Pasien & Calon Pasien Terlantar

Ratusan Pegawai RSUD Cilegon Mogok Kerja
CILEGON,SN—Ratusan pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Cilegon, melakukan aksi mogok kerja, Kamis (24/4). Akibatnya pelayanan di rumah sakit tersebut terganggu dan sejumlah pasien serta calon pasien terlantar. Bahkan diantara mereka yang terpaksa mengurungkan niatnya untuk berobat karena tidak ada petugas yang melayani mereka.
Dalam aksinya, ratusan pegawai RSUD juga mengumpulkan koin untuk disumbangkan kepada jajaran direksi rumah sakit tersebut. Penggalangan koin dilakukan sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap kebijakan
direksi, terutama direktur Zainoel Arifin, yang dinilai tidak pernah menanggapi aspirasi bawahannya. Tidak hanya mengumpulkan koin, mereka juga mendesak direktur Zainoel Arifin dipecat dari jabatannya.
Aksi mogok ini berawal dari keluarnya SK Walikota Nomor 4410 kep. 19-RSUP 2014, tentang Pembagian jasa pelayan JKN dan non kesehatan nasional pada RSUD Kota Cilegon. Surat keputusan tersebut dinilai tidak memberikan proporsi yang seimbang kepada para perawat, ahli gizi, dokter dan lainnya sebagai pelaksana dengan para pejabat struktural. Para ahli medis menuntut agar pembagian jasa medis ini dapat berlaku adil. Bukan hanya menuntut transparansi dalam perhitungan jasa pelayanan di rumah sakit, tapi juga memberikan uang beban kerja. Selama ini mereka tidak pernah mendapatkan uang beban kerja dan hanya mendapatkan uang jasa medis.
“Maka dengan adanya aksi ini kami berharap manajemen lebih bersikap adil, karena ada kesenjangan nilai nominal perolehan jasa medis antara tenaga fungsional dengan struktural,” teriak seorang pegawai pada orasinya.
“Kan uang beban kerja sama uang jasa medis itu berbeda. Kalau jasa medis itu merupakan bayaran untuk tindakan medis seperti menyuntik pasien, memasang NGT, memasang infus, dan mengambil sempel darah. Sementara kalau beban kerja itu merupakan beban kerja yang kita tanggung, seperti ketularahan penyakit, tidak libur di saat hari besar dan meninggalkan uang disaat dinas sore maupun malam. Semua dinas di lingkungan Pemkot Cilegon mendapatkan uang beban kerja, hanya pegawai RSUD yang tidak dapat,” ujarnya pegawai lainnya.
Sementara pegawai lainnya mengaku, selama ini dia dan rekan-rekannya hanya mendapat uang jasa medis sekitar Rp700 ribu hingga Rp1 juta. “Kami berharap uang beban sebesar Rp700 ribu juga diberikan kepada kami, khususnya tenaga medis di RSUD,” ujar salah seorang perawat yang enggan menyebutkan namanya.
Dihadapan pegawai yang sedang kesal tersebut, Direktur RSUD Cilegon, Zainoel Arifin meminta demonstran agar segera mengakhiri aksinya. “Boleh menyampaikan aspirasi tapi jangan mogok kerja, mari kita duduk bersama. Kalau mogok kerja begini pelayanan jelas terganggu, kan ini tidak boleh. Kasihan pasien yang membutuhkan perawatan,” imbuh Zainoel. Namun ajakan direktur tak digubris. Ratusan pegawai masih tetap melakukan aksi mogoknya dengan alsan tuntutan tidak pernah ditanggapi, sehingga mereka enggan melakukan dialog dengan direkturnya.
Setelah puas melakukan aksinya hingga siang, akhirnya mereka kembali beraktifitas. Itupun setelah Zainoel Arifin berjanji akan mempertimbangkan tuntutan mereka. “Yang jelas tuntutan ini akan dipertimbangkan dan kita akan mencari solusi terbaik, yang penting aksi mogok kerja ini diakhiri dulu,” kata Zainoel seraya berjanji akan segera mengevaluasi dan mempertimbangkan tuntutan para tenaga medis tersebut. (mg-13/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.