Dua Kecamatan Krisis Air Bersih

SERPONG,SNOL–Menjamurnya bisnis properti di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), ternyata mem-bawa dampak buruk bagi persediaan air bersih di wilayah tersebut. Akibatnya, dua kecamatan terancam krisis air bawah tanah. “Kecamatan Serpong Utara dan Serpong telah mengalami krisis air akibat pertumbuhan bisnis properti tidak dibarengi dengan lahan resapan air,” ungkap Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kota Tangsel, Rahmat Salam.

Rahmat menjelaskan, dengan semakin meningkatnya bisnis properti tersebut tentu saja meningkatkan jumlah penduduk sehingga kebutuhan akan air bersih pun turut meningkat. Belum lagi kegiatan perekonomian seperti industri, pertanian serta adanya pembangunan di berbagai sektor mengakibatkan semakin menurunnya kuantitas dan kualitas sumber daya air yang ada. “Ada dampak positifnya, yakni meningkatnya penyediaan sarana dan prasarana yang diperlukan manusia seperti pembangunan. Di sisi lain, tumbuh juga pencemaran, penurunan muka air tanah dan penurunan permukaan tanah,”tuturnya.

Penggunaan air tanah yang membahayakan, diakui Rahmat, terjadi pada kategori komersil. Sebab, aturannya saat ini hanya untuk membatasi penggunaan air tanah untuk komersil yang membuat sumber mata air tanah memprihatinkan.

“Untuk itu masyarakat harus bisa menjaga kualitas air tanah dengan membuat sumur ataupun lubang resapan air atau biopori,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel, Fery Payacun mengatakan, pihaknya terus menyisir perusahaan yang memanfaatkan air bawah tanah untuk kebutuhan komersil. Pasalnya, setiap perusahaan yang memanfaatkan air bawah tanah wajib memiliki Surat Izin Pengambilan Air Bawah Tanah (SIPA).

“Aturannya sudah jelas, yakni PP No 43 Tahun 2008 tentang Air Tanah. Maka itu, setiap perusahaan wajib memiliki SIPA dan menyetor pajaknya ke pemerintah daerah,” pungkasnya. (pramita/hendra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.