopir truk. Ng­gak mungkin dia berbuat jahat atau berurusan sama kepoli­sian, saya juga kaget dengan kejadian ini,” akunya. Kepala Desa Koranji Jubaedi me­nambahkan, ia dan beberapa anggota keluarga serta warga setempat mendatangi Mapol­sek Cadasari untuk mengk­oordinasikan peristiwa terse­but. Jubaedi khawatir warga main hakim sendiri.
“Memang saya sudah koor­dinasi dengan Kapolsek Ca­dasari, mencoba meminta arahan bagaimana solusi atau jalan keluar dari masalah ini. Karena keluarga besar dan warga juga tidak terima dengan kejadian itu,” imbuhnya sera­ya mengatakan, musyawarah dengan pihak Polsek tidak me­nemukan titik temu.
Kapolsek Cadasari AKP Boy Rafli enggan berkomentar soal kejadian itu. Ia tidak menge­luarkan komentar apa-apa ke­pada awak media. Pantauan di rumah korban, hingga pukul 17.00 WIB, korban dan kelu­arga besar serta warga sekitar masih berkumpul di rumah kor­ban. Mereka bingung sekaligus memberikan dukungan moril kepada korban dan keluarga besarnya. (mardiana/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.