Bagus Masih Shock, Dewi Kurung Diri

TANGERANG,SNOL— “Mohon maaf mas, saya masih pusing, lagi tidak mau membahas itu,”. Kalimat bernada sopan itu terlontar dari mulut Bagus Trihastanto (16) saat ditemui Satelit News di depan rumahnya, Jalan Bungur III, Perum Periuk Jaya, RT 06/06, Periuk, Kota Tangerang, Minggu (4/5) siang sekira pukul 14.00 WIB.

Bagus Trihastanto adalah anak kedua dari pasangan Dukut Widowahyono (54) dan Heryanti (50). Bapak dan Ibu serta seorang adik kecilnya, Prasetyo menjadi korban pembantaian, Ramadhan Gu-milar alias Gugum (27), Selasa, 29 April 2014 lalu.

Gugum sendiri adalah mantan kekasih Dewi Febrina (25), kakak pertama Bagus. Gugum sempat berusaha membantai Bagus namun pelajar SMK 6 Penerbangan Kota Tangerang itu lolos dari maut. Dia hanya mendapat luka di belakang kepalanya. Hingga kemarin, Bagus masih shock atas peristiwa yang menimpanya dan keluarganya. Kepalanya masih terbalut perban akibat terluka dihantam kunci besi oleh Gugum.

Ditemui di rumahnya, Bagus menerima kedatangan wartawan dengan raut wajah sedih. Tampak ada rasa trauma dalam prilakunya. Meski demikian, sambil tidur-tiduran di depan rumahnya dengan alas tikar di bawah tenda biru berukuran 5×10 meter, Bagus mengaku secara fisik tubuhnya sudah jauh lebih baik dibanding sehari sebelumnya.

“Saya sering teringat sama keluarga. Jadi saya ingin tidur di depan rumah, di bawah tenda. Setiap malam juga tidur di depan rumah. Paling ke rumah saudara untuk mandi saja. Lagian rumahnya juga belum bisa ditempati. Sama polisi tidak boleh masuk,” kata Bagus sambil memainkan handphone bersama teman-temannya.

Dewi sendiri pada siang itu tidak terlihat. Rumah yang menjadi TKP pembantaian itu masih dipalang garis kuning polisi. Sejumlah karangan bunga tanda duka dari Bumi putera 1912 kantor Cabang Tangerang Kota, Teleperformance Indonesia dan PT Nutricia Indonesia Sejahtera membarikade garasi rumah. Bagus mengatakan kakaknya itu, Dewi Febrina sedang pergi ke rumah tantenya di kawasan Ciputat. Setiap malam sejak kejadian, Dewi selalu pulang ke rumah tantenya seusai menggelar tahlilan.

Bagus mengatakan kakaknya sangat terpukul atas peristiwa tersebut. Kakaknya itu sama sekali tak menyangka bapak, ibu, dan adiknya tewas dengan cara tragis di tangan bekas pacarnya, Ramadhan Gumilar. Dewi kini lebih suka mengurung diri di dalam kamar di rumah tantenya.

“Kak Dewi belum mau diajak ngobrol atau wawancara sama wartawan,” kata Bagus Trihastanto. Menurut Bagus, saat ini kakaknya hanya mau berbicara dengan teman-temannya yang datang ke ru-mah untuk mengucapkan belasungkawa.

Dalam jejaring sosial facebooknya, Dewi menuliskan rasa kesedihannya. Tertulis dalam akunnya “Mah… Pah… Yas… Tenang ya di Surga. Wiwi akan jagain Bagus, kita akan selalu akur. Jd Mamah sama Papah yg tenang aja, bgitu juga km de. Wiwi sayang Mamah, Papah sm Pras…”. Status Dewi tersebut membuat teman-teman turut berbela sungkawa.

Salah satunya akun Nicky Aprillia. “Yg sabar tabah n ikhlas ya wi..semoga amal ibadah mamah papah n ade kamu diterima Allah n dapet tempat terindah disisi Allah..aamiin” tulis Nicky pada hari yang sama saat Dewi buat status. Kemudian, Indah Chaerul Syari Syarif. “Yg sabar ya wi,,, Semoga segala amal ibadah almarhum diterima dan diberi tempat terindah disisi Allah,” tulis Indah. Dan banyak akun lainnya yang turut mendoakan Dewi dan keluarganya. Tercatat 46 orang mengomentari status Dewi saat itu.

Komentar teman-temannya di Facebook pun dibalas oleh Dewi. “Amin yaa Rab. . Terima kasih untuk semuanya…,” tulis Dewi dalam komentarnya. Selain itu Dewi juga mengganti gambar sampulnya dengan foto keluarganya yang terdiri dari Bapak, Ibu dan Adiknya.

Sementara itu, kesedihan dan trauma juga dialami Bagus. Dia mengungkapkan, sampai saat ini juga masih beranggapan bahwa ayahnya masih ada. Sesekali ketika sedang berdiam diri, Bagus selalu melihat ayahnya menampakkan diri. Bahkan sepertinya dia mendapat pesan dari almarhum ayahnya untuk melanjutkan usaha angkot yang dikelola.

“Kata ayah, tolong diurus sopir-sopir angkot dengan benar. Kemudian langsung pergi lagi,” ujarnya. Selanjutnya, Bagus berharap ke depan bisa meneruskan sekolahnya di SMK Negeri 6 Tangerang. Dia ingin mewujudkan apa yang dicita-citakan oleh orangtuanya. Untuk saat ini, dia dibebaskan oleh pihak sekolah untuk izin tidak masuk sampai kondisinya normal.

“Kalau ayah dulu di Pelayaran dan ayah ingin sekali saya meneruskan di Penerbangan,” tuturnya. Ditanya soal sosok Gugum, Bagus mengatakan mengenal pria pembunuh tiga anggota keluarganya itu sebagai orang yang baik.

“Gugum orangnya baik dan suka membantu. Tapi saya tidak menyangka dan kaget saat itu. Untung saya bisa menyelamatkan diri,” jelasnya. Namun kini pendapat itu berubah. Dia berharap Gugum mendapatkan hukuman setimpal dengan perbuatannya.

“Saya berharap Gugum bisa dihukum seberat-beratnya. Karena telah membunuh orang tua dan adik saya,” ungkap remaja bertubuh besar itu. Dia sedikit bercerita tentang upaya pembunuhan Gugum kepadanya. Hari itu, Selasa (29/4), sore Bagus baru pulang sekolah ketika bertemu Gugum di rumah-nya. Mereka berdua sempat bercakap-cakap. Gugum kemudian menuntun Bagus ke lantas atas rumah untuk menemui Dukut, ayahnya. Belum legi menaiki anak tangga kedua, Gugum sudah menghantam kepala Bagus dengan kunci Inggris. Bagus ambruk tapi tak sampai pingsan. Dia sempat menangkis serangan kedua Gugum, sebelum akhirnya berlari ke luar rumah untuk meminta tolong. Selanjutnya, Gugum bersama tetangga mendatangi rumahnya kembali dan menemukan ayah, ibu dan adik bungsunya tewas di tangan Gugum. Polisi menjerat Gugum dengan pasal pembunuhan berencana dan pencurian dengan ancaman hukuman mati. (mg17/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.