Rano Dijuluki ‘Abah Gede’

Ribuan Warga Suku Baduy Tumpah di Pendopo Gubernur

SERANG,SNOL— Ribuan warga Suku Baduy tumpah ruah di di Pendopo lama Gubernur Banten, di jalan Brigadir Jenderal Kiyai Haji Samun No.5 depan Alun-alun Kota Serang, Sabtu (3/5). Mereka merayakan acara Seba Baduy yang merupakan acara adat suku tersebut.

Warga Suku Baduy, baik Baduy luar maupun dalam, datang dengan berjalan kaki dan longmarch hingga berjam-jam ke Pemerintah Pro

 vinsi (Pemporv) Banten. Kedatangannya dipimpin oleh sejumlah tokoh adat Baduy. Saat longmarch berlangsung, tak sedikit para pejabat pemerintah yang ikut di dalamnya.

Sebelum ke Pendopo, terlebih dahulu menera mendatangi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Banten. Di sana mereka ditemui Kepala Disbudpar Endrawati. Kemudian, mereka berjalan kaki menuju Pendopo Gubernur.

Jaro Tangtu Tujuh, Ayah Mursid atau biasa dipanggil Jaro selaku Ketua Adat Baduy Dalam, datang ke pendopo didampingi Kepala Disbudpar Endarwati, yang juga ikut long march.

Di pendopo, kedatangan ribuan warga Suku Baduy disambut dengan penampilan Marching Band Gita Surosowan Banten. Dibandingkan tahun sebelumnya, warga Baduy yang melakukan seba mencapai 1.761 orang. Tahun ini sekitar 2.000 orang,” ungkap Endrawati.

Setibanya di pendopo, ribuan masyarakat baduy melakukan ritual bersih-bersih di Sungai Cibanten yang letaknya tepat di belakang gedung Pendopo Lama Gubernur Banten, Kota Serang. “Itu mandi dan berdoa aja, sebagai bentuk rasa syukur skaligus mensucikan diri udah sampai di Serang. Semua bersih-bersih, tapi khususnya yang baru ikut seba,” ujar Ayah Mursyid, tokoh adat Suku Baduy Dalam, di sela-sela melaksanakan bersih-bersih di Sungai Cibanten.

Ritual ini sudah dilakukan semenjak dulu saat suku Baduy melakukan adat Seba, bentuk bersih-bersihnya mirip dengan Wudhu umat Islam. “Udah dari dulu, emang udah tradisi. Yang lama mimpin doa. Minimal bersih-bersih muka, kaki, tangan,” lanjut Ayah Mursyid.

Seba Baduy bertema “Ngasuh Ratu Ngajak Menak, Magehken Tali Silaturahmi” ini merupakan pertama kalinya dipimpin oleh Wakil Gubernur Banten Rano Karno. Dalam acara kemarin, rano diberi gelar atau julukan “Abah Gede” oleh masyarakat Baduy.

Abah Gede berharap agar tradisi Seba bisa semakin memperkuat hubungan antara masyarakat baduy dengan Pemprov Banten. “Kita akan berusaha sekuat mungkin untuk menjaga alam dari kerusakan-kerusakan yang tidak diinginkan. Kita ambil hikmah dari kesederhanaan ini. Hidup sejahtera dari alam. Kita bisa hidup dengan alam, sehingga tidak mengeksploitasi alam berlebihan,” ucap Abah Gede saat membuka dialog bersama ribuan Suku Baduy, Sabtu (4/5) malam.

Dalam pertemuan itu, warga Baduy meminta kepada pemerintah, khususnya pemimpin Banten agar bisa menjaga kelestarian alam. “Saya minta kepada pemerintah agar menjaga kelestarian di Baduy, jangan samapai di eksploitasi,” pinta Jaro Tangtu Tujuh, Ayah Mursid selaku Ketua Adat Baduy Dalam.

“Saya minta kepada pemerintah agar bisa menjaga lingkungan di baduy, terutama alamnya. Karna kami takut terjadi bencana alam seperti longsor dan sunami,” sambungnya.

Abah Gede pun menyambut baik permintaan itu. Dia berjanji akan berupaya dan berusaha mempertahankan tradisi seba, karna ini adalah salah satu kekayaan adat Banten yang tidak ada di provinsi lainnya.

