Cacing Pun Bisa Menghasilkan Rezeki di Cisadane

Dari Talkshow Tiga Pemimpin Muda Membangun Tangerang (2)
SNOL. Tidak dipungkiri, keberadaan kali Cisadane begitu penting buat masyarakat Tangerang. Sungai bersejarah yang bermuara di Tanjung Bu­rung, Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, itu menjadi andalan kehidupan masyarakat sekitar, terutama Kota Tangerang Sela­tan, Kota Tangerang dan Kabu­paten Tangerang.
Pengamat dari media yang menjadi pembicara pada Talk­show Tiga Pemimpin Muda Membangun Tangerang, H Hari Prastowo Alfaiz mengatakan, sungai Cisadane merupakan sumber rezeki bagi siapa saja. Menurut dia, di bantaran Cisa­dane terdapat orang-orang yang mengais rezeki dengan mencari cacing. “Ini membuktikan bah­wa kemanfaatan sungai Cisa­dane begitu berarti. Cacing pun bisa menghasilkan rezeki,” kata Direktur Utama Satelit News dan Tangsel Pos ini.
Namun sayangnya, kata Hari Prastowo, sungai yang meru­pakan kebanggaan masyarakat Tangerang Raya itu keberadaan­nya tidak dijaga dengan baik, se­hingga mendatangkan musibah seperti banjir. “Kita sangat miris dengan kondisi Cisadane, teru­tama soal limbah baik industri maupun rumah tangga yang dibuang ke Cisadane,” ujarnya.
Karenanya, mantan war­tawan Jawa Pos ini mengusul­kan agar peraturan daerah (Per­da) tentang Lingkungan Hidup atau aturan lainnya tentang lingkungan hidup bisa dite­gakkan. “Saya sangat mengapresiasi Pemkot Tangerang yang bisa memberi sanksi ke­pada perusahaan yang mem­buang limbah ke Cisadane. Perusahaan itu bahkan diden­da sekitar Rp 12 miliar,” kata Hari Prastowo seraya diamini oleh Walikota Tangerang Arief R Wismansyah.
Dijelaskan Hari Prastowo, tugas memelihara kali Cisa­dane bukan hanya dibebankan oleh pemerintah pusat atau daerah saja, tapi masyarakat dan pihak swasta pun ikut bertanggung jawab atas ke­lestarian sungai tersebut. “Kali Cisadane menjadi sum­ber rezeki bagi masyarakat Tangerang, untuk itu harus dijaga secara bersama-sama. Kami menilai musibah banjir ini, lebih disebabkan karena faktor alam yang marah, aki­bat ulah manusia yang tidak mau merawatnya,” tegasnya.
Wakil Walikota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie sepakat dengan apa yang di­ungkapkan Hari Prastowo. Menurut dia, sungai Cisa­dane adalah aset Tangerang, baik pemerintah maupun masyarakatnya, sehingga masyarakat juga dituntut peran sertanya dalam pemanfaa­tan dan pemeliharaan sungai Cisadane tersebut.
“Kita berharap masyarakat juga bisa melakukan penghi­jauan di bantaran Cisadane, caranya dengan menanam pohon yang berakar serabut, bukan tunggal, sehingga bisa memperkuat dinding sungai, sehingga kali ini bisa kembali kejayaannya dan dapat ber­manfaat untuk masyarakat,” kata Benyamin yang hadir menjadi pembicara mewakili Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.
Senada, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menam­bahkan, kali Cisadane ini men­jadi urat nadi masyarakat di ke­tiga wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang. “Untuk itu tugas kita bersama dan se­luruh masyarakat se Tangerang Raya menjaga kali yang ter­cinta ini,” tandas Bupati Zaki.
Terkait dengan normalisasi, Zaki mengatakan, normalisasi memang menjadi salah satu solusi yang dibutuhkan Cisa­dane saat ini. Setelah Cisadane dinormalisasi, kemudian dilihat bendungan Pintu Air 10 den­gan saluran-saluran Cisadane, masih ada tidak tempat-tempat yang menjadi sendimentasi, atau masih adakah pengikisan-pengikisan di Cisadane. “Kalau itu sudah benar, kita ukur lagi debit dan ambang batas dari Ci­liwung. Kalau semua itu tidak dilakukan, jangan harap per­soalan Cisadane akan beres,” tukasnya.
Karenanya, Zaki berharap, dengan sinergitas antar tiga Tangerang itu, masalah Cisa­dane bisa terselesaikan. “Kita berharap tiga daerah di Tangerang ini bisa mencari jalan keluar sesuai dengan ke­mampuan anggaran masing-masing,” ujar pria yang juga Ketua DPD Golkar Kabupaten Tangerang ini.
Sementara itu, Walikota Tangerang, Arief R Wisman­syah mengatakan, sungai Cisa­dane sebagai cadangan air baku bagi warga Tangerang. Debitnya sudah terbatas, tingkat kedalaman sungai yang sudah semakin dangkal, sehingga per­lu dorongan untuk pengerjaan normalisasi sungai Cisadane.
“Perlu adanya langkah yang kongkrit bersama antara ketiga wilayah yang berkesinambun­gan, serta dukungan dari masyarakat untuk bersama-sama mendorong pemerintah pusat agar segera menormalisasi,” tandas Arief. (mg14/jojo/deddy/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.