Putra Ardiansyah, 10 Bulan Bawa-bawa Kantong Urine

Jadwal Operasi tak Jelas

PAGEDANGAN,SNOL—Miris rasanya melihat Putra Ardiansyah (12). Selama sepuluh bulan terakhir, bocah warga Kampung Pabuaran RT 02/02 Desa Karang Tengah Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang itu terpaksa membawa kantong urine kemana-mana karena saluran kencingnya putus akibat jatuh dari truk.

Ditemuidi rumahnya, Jumat (2/5), Putra terlihat banyak bicara. Dia terlihat ingin aktif berbincang-bincang atau bergerak. Namun keinginannya bergerak harus dipendam. Kantong urine berwarna putih dengan lebar sejengkal yang harus terus dia bawa membuat pelajar kelas 5 SDN Malang Ten-gah, Pagedangan itu tak leluasa berpindah posisi atau melakukan kegiatan. Dia lebih sering mengha-biskan waktunya di dalam rumah.

Sesuai namanya, kantong urine milik Putra dibutuhkan untuk menadahi air seni pemiliknya. Lazimnya, air seni lelaki akan keluar dari alat vitalnya. Namun karena saluran menuju kandung kemih rusak akibat kecelakaan, maka dibuatlah saluran lain dengan membuat lubang di perut Putra. Dari lubang kecil tersebut, air seni Putra dialirkan ke kantong urine yang dibawanya kemana-mana, baik ketika bepergian atau saat tidur sekalipun.

“Ribet bawa beginian. Ngga bisa kayak teman-teman lain.

 Saya tidak bisa berlari-lari. Saya juga ingin sekali ke sekolah lagi karena sudah lama tidak bisa lagi masuk kelas,”ujar Putra. Anak kedua dari tiga bersaudara itu sudah cukup lama tidak bersekolah. Menurut ayah Putra, Saefudin, pihak sekolah menyarankan agar anaknya tidak masuk sekolah dulu sebelum menyelesaikan pengobatannya.

“Sekolah khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,”ujar Saefudin yang mengatakan Putra baru dua bulan lalu ditinggal pergi ibunya, Ida untuk selama-lamanya.

Saefudin bercerita, putusnya saluran kencing Putra terjadi saat dia jatuh dari truk yang ditumpanginya menuju ke pasar malam, pertengahan Juli 2013 lalu. Kala itu, Putra dan teman-temannya naik sebuah truk, dengan maksud menumpang untuk melihat pasar malam yang berada di satu perumahan di daerah Kecamatan Legok. Naas nasibnya, saat akan turun dari atas truk, justru dia terjatuh dengan posisi pantat yang mendarat duluan. Dia juga mengalami sedikit benturan pada kepala dan lecet di kaki serta tangannya. Putra akhirnya diantarkan pulang oleh seorang warga kerumahnya.

Setibanya di rumah, dia mengeluhkan sakit pada bagian perutnya karena tidak bisa buang air kecil sama sekali. Saefudin kemudian membawa anaknya ke rumah sakit di daerah Kecamatan Curug. Setibanya disana, dokter di UGD tidak bisa menganalisa sakit yang diderita oleh Putra.

Saefudin kembali membawa anaknya tersebut ke rumah sakit di daerah Bitung. Jawaban yang sama disampaikan oleh pihak rumah sakit. Namun, rumah sakit memberikan rekomendasi untuk membawa Putra ke RSU Siloam. Setibanya di RSU Siloam, Putra langsung diperiksa dan didiagnosa bahwa saluran kencingnya mengalami pembekuan darah. Hal itu terjadi karena benturan keras pada bagian pantatnya saat kecelakaan terjadi.

Setelah melewati pemeriksaan, Putra langsung menjalani operasi. Pasca operasi, Putra dibuatkan saluran untuk buang air kecil dari perutnya karena saluran air kencingnya putus. Enam bulan lamanya, Putra dengan didampingi oleh ayahnya menjalani rawat jalan ke rumah sakit Siloam hingga sekarang. Pihak RSU Siloam menyatakan tidak bisa melakukan operasi penyambungan saluran air kencing anaknya. Hal tersebut dikarenakan RSU Siloam kekurangan alat medis untuk menjalankan operasi tersebut. Pihak rumah sakit pun akhirnya merekomendasikan untuk membawa Putra ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Di sana, Putra menjalani rawat jalan pula selama 4 bulan namun tidak ada jawaban pasti dari rumah sakit tersebut.

“Sampai dengan saat ini, pihak dari rumah sakit Cipto Mangunkusumo tidak ada kejelasan mengenai kapan akan melakukan operasi penyambungan. Pihak RS hanya menyampaikan bahwa akan menelepon, jika dipastikan kapan akan dilakukan operasi,” ungkap Saefudin.

Dia menambahkan, selama 4 bulan tersebut justru di RSCM justru kerap bergonta-ganti dokter. Jika Putra dibawa untuk konsultasi ke RSCM, dokter spesialis bedah di sana selalu berbeda-beda. Sampai dengan saat ini, Saefudin hanya bisa menunggu ditelepon pihak RSCM yang entah kapan waktunya.

Putra sendiri kerap merasakan kesakitan jika selang urinnya tersendat. Rasa skit itu terjadi selama satu minggu sekali karena selang urine tersebut harus segera diganti. Dia mengganti selang urine di RSU Siloam. “Saya berharap agar anak saya segera mendapatkan penanganan secepatnya,”tandas Saefudin. (mg19/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.