Sudah Bayar 2 Juta, Tetap Saja Gagal UN

Siswa SMK Penerbangan AIR Stres

TANGERANG,SNOL— Fakta mengejutkan terungkap dibalik kegagalan 19 siswa SMK Penerbangan Angkasa Insan Raya (AIR ) Kota Tangerang mengikuti ujian nasional. Ternyata, masing-masing siswa sudah dipungut biaya sebesar 2 juta rupiah mengikuti ujian nasional.

Fakta tersebut terungkap saat 8 orangtua siswa SMK Penerbangan AIR mendatangi kantor Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Jumat (25/4). Burhanudin Lubis, juru bicara orang tua murid SMK Penerbangan AIR mengungkapkan pihak sekolah mengaku sudah mengusahakan agar siswa-siswanya bisa mengikuti ujian nasional. Sekolah meminta biaya sebesar 2 juta rupiah per siswa untuk bisa ikut ujian nasional dan mendapatkan lisensi. Faktanya, sampai detik ini tidak ada siswa yang mengikuti ujian nasional apalagi menerima lisensi seperti yang dijanjikan.

“Tiap siswa dikenakan 2 juta rupiah, tapi sampai saat ini siswa tidak pernah mengikuti ujian,”bebernya. Selain menawarkan ujian nasional, pihak sekolah juga pernah berunding dengan orang tua wali murid kelas 3 agar para siswanya mengikuti ujian nasional paket C dan mendapatkan lisensi setelahnya. Namun usulan itu ditolak orangtua siswa, Menurut Burhanuddin, paket C hanya diperuntukan bagi anak-anak yang tidak menyelesaikan sekolahnya secara tuntas.

“Anak-anak kami sudah 3 tahun bersekolah dan mengenyam pendidikan di SMK Penerbangan maka tidak layak ikut ujian paket C. Masak, sekolahnya di SMK Penerbangan, ijazahnya paket C. Kan lucu,” ujar laki-laki berkaca mata ini. Dia membeberkan, orangtua siswa sudah mengalami kerugian materiil dan immateriil terkait kegagalan anak-anak mereka mengikuti ujian nasional. Un-tuk bersekolah di SMK Penerbangan AIR, para siswa harus memenuhi berbagai biaya. Diantaranya SPP sebesar 300 ribu per bulan, uang pangkal 5,5 juta, pembelian buku, sumbangan-sumbangan, iuran orang tua 75 ribu dan terakhir uang perizinan 150 ribu.

“Biaya sudah besar tapi didikannya seperti itu mengajarkan yang tidak benar kepada anak kami,”terang Burhanudin yang akhirnya ditemui Dadang Setiawan, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Tangerang.

Terpisah. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang, Ahmad Lutfi mengatakan pihak SMK Penerbangan AIR sudah pernah mendatangi pihaknya untuk meminta izin agar siswanya dapat mengikuti ujian nasional. Tetapi, Dindik tidak mengabulkan permohonan ikut UN tersebut karena keterlambatan waktu mengajukan perizinan.

“Memang ada yang datang tapi datangnya telat 10 hari setelah pelaksanaan ujian sekolah,”ujar Lutfi. Dia menegaskan SMK Penerbangan AIR belum memiliki izin operasional. Dinas Pendidikan Kota Tangerang sendiri tidak memiliki kewenangan terkait perizinan. Kewenangan perizinan berada di tangan Badan Pelayanan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu (BPPMPT).

“Berdasar koordinasi dengan BPPMPT, SMK Penerbangan AIR pernah mengajukan perizinan tetapi tidak dikeluarkan karena ada beberapa syarat yang belum terpenuhi untuk mendirikan sekolah. Sudah tidak layak tapi tetap memaksakan diri,” katanya. Terkait nasib 19 siswa yang tidak mengikuti ujian nasional, Lutfi belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Pasalnya, sekolah yang ilegal tidak memiliki kewenangan mengikuti ujian nasional karena tidak terdaftar. Kalau pun diikutsertakan nantinya akan menjadi perkara lain. “Maju mundur salah,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, 19 pelajar SMK Penerbangan AIR gagal mengikuti ujian nasional tahun 2014 ini karena sekolahnya tidak memiliki izin alias bodong. Dindik Kota Tangerang juga tidak bisa bisa memberikan dispensasi bagi 19 siswa SMK tersebut untuk mengikuti ujian nasional susulan.

SMK yang dalam brosurnya beralamat di Jl. H. Sa’alan No. 1 Kelurahan Koang Jaya Kecamatan Karawaci Kota Tangerang ternyata beralamat sama dengan sekolah Taman Kanak-kanak Islam Ter-padu Al-Ma’sum. Menurut warga sekitar, SMK tersebut menumpang di gedung TK.

Mental Siswa dan Orangtua Ngedrop

Saat ini, para siswa kelas tiga yang seharusnya menghadapi Ujian Nasional (UN) beberapa hari lalu saat ini berada di rumah masing-masing. Mental anak-anak tersebutsudah ngedrop dan down.

“Bukan hanya siswa. Ada juga orangtua yang terus menangisi anaknya karena tidak bisa ikut ujian nasional,”ujar Burhanudin. Pernyataan Burhanuddin dibenarkan salah satu orangtua siswa yang enggan menyebutkan namanya. Dia mengatakan anaknya kini berubah lebih murung.

“Di luaran, anak saya menunjukkan ketegaran. Tapi prilakunya sekarang berbeda dari biasanya. Dia terlihat sering murung karena tak bisa ikut ujian nasional,”ujar ibu dari siswa berinisial LL tersebut.

Kecemasan tak hanya menghinggapi siswa kelas 3 SMK Penerbangan AIR yang gagal ikut ujian nasional. Kecemasan juga menghinggapi orangtua kelas 1 dan 2. Mereka khawatir anak-anaknya mengalami nasib serupa dengan seniornya yang sudah belajar selama tiga tahun namun tak bisa lulus karena gagal ikut ujian nasional.

“Tahun depan anak kami yang akan menjadi kelas 3, kalau masih seperti ini gimana nasibnya nanti,” ujar Burhanudin Lubis lagi. (mg14/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.