“Pemprov akan berusaha mempertahankan kelestarian alam di baduy dan akan menindak tegas jika sampai ada pihak yang mengeksploitasi kekayaan alam di baduy,” ungkap Abah Gede dalam sambutannya.

Antara Suku Baduy dengan Rano Karno, tidak banyak terjadi perbincangan. Masyarakat Baduy yang diwakili oleh Jaro Dainah, menganggap bahwa semuanya sudah cukup terakomodir oleh sang ‘Abah Gede’. “Selain ada gusti nu agung (Tuhan yang maha besar), di setiap tempat itu ada karuhun (ruh suci), jadi harus dihormati,” kata Jaro Dainah kepada Rano.

Di akhir acara seba, Rano Karno memberikan simbol wayang kepada dalang wayang golek untuk menghibur warga baduy. “Harapan baduy itu logikal. Kalau baduy rusak yang rugi hanya bukan baduy saja, tapi semua nya,” terang Abah Gede kepada awak media.

Abah Gede berjanji akan meratakan pembangunan di tanah Banten, termasuk pembangunan di wilayah Baduy. Karena dirinya merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat Baduy. Rano sendiri pernah hidup beberapa hari di dalam suku baduy dalam.

“Baduy ini kan khusus, yang memang harus diatur secara khusus. Pemda hanya memback up, agar tidak meledak populasinya,” terangnya.

Ditanya terkait pelaksanaan Seba Baduy, Abah Gede mengaku merasa bahwa ada yang kurang. “Harus menjadi budaya nasional dan internasional. Saya tidak menganggap tidak baik, tapi belum maksimal dikemasnya karena orang Jakarta dan orang yang jauh belum tau Seba. Mungkin tahun depan akan saya undang dubes dan saya bawa ke event internasional,” ucapnya.

Tetua Pemerintahan Adat Baduy yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Jaro Dainah, mengungkapkan, Seba terbagi dua, yaitu Seba Besar dan Seba kecil. Seba besar terjadi setiap dua tahun sekali. “Yang membedakannya, kalau seba besar bawa peralatan dapur, kalau sekarang kan ga bawa, maka nya disebut seba kecil,” lanjutnya menjelaskan.

Pemkab Diminta Jaga Gunung Akarsari

Permintaan agar pemerintah melestarikan alam tidak hanya disampaikan kepada Pemerintah Provinsi Banten. Warga suku Baduy juga meminta kepada pemerintah daerah lainnya, termasuk Pemkab Pandeglang.

Puluhan warga Baduy yang dipimpin jaro Dainah, mendatangi Pendopo Kabupaten Pandeglang, Sabtu (3/5). Jaro Dainah mengatakan, tujuan utama seba ini adalah silaturahmi dengan jajaran pemerintah. Selain datang ke pendopo Bupati Pandeglang, mereka juga mengunjungi Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Banten dan beberapa pemerintahan lainnya di wilayah Banten.

“Tujuan kami datang ke pendopo ini, ingin bersilaturahmi dengan pemerintah daerah. Kami juga berharap agar pemerintah daerah bisa terus menjaga kelestarian hutan yang ada di wilayah Pandeglang, diantaranya di kawasan Gunung Aseupan, Karang dan Pulosari (Akarsari),” kata Jaro Dainah. Seba ini, dimulai dari wilayah Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, lalu ke Kabupaten Pandeglang dan ke Kabupaten Serang.

Selain seba, warga suku Baduy ke Pemerintah Provinsi Banten, ada juga seba yang dilakukan ke hutan lindung yang tujuannya untuk menjaga kelestarian alam. “Kami juga melakukan seba ke wilayah ujung kulon setiap tujuh tahun sekali, dan ke Gunung Kembang, Kabupaten Lebak setiap tiga tahun sekali, yang apabila tidak dilakukan dikhawatirkan terjadinya musibah atau bencana alam,” tambahnya.

Puluhan warga suku Baduy diterima oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Andi Sunardi, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan Indah Dinarsiani, Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten Pandeglang Puji Widodo dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pandeglang Erna Nurhayati.

Andi Kusnardi mengatakan, kegiatan seba ini sebagai wujud dari rasa memiliki para warga Baduy terhadap kelestarian hutan, alam dan lingkungan sekitar. Mereka juga menganggap masih ada keterkaitan antara Kabupaten Pandeglang dengan nenek moyang mereka. (mg-11/mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.