14 Tahun, Banten Masih Miskin

SERANG,SNOL— Pembangunan di tanah Banten belum merata meski sudah ‘merdeka’ dari Jawa Barat sejak 14 tahun lalu dan 11 tahun di pimpin Ratu Atut Chosiyah. Atut menjabat sebagai Gubernur Banten selama 8 tahun dan 3 tahun sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten.

Ketidakmeratanya pembangunan ekonomi di Banten dapat terlihat dari dua wilayah ekstrem antara wilayah utara dan selatan. “Pemerataan pembangunan masih belum merata. Yang paling mencolok infrastruktur jalan,” ungkap Tauhid, Tenaga Pengkaji Perbendaharaan Dirjen Keuangan Negara, pada acara Kementrian Keuangan 2014 Kebijakan fiskal dan Perkembangan Ekonomi Terkini, di Ratu Hotel Bidakara, Kota Serang, Selasa (6/5).

Kendala pemerataan pembangunan ini, lantaran terkendala pada pengadaan barang dan lelang di satuan kerja. Masalah lainnya, Indek Pembangunan Manusia (IPM) di Banten termasuk yang rendah. “Banten menduduki posisi ke 23 dari 33 provinsi,” terangnya.

Hal ini perlu mendapat perhatian pemerintah daerah. Pada wilayah utara, pembangunan sektor industri cukup tinggi. Namun kondisi ini timpang apabila dibandingkan wilayah selatan dengan sektor pertanian yang kurang berkembang.

“Pembangunan Banten ini lebih baik sedikit dari nasional, harusnya bisa lebih baik dari nasional. Seharusnya kesejahteraan di Banten lebih baik dari nasional,” ujar Bambang Juanda, Ketua Program Pascasarjana Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan IPB Bogor di tempat yang sama.

Berdasarkan data BPS tahun 2012, angka kemiskinan di Banten sebanyak 5,71 persen dari 11,75 juta penduduk Banten, sedangkan angka inflasi Banten tahun 2013 setinggi 9,16 persen.

“Patokan angka kemiskinan di Banten itu yang pengeluaran perbulannya sebanyak 300 ribu itu bukan pendapatannya,” tutup Bambang Juanda kepada awak media. (mg-11/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.