Dinkes Tangsel Tak Bayar Utang, Ranjang Bayi Puskesmas Ditarik

PONDOKAREN,SNOL Kemelut akibat kasus korupsi alat kesehatan Tangerang Selatan mulai berdampak pada penarikan alat-alat di tingkat Puskesmas.
Kemarin (1/4), Dinas Kesehatan Kota Tangsel menarik alat kesehatan untuk bayi dari Puskesmas Parigi, Pondok Aren.
Penarikan dilakukan Dinkes Tangsel kemarin pagi saat pelayanan kesehatan sedang berjalan. Alat-alat itu diangkut menuju gudang dengan menggunakan dua mobil open cup Toyota Hilux Nopol B 9226 KH dan Mitsubishi B 9348 WUA.
Salah seorang sopir pengangkut barang terbuka mengaku diperintah membawa semua Alkes ke suatu gudang di Jalan Siliwangi Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel.
“Iya, diperintah langsung dari Dinkes,” ujar sopir yang enggan disebutkan namanya itu. Sebanyak empat pekerja dipekerjakan untuk memindahkan sejumlah alat kesehatan ke dalam dua mobil bak terbuka.
Berdasarkan penuturan salah seorang dokter yang bekerja di Puskesmas Parigi, Kecamatan Pondok Aren, alat kesehatan yang diangkut Dinkes berupa alat medis perawatan bayi. Seperti satu buah ranjang tempat tidur bayi, satu buah tabung oxsigen berikut roli, penghangat bayi yang baru lahir dan laser pemotong pusar berikut lampu penerangan.
“Secara keseluruhan saya kurang merinci. Yang jelas, alat medis yang diangkut merupa kan pengadaan tahun 2013,” ujarnya.
Penarikan sejumlah alkes di Puskesmas Parigi itu diamini Kepala Dinkes Tangsel, Dadang E.mpid. Menurutnya, penarikan kembali sejumlah alkes untuk perawatan bayi itu akibat pengadaan alkes yang bermasalah.
“Itu pengadaan alkes yang tidak kami bayar di tahun anggaran Tugas Pembantuan APBN tahun 2013,” ungkap Dadang lewat balasan pesan singkatnya, Selasa (1/4).
Lalu, saat ditanya apakah pengadaan alkes tersebut masih berutang kepada perusahaan yang bermasalah, Dadang pun mengamininya. “Itu yang kemarin 2013 prosesnya bermasalah,” pungkas Dadang.
Memang beberapa waktu lalu, Dadang saat ditemui Satelit News di Kantor Walikota Tangsel di Pamulang, sempat mengungkapkan adanya utang Dinkes yang belum dibayarkan ke mitra kerja karena sikap kehati-hatiannya. Di tahun 2013, Dinkes belum membayar sekitar Rp 122 miliar kepada rekanan proyek kesehatan Kota Tangsel.
“Salah satu bentuk kehati-hatian saya sebagai pengguna anggaran. Saya belum bayar rekanan di 2013, nilainya Rp 122 miliar,” kata Dadang saat itu.
Seharusnya, nominal tersebut dibayarkan ke rekanan untuk konsultan dan kontraktor pembangunan puskesmas, pembangunan fisik lainnya serta berbagai pengadaan alat kesehatan disejumlah Puskesmas. “Ini bentuk kehati-hatian. Kita juga sadar kalau itu ada masalah,” tuturnya.
Di tahun 2014, Dadang berharap kinerja di kedinasannya serta seluruh jajaran kesehatan di Kota Tangsel, lebih menjunjung tinggi nilai profesionalisme. (pramita/gatot/satelitnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.