Sidang Telat Dua Jam, Airin Ngobrol Lebih Lama

Istri Akil Mangkir, Wawan Tolak Akui BAP

 JAKARTA,SNOL— Airin Rachmy Diany penuh senyum saat menghadiri persidangan suaminya, TB Chaeri Wardana dalam kasus suap mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Akil Mochtar terkait pengurusan sengketa pemilukada Lebak dan Banten di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (5/5). Tiba pukul 08.45, Airin baru meninggalkan pengadilan tindak pidana korupsi sekira pukul 12.00 WIB.

Mantan Puteri Favorit tahun 1996 itu tiba 15 menit lebih awal dari jadwal sidang. Persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi Istri Akil Mochtar, Ratu Rita itu dijadwalkan berlangsung pukul. 09.00 pagi. Mengenakan kemeja putih dan jilbab hijau, Airin langsung menuju ruang tunggu terdakwa dimana Wawan sudah tiba terlebih dahulu. Sembari menunggu, Wawan dan Airin terlihat asyik mengobrol berdua. Sesekali keluarga yang lain masuk untuk menengok dan membawa makanan untuk Wawan.

Obrolan antara Airin dengan Wawan di ruang tunggu PN Tipikor berlangsung lebih lama dari biasanya karena sidang mengalami keterlambatan sebanyak dua kali. Keterlambatan pertama disebabkan jumlah majelis hakimnya belum lengkap. Setelah dimulai, sidang lambat dimulai karena saksi tidak datang. Terlambatnya waktu sidang sangat dimanfaatkan Airin untuk lebih lama mendampingi Wawan.

“Ya biasa namanya juga suami istri. Ibu kan pasti memberikan dukungan buat pak Wawan supaya diberi kekuatan,” ujar seorang kerabat Wawan yang enggan disebutkan namanya. Sekira pukul 11.00 Wib, sidang akhirnya dimulai. Wawan langsung dijemput oleh petugas KPK untuk memasuki ruangan sidang. Namun Airin tidak menemani suaminya di ruang persidangan. Dia malah menunggu di ruang tunggu terdakwa. Dia terlihat asyik mengobrol bersama dua perempuan dan se-orang laki-laki.

Ratu Rita, istri mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar, dijadwalkan bersaksi untuk terdakwa Wawan. Namun tidak hadir karena sakit. Akhirnya Jaksa meminta untuk dapat dibacakan saja keterangan Rita dalam Berita Acara Pemeriksaan di KPK.

“Tadi pagi saksi baru keluar rumah sakit dan berobat jalan. Rumah sakitnya tidak jauh-jauh di MMC,” kata Jaksa KPK Edy Hartoyo kepada majelis hakim. Jaksa juga menunjukkan keterangan dokter mengenai sakit yang diidap Ratu Rita.

Tim penasehat hukum Wawan langsung berdiskusi dengan Wawan dan berpendapat bahwa keterangan BAP tidak bisa digunakan dalam persidangan. “Pada dasarnya terhadap saksi ini kami juga punya sikap yang sama seperti saksi-saksi lain yang tidak dihadirkan. Artinya kalau saksi tidak hadir yang keterangan BAP tidak digunakan,” kata Penasihat Hukum Wawan, Sadly Hasibuan.

Setelah mempertimbangkan, Majelis hakim yang diketuai Matheus Samiadji akhirnya menyetujui permintaan jaksa. Sebab, belum diketahui secara pasti kapan Ratu Rita sembuh. Namun majelis hakim sepakat dengan keberatan tim penasihat hukum Wawan yaitu keterangan tidak di bawah sumpah, tidak dijadikan sebagai bahan penilaian sepenuhnya.

“Rawat jalan ini enggak jelas waktunya kapan. Kalau seminggu masih rawat jalan terus sidang ini terlambat. Usulan penuntut umum, majelis bisa setujui. Keterangan saksi (Ratu Rita) ini dibacakan. Pendapat penasihat hukum kami catat di berita acara,” kata Hakim Matheus.

