Ketua Pencak Silat dan Tokmas Diduga Cabuli Gadis Di Bawah Umur

CILEGON,SNOL—Sebanyak 3 dari 7 terduga pelaku kasus pencabulan terhadap gadis 13 tahun di Kelurahan Kebon Dalem Kecamatan Purwakarta, akhirnya berhasil diciduk Satuan Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Cilegon, Kamis (8/5), sekitar pukul 08.00 Wib malam. Dua dari sekian terduga pelaku adalah tokoh masyarakat dan Ketua salah satu Pencak Silat di Kota Cilegon.

Polisi melakukan penangkapan setelah mendapat laporan dari keluarga korban dan hasil dari pengembangan kasus pada hari sebelumnya. Diantara 3 tersangka tersebut dikenali berinisial RJ, Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Ancab Purwakarta Kota Cilegon. Saat dicek di Mapolres, ada 2 tersangka berinisial Ggn dan Spn yang sedang diperiksa di Ruang Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

 Ketika dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Cilegon AKP Hans Lita mengatakan, dirinya tengah di TKP untuk melakukan pengejaran para terduga pelaku tindakan pencabulan tersebut. “Iya nih saya masih di TKP, masih melakukan pengejaran tersangka di Purwakarta,” ujar Hans Lita via pesan singkatnya.

Hans Litta juga membenarkan diantara yang diduga sebagai para pelaku pencabulan gadis di bawah umur itu adalah Ketua IPSI Purwakarta berinisial RJ. “Iya benar,” katanya.

Kabar tentang penangkapan RJ, dibenarkan Jahuri Ketua RT.01/02 Lingkungan Daliran Kelurahan Kebon Dalem, Kecamatan Purwakarta Kota Cilegon. Selain RJ dan Spn, polisi juga menangkap Ggn. Ketiga pelaku ditangkap di rumahnya masing-masing yang masih satu kampung dengan korban. Hingga saat ini pelaku masih diperiksa di ruang PPA Polres Cilegon.

Kasus dugaan pencabulan itu teruangkap, berawal dari seorang pria berinisial SJ (50) yang menikahi paksa seorang bocah berusia 13 tahun, sebut saja Bunga. SJ ditangkap Unit PPA Polres Cilegon karena diduga telah mencabuli korban dengan dalih menikahi korban tanpa sepengetahuan keluarga.

Informasi tersebut dibenarkan oleh Kapolres Cilegon, AKBP Defrian Donimando, melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (7/5). “Tadi malam pukul 20.00 WIB kami tangkap,” ujar Defrian seraya menjelaskan, setelah mendapat laporan dari keluarga korban, tim PPA langsung bergerak cepat.

“Tersangka sudah diamankan, penangkapan dilakukan di Lingkungan Sukamaju Kecamatan Pulomerak Kota Cilegon,” kata Kapolres.

Berdasarkan keterangan kuasa hukum korban, Alfan Sari dari Posbakumadin (Pos Bantuan Hukum Advokat Indonesia), ternyata sebelum dinikahi paksa oleh SJ, Bunga pernah digilir oleh enam pemuda yang dikenalnya. “Berdasarkan pengakuan korban, sebelum dinikahi paksa, Bunga telah dicabuli secara bergilir oleh 6 pemuda,” kata Alfan melalui sambungan telpon.

Penangkapan Pelaku SJ, kini berkembang. “Diantara 6 orang pelaku pencabulan itu, salah satunya adik pelaku. Yang kami dapat dari pengakuan korban, adik pelaku utama itu tokoh masyarakat (Tokmas) di Kebon Dalem,” jelasnya, tanpa menyebutkan identitas.

Ditambahkannya, apapun pengakuan korban dapat dijadikan keterangan pendukung untuk mengungkap pelaku-pelaku yang turut serta bersama-sama mencabuli korban. “Semua kita serahkan kepada yang berwajib. Ini baru keterangan korban, tapi untuk memastikan, kita serahkan kepada polisi untuk mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Alfan berharap, kasus tersebut tidak dirasakan dan terjadi kepada korban-korban lainnya. Kasus yang menimpa korban yang belum beranjak dewasa ini telah membuat hancur kehidupan dan masa depan korban. “Yang saya sayangkan kenapa ada tokoh masyarakat yang ikut menyetubuhi korban. Itu kan sudah merusak moral masyarakat. Sangat disayangkan kalau itu memang benar,” pungkasnya.

