Divonis 11 Tahun, Yuki : Gue Salah Apa?

TANGERANG,SNOL Jelang sidang vonis terhadap Yuki, terdakwa kasus perbudakan buruh di Kabupaten Tangerang, puluhan buruh merangsek ke ruang sidang PN Tangerang. Mereka ingin mendengar langsung hasil putusan.
Majelis Hakim masuk ke dalam ruangan sidang sekira pukul 13.00 Wib, Selasa (25/3). Namun dikarenakan situasi sidang yang tidak kondusif, Ketua Majelis Hakim Asiadi berkoordinasi dengan kepolisian untuk meminta pengamanan agar persidangan bisa kondusif.
Setelah mendapat jaminan keamanan sidang dimulai pukul 13.07 wib. Sidang dengan nomor perkara 2301/Pidsus/2013/PN-Tng, dimulai dengan menanyakan kesehatan terdakwa.
“Apakah saudara terdakwa Yuki Irawan, sehat?,” tanya hakim kepada terdakwa. Yuki menjawab sehat dan siap untuk dilanjutkan sidang.
Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim Asiadi Sembiring mengatakan, perbuatan yang dilakukan terdakwa memenuhi unsur pelanggaran Pasal 2 UU No 21/2007 tentang perdagangan orang.
Terdakwa terbukti melalui calo Usman dan Taufik merekrut pekerja dan dijanjikan gaji yang besar dan tempat yang layak serta fasilitas lainnya. Namun, selama dua sampai delapan bulan para korban yang bekerja hanya dijanjikan saja. Kemudian, para korban juga mendapat penyiksaan oleh terdakwa dan mandornya seperti dipukul, ditendang, ditempeleng dan lain-lain.
Terdakwa juga melanggar Pasal 372 KUHP yaitu adanya perampasan terhadap barang-barang milik korban seperti pakaian handphone dan uang. Barang berharga tersebut diambil oleh mandor Tedy dan Rohjaya atas perintah terdakwa.
Selanjutnya terdakwa melanggar Pasal 88 No 23/2002 tentang perlindungan anak di bawah umur dengan bukti mempekerjakan anak dibawah umur seperti Ajat Sudrajat yang berusia 17 tahun dan banyak lagi lainnya.
Terakhir, terdakwa melanggar, Pasal 24 UU 5/1984 tentang perindustrian. Usaha terdakwa tidak mempunyai ijin dari BP2T Kabupaten Tangerang dan tidak melaporkan usahanya.
“Menyatakan terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana. Terdakwa terbukti melakukan penampungan, perekrutan, penyekapan untuk eksploitasi terhadap karyawan dan anak-anak, serta tanpa izin membangun industri dan tidak melaporkannya kepada pemerintah. Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 11 tahun denda Rp 500 juta sub-sider 3 bulan kurungan,” ujar Ketua Majelis Hakim, Asiadi saat membacakan vonis.
Dalam pertimbangannya, ketua majelis hakim menyatakan perbuatan terdakwa dapat meresahkan masyarakat pencari kerja dan merugikan korban. Sedangkan yang meringankan terdakwa belum pernah dihukum, sopan dalam persidangan serta memiliki tanggungan anak dan istri.
Meski mendapatkan vonis penjara, Yuki tidak dijatuhi hukuman restitusi (uang pengganti) seperti yang dituntut jaksa penuntut umum. Hakim tidak mengabulkan tuntutan restitusi Rp 17,8 miliar untuk 62 korban yang dituntut jaksa. Penolakan dilakukan karena tidak ada permohonan restitusi dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Orang (LPSK).
Keputusan majelis hakim mengundang reaksi para buruh dalam Alttar. Mereka berteriak-teriak menyatakan ketidakpuasan karena Jaksa Penuntut Umum dalam tuntutannya mengajukan hukuman 13 tahun penjara dengan denda 500 juta rupiah subsider 6 bulan kurungan serta membayar restitusi terhadap 62 korban sebesar 17 miliar lebih dan subsider 1 tahun kurungan.
“Gantung saja,”ujar para buruh. Yuki yang sebelumnya hanya tertunduk diam tersulut emosi. Dia bangkit dari tempat duduk dengan wajah terlihat marah.
“Gue salah apa ?” ujar Yuki kepada para buruh yang kemudian ditenangkan para penasehat hukumnya. Setelah tenang, Yuki menyatakan akan mengajukan banding. “Ya saya mengajukan banding,” kata Yuki kepada majelis hakim.
Sementara Jaksa Penuntut Umum Agus Suhartono dan Imam Cahyo menyatakan pikir-pikir. “Kami masih pikir-pikir,” tandasnya.
Kasus ini terbongkar, Jum’at 3 Mei 2013 lalu, ketika Polres Tigaraksa membongkar praktek perbudakan di pabrik CV Sinar Logam di Kampung Bayur Opak, Desa Lebak Wangi, Kecamatan Sepatan, Kabupaten Tangerang milik Yuki Irawan. Dalam pengegrebekan itu petugas menemukan 25 buruh dan 5 mandor.
Puluhan buruh itu ditemukan petugas dalam kondisi tersiksa tersekap didalam sebuah kamar yang pengap. Pengungkapan kasus tindak pidana perampasan kemerdekaan dan penganiayaan terhadap buruh berawal dari dua orang buruh asal Lampung Utara atas nama Andi Gunawan dan Junaedi yang sudah bekerja selama empat bulan. Kedua kemudian melarikan diri dan melapor bahwa terdapat bentuk penyiksaan di pabrik kuali milik Yuki Irawan.(mg17/gatot/satelitnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.