Dalam BAP yang dibacakan tersebut, Ratu Rita mengaku mendirikan CV Ratu Samagat pada 2010. Dirinya dan anaknya, Aris Aditya sebagai Direktur Utama (Dirut). Namun Ratu Rita membantah perusahaannya, yang bergerak dibidang pertanian, ternak sapi dan arwana pernah bekerja sama dengan PT Bali Pasific Pragama (BPP), milik terdakwa Wawan.

“Tidak kenal Yayah Rohdiyah, Asep Bardan. Tidak pernah kerja sama dengan Yayah, Susanto, Agam dan PT BPP. Tidak pernah menerima uang dari Yayah, Asep, Agam,” kata jaksa Edy Hartoyo saat membacakan BAP dalam sidang.

Tetapi Ratu Rita mengaku mengenal Susi Tur Andayani sebagai pengacara pada tahun 1993 meskipun membantah pernah berurusan terkait perusahaannya yang diklaim berpenghasilan Rp 200 juta sampai Rp 300 juta setiap bulannya.

Terkait pembacaan BAP tersebut, terdakwa Wawan merasa keberatan dan meminta supaya Ratu Rita tetap dihadirkan dalam sidang, mengingat Ratu Rita adalah pemilik CV Ratu Samagat.

“Saya tetap keberatan, karena itu tidak di bawah sumpah,” kata Wawan dalam sidang. Dalam surat dakwaan Wawan memang disebutkan bahwa Wawan memberikan janji atau hadiah kepada eks Ketua MK Akil Mochtar berupa uang sebesar Rp 7,5 miliar untuk memenangkan Gubernur/Wagub Banten Ratu Atut Chosiyah-Rano Karno, terkait gugatan yang diajukan Wahidin-Irna, Jazuli-Makmun dan Dwi Jatmiko-Tjejep Mulyadinata ke MK.

Pada sekitar Oktober 2011, Wawan menemui Andi di Hotel Ritz Carlton. Dalam pertemuan tersebut Wawan meminta Andi M Asrun menjadi salah satu kuasa hukum pasangan Ratu Atut-Rano Karno untuk menghadapi gugatan perkara di MK.

Kemudian Wawan memerintahkan Ahmad Farid Ansyari, Mochammad Armansyah, Fredi Prawiradiredja, Asep Bardan, Yayah Rodiyah dan Agah Mochammad Noor mengirim uang kepada Akil, dengan cara transfer ke rekening pada Bank Mandiri Cabang Pontianank atas nama CV Ratu Samagat milik istri Akil, Ratu Rita secara bertahap, dengan total Rp 7,5 miliar.

Dengan maksud, seolah-olah terdapat hubungan usaha antara PT BPP dengan CV Ratu Samagat, terbukti, pada 31 Oktober 2011 Ahmad Farid Ansyari mengirim uang Rp 250 juta dan dituliskan “biaya transportasi dan alat berat”. Pada 31 Oktober 2011, Ahmad Farid mengirim uang Rp 500 juta ditulis “biaya transportasi dan sewa alat berat”.

Selanjutnya, pada 1 November 2011, Mochmmad Armansyah mengirim uang secara RTGS dari rekening PT BPP sebesar Rp 150 juta yang ditulis “biaya transportasi dan alat berat”. Kemudian pada 1 November 2011, Ahmad Farid mengirim uang melalui Bank Mandiri Rp 100 juta yang juga ditulis sebagai “biaya transportasi dan alat berat.” Demikian juga pada 17 November 2011, Yayah Rodiah mengirim uang Rp 2 miliar ditulis untuk pembayaran bibit kelapa sawit. Tanggal 18 November 2011, Agah Mo-chamad Noor mengirim uang Rp 3 miliar yang ditulis dengan keterangan “untuk order sawit”. Pada 18 November 2011, Yayah Rodiah kembali mengirim uang dari rekening PT BPP Rp 1,5 miliar yang disebut untuk pembelian alat berat. (mg17/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.