Kini, kluarga korban siap mengawal kasus pencabulan dan nikah paksa yang dilakukan oleh tujuh orang yang sebagian besar warga Kebon Dalem, Kecamatan Purwakarta tersebut. Salah satu keluarga korban, Rahmat, ketika ditemui wartawan di Mapolres Cilegon, Jum’at (9/5) mengatakan, pihaknya kan mengawal terus kasus tersebut hingga tuntas. “Kami akan kawal terus kasus ini. Siapapun pelakunya, entah tokoh masyarakat ataupun aparat, kami tidak takut. Yang kami takutkan adalah hanya satu, Allah SWT,” ujar Rahmat.

Enam Kasus Pencabulan Ditangani Polres

Sementara di Kabupaten Pandeglang, Sedikitnya enam kasus pencabulan dengan korban anak di bawah umur, ditangani satuan Reskrim Polres Pandeglang. Diantaranya, lima kasus sudah dilimpahkan ke kejaksaan, dan satu kasus lainnya masih dalam proses penyelidikan. Hal itu diketahui dari data yang dilaporkan dan ditangani Reskrim Polres setempat periode Januari – April 2014.

Kapolres Pandeglang AKBP Anwar Sunarjo didampingi Kanit PPA Satreskrim Polres Ipda Bate’e mengatakan, dibandingkan tahun lalu (2013) hingga periode April, jumlah kasus serupa mencapai 7 kasus yang ditanganinya. “Untuk usia korban mulai dari 6 tahun sampai 12 tahun, dan rata-rata pelakunya kenal dengan korban atau orang dekat korban,” kata AKBP Anwar, Jum’at (9/5).

Ada beberapa hal penyebab pencabulan. Diantaranya karena ditinggal istri (Duda,red), akibat prustasi, faktor dorongan nafsu dan lemahnya iman. Bahkan, korban mengalami depresi berat dan berkepanjangan. Dari enam korban cabul di tahun 2014, satu orang diantaranya masih depresi berat sampai sekarang.

Mirisnya lagi, pelaku pencabulan itu ada yang sudah usia lanjut alias kakek tua dengan usia 50-60 tahun lebih. Bahkan, korban juga ada yang dicabuli lebih dari 2-3 kali oleh pelakunya. Dengan demikian, para korban harus mendapatkan pendampingan atau pembinaan dari satuan terkait.

“Korban pencabulan rata-rata mengalami depresi. Oleh karena itu butuh pendampingan yang intensif sehingga mengembalikan kembali semangat hidupnya,” tambahnya.

Kanit PPA Satreskrim Polres Pandeglang Ipda Bate’e mengatakan, selama ini koordinasi dengan instansi pemerintah daerah, melalui Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Badan Pemberdayan Perlindungan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) dan beberapa instansi terkait lainnya. “Selain persoalan data kasus, penanggulangan, juga kami berkoordinasi terkait langkah pendampingan korban,” ujarnya.

Pria berbadan kekar ini juga mengatakan, kasus yang masih dalam proses yaitu seorang kakek Sapri (69) mencabuli dan menggauli bocah dibawah umur, sebut saja Mawar (6), warga Kampung Citapen Desa Manggung Jaya Kecamatan Bojong. Korban adalah tetangga pelaku.

Peristiwa pencabulan itu dilakukan di pemandian umum atau sumur pancuran di kampung setempat. Mawar yang hendak mandi dengan telanjang bulat tanpa pakaian, tiba-tiba dirayu si kakek bejad akan diberi uang jajan Rp 1000, asal mau dimandikan olehnya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, pelaku mendekam di sel Mapolres Pandeglang. Dan ia dijerat pasal 81 dan atau pasal 82 Undang-undang RI Nomor 23 tahun 2002, Tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. (mg13/mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.