Kesaksian Berbelit-belit, Hakim Marahi Kasmin

JAKARTA,SNOL– Selain Yayah Rodiah, ada empat saksi lain yang dihadirkan dalam sidang kasus suap penanganan sengketa Pilkada Lebak dan Pilgub Banten dengan terdakwa TB Chaeri Wardana. Mereka yakni pengawal pribadi Amir Hamzah, Deni Saputra, Bendahara PT Bali Pasific Pragama (BPP) Yayah Rodiah, Bagian Keuangan PT BPP Ahmad Farid Asyari dan Bagian Pembukuan kas perusahaan PT BPP Muhamad Awaludin.

Saksi yang mendapatkan giliran pertama adalah Kasmin. Dalam persidangan, Kasmin terlihat dicecar Jaksa Penuntut Umum (JPU) seputar proses Pilkada Lebak hingga tahapan dalam penanganan sengketa pilkada tersebut di Mahkamah Konstitusi. Menurut majelis hakim, Kasmin berbelit-belit saat bersaksi untuk terdakwa Wawan. Hakim sempat juga menegur Kasmin setelah beberapa kali tampak kebingungan menjelaskan perihal proses perencanaan gugatan Pilkada Lebak di MK.

“Saudara kalau memberikan keterangan harus yang jelas, jangan berbelit-belit. Beri keterangan yang jujur dan terbuka, biar semuanya terbuka dan jelas dalam kasus ini. Saudara sudah disumpah, kalau berbohong nanti majelis hakim bisa langsung menahan dan tidak pulang dulu ke rumah,” tegur Hakim Mathius pada Kasmin dalam persidangan.

Kemarahan Hakim terjadi karena Kasmin beberapa kali mengaku tidak tahu menahu soal uang Rp 1 miliar yang digunakan untuk menyuap Akil Mokhtar, Ketua Mahkamah Konstitusi saat itu. Kader Partai Golkar Kabupaten Lebak itu hanya Amir Hamzah, pasangannya dalam Pemilukada Lebak yang banyak berunding dengan Wawan terkait gugatan MK. Karena Kasmin tak mengaku, Jaksa Edi Hartoyo memutar bukti sadapan rekaman pembicaraan Kasmin dengan Susi Tur Andayani alias Uci selaku pengacara dalam sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Kabupaten Lebak di MK. Dalam percakapan tersebut, Kasmin terdengar aktif menanyakan uang suap kepada Akil untuk mengurus sengketa Pilkada Lebak, Banten yang tengah bergulir di MK.

Berikut transkip rekaman pembicaraan antara Kasmin dan Susi Tur pada 1 Oktober 2013, dua hari sebelum Wawan dan Susi Tur ditangkap penyidik KPK.

Kasmin : Gimana itu Ibu, sudah enggak masalah

Susi Tur : Halo ini siapa?

Kasmin : Ini Haji Kasmin bu. Hahah

Susi Tur : Ooo, Pak Haji Kasmin. Itu semalem saya sudah ketemu Pak Wawan. Tapi itu masih kurang

Kasmin : Apanya?

Susi Tur : Kiloannya masih kurang

Kasmin : Terus masalah enggak?

Susi Tur : Maksud saya bicarain sama pak Amir, pak Haji gitu. Tadi saya omongin Pak Amir. Hehe.

Kasmin ; Cuma 1? (Rp 1 miliar, red).

Susi : Iya tadinya dia (Wawan) enggak mau ngasih loh pak. Terus saya debatin ‘engga bisa gitu dong pak. Tapi dia akhirnya sadar juga. Ini hubungan dengan politik Ibu (Ratu Atut, red). Akhirnya dia (Wawan) telpon Ibu (Ratu Atut). Setelah telepon akhirnya mau sanggupin.

Kasmin : Belum diterima

Susi Tur : Belum jam 14.00 WIB. Maksud saya Pak Amir tambahin lah 500 atau 300 (juta, red). Jangan 1 aja nanti sisanya ditagihin setelah beliau pada menang.

Setelah diputarkan rekaman itu, Hakim Ketua Matheus Samiaji menanyakan pada Kasmin apakah sadapan rekaman telpon itu suaranya. Kasmin pun membenarkannya.

“Iya yang mulia, itu suara saya,” ujar Kasmin. Alhasil, Samiaji membiarkan prosesnya nanti akan berjalan sebagaimana mestinya atas bukti rekaman tersebut.

Keterangan dalam hasil sadapan menyanggah kesaksian awal Kasmin yang membantah mengetahui soal uang Rp1 miliar yang diberikan Wawan pada Susi Tur. Uang itu diduga untuk menyuap Akil dalam pengurusan sengketa Pilkada Lebak, Banten untuk pasangan calon Bupati Amir Hamzah-Kasmin.

Selanjutnya sidang dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan saksi yang lainnya. Kali ini 4 orang saksi, yakni Deni Saputra, Yayah Rodiah, Ahmad Farid Asyari dan Muhamad Awaludin dihadirkan secara bersamaan karena berkaitan dengan proses penyerahan uang berjumlah 1 miliar.

Direktur keuangan PT Bali Pasific Pragama, Yayah Rodiah mengakui uang suap Pilkada Lebak untuk Akil Mochtar sebesar Rp1 Miliar diambil dari perusahaan tersebut. “Pak Wawan minta uang Rp 1 M untuk diantarkan ke Jakarta,” katanya saat bersaksi di persidangan. Yayah mengambil uang itu dari kas perusahaan untuk diberikan ke Susi Tur Andayani.

“Kebetulan saat itu di brangkas memang ada uang cash,” ungkapnya. Dijelaskan Yayah, Wawan memerintahkan agar membawa uang tersebut dari Serang ke Jakarta. Lalu uang dimasukkan ke dalam tas berwarna biru bergaris putih. Uang tersebut dititipkan melalui Muhamad Awaludin dan awal yang berangkat ke Jakarta.

“Ya benar yang mulia, uang tersebut dititipkan saya dan dibawa ke Jakarta,” ucap Awal. Awal menerangkan saat tas itu dititipkan kepadnya, dia mengecek lagi jumlah uang yang ada didalam tas tersebut. Namun, dia tidak menghitungnya satu persatu tapi menghitung jumlah ikatannya. Selanjutnya, dia membawa uang tersebut dan berkomunikasi dengan Ahmad Farid Asyari.

Sementara itu, Ahmad Farid Asyari yang juga staf keuangan di PT Bali Pasific Pragama, tak membantah ada perintah dari Wawan untuk mengantarkan uang yang diantar dari Awal untuk diserahkan ke Susi.

“Saya dipanggil Pak Wawan, untuk menyerahkan uang tersebut, tapi saya tidak tau uang itu untuk apa. Saya hanya ditugaskan memberikan uang itu ke Bu Susi,” ujarnya. Sidang yang berlangsung tiga jam tersebut akhirnya ditunda pekan depan untuk mendengarkan keterangan saksi lain. (mg17/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.