Ratu Atut Interogasi Saksi

Sidang Kasus Suap Sengketa Pilkada Lebak

JAKARTA,SNOL—Ratu Atut Chosiyah belum kehilangan kharismanya. Terdakwa kasus suap pengurusan sengketa Pilkada Lebak di Mahkamah Konstitusi (MK) itu tampil lugas saat mengintero-gasi saksi dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta, Selasa (13/5).

Sidang kedua dengan terdakwa Atut Chosiyah digelar dengan agenda pemeriksaan saksi advokat Susi Tur Andayani dan mantan Ketua KPUD Lebak, Agus Sutisna. Memakai baju batik berwarna cokelat dan kerudung berwarna hi tam, Atut tiba di Pengadilan Tipikor sekira pukul 08.45 WIB dengan mobil tahanan KPK. Dia langsung menuju ke lantai 1 gedung Pengadilan Negeri Tipikor dengan kawalan ketat ratusan polisi. Atut yang baru saja dinonaktifkan dari jabatannya sebagai Gubernur Banten itu sempat menemui kerabat yang datang menjenguk. Tampak anak pertama Atut, Andika Azrumy bersama istrinya Ade Rossi. Andiara Aprillia Hikmat bersama suaminya, Tanto W. Arban. Ada juga anak bungsunya, Ananda Triana Salichan. Selain itu, hadir adik Ratu Atut, Ratu Tatu Chasanah dan kerabat lainnya.

Sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim, Matheus Samiadji dimulai pukul 09.13 WIB. Keluarga Ratu Atut langsung mengisi kursi paling depan dan diikuti dengan para kerabat lainnya. Mereka sangat menyimak persidangan yang berlangsung.

Sidang dimulai dengan penolakan Jaksa Penuntut Umum terhadap kehadiran dua pengacara Atut. Penolakan disampaikan karena keduanya disebut telah mempengaruhi saksi saat masih di proses penyidikan. Dua pengacara Atut itu ialah Tubagus Sukatma dan Andi Simangunsong. Keberatan tersebut disampaikan Jaksa Eddy Hartoyo saat disidang pemeriksaan sejumlah saksi untuk Atut tengah berjalan.

“Kami keberatan dengan kehadiran dua orang penasihat hukum, Yang Mulia,” ujar Jaksa Eddy, kemarin (13/5). Eddy mengaku memilii bukti kuat Sukatma dan Simangunsong mempengaruhi saksi saat proses penyidikan Atut masih berjalan di KPK.

“Jika keduanya masih di persidangan, maka bisa juga mereka nanti mempengaruhi keterangan saksi,” terang Eddy. Mendengar hal itu, kuasa hukum Atut lainnya Maqdir Ismail menyanggah. Menurut dia keberatan Jaksa tersebut tidak ada dasarnya dalam kode etik. “Yang dilarang itu pengacara menemui saksi yang sudah ditetapkan penuntut umum di persidangan, bukan di penyidikan,” ungkap Maqdir.

Ketua Majelis Hakim Matheus Samiadji menyatakan sudah membaca permohonan keberatan tim JPU. Namun majelis belum bisa memutuskan permohonan itu dengan alasan ada hakim lain yang belum membaca keberatan jaksa.

Namun dalam pandangan pribadi Matheus, kedua pengacara Atut itu tetap bisa mendampingi kliennya. “Sebab perbuatan tersebut dilakukan setelah kasus mulai disidik KPK,” ungkapnya. Matheus berjanji akan memutuskan permohonan tersebut pada persidangan selanjutnya.

Persidangan kemudian dilanjutkan dengan meminta keterangan saksi yakni advokat, Susi Tur Andayani dan mantan Ketua KPU Lebak, Agus Sutisna. Keduanya diminta keterangan secara bersamaan. Dalam keterangannya, Susi mengaku mengenal Akil Mokhtar sejak tahun 1996. Dia pernah tinggal di rumah Akil dan juga bekerja di lawfirm milik mantan Ketua MK tersebut. Susi mengaku tidak pernah bertemu dengan Akil Mochtar selama menangani sengketa Pilkada Lebak.

Dalam dakwaan, Atut bersama adiknya Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan disebut menyuap Mantan Ketua MK Akil Mochtar dalam kasus sengketa Pilkada Lebak. Atut didakwa memberi uang 1 Miliar kepada Akil lewat Susi Tur Andayani. Uang itu diberikan dengan maksud mengabulkan permohonan gugatan pasangan Amir-Hamzah-Kasmin.

Dalam kesaksian di persiangan kemarin, Susi Tur Andayani mengatakan dia menelepon Akil pada 28 September 2013 karena Amir Hamzah dan Kasmin menggugat hasil Pilkada Lebak ke MK dan menuntut dilakukan pemungutan suara ulang. Dalam pembicaraan itu, Akil meminta uang Rp 3 miliar disiapkan agar Amir bisa dimenangkan. Susi pun bergerak mencari dana. Dia mendapatkan Rp 1 miliar dari Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, adik Gubernur Banten Ratu Atut. Namun jumlah itu tentunya masih kurang. Hingga tanggal 1 Oktober, saat putusan sela sengketa Pilkada tersebut akan dibacakan, uang Rp 3 miliar belum terkumpul.

“Saya SMS Pak Akil, pak tolong bantu saudara saya. Saya sudah siap 1,” ujar Susi. Akil membalas SMS tersebut, dengan kalimat ketus. “Nggak usah semua. Biar kalian kalah, nggak sesuai janjinya,” ujar Akil seperti ditirukan Susi. Susi lalu membujuk Akil. Dia meminta agar Akil memberi waktu karena uang Rp 3 miliar harus disiapkan. Pada siang harinya MK memutuskan Pilkada ulang di Lebak, sesuai dengan permintaan Susi. Uang Rp 1 miliar dari Wawan itu belum sampai ke Akil karena esok harinya, Susi dan Akil serta Wawan tertangkap KPK.

Setelah mendengar kesaksian Susi, Atut kemudian mendapatkan kesempatan mengajukan pertanyaan. Atut memulai pertanyaan dengan menanyakan kepada Susi terkait siapa yang berinisiatif mengurus kasus pilkada lebak di MK.

“Siapakah sebenarnya yang memiliki inisiatif mengurus pilkada Lebak ini dan meminta bantuan kepada Akil termasuk memberikan uang?,” tanya Atut kepada Susi dengan intonasi tegas seperti yang biasa dia lakukan saat menjadi gubernur.

“Jadi pada saat pak Amir meminta saya masuk ke tim, itu tidak kelihatan bahwa pak Amir memang berambisi untuk menang. Jadi beliau pesan kalau beliau minta dibantu sampai dilantik,” jawab Susi.

“Jadi yang memiliki inisiatif ini siapa?,” cecar atut.

“Kalau inisiatif tidak ada siapa, tetapi karena itu berkembang dilingkungan pak Amir, ada informasi mereka mau pake uang. Dari situ mulai galau dan mencari informasi ke dalam MK ba-gaimana proses perkembangan itu?!” jawab Susi lagi.

“Apakah saudara Amir yang memiliki inisiatif atau saudari sendiri?,” tanya Atut lagi.

“Kalau inisiatif tidak, tapi dari cerita itu saya menanggapi bahwa kita memang harus berjalan. Dengan adanya informasi makanya saya SMS pak Akil tapi saya tidak berpikiran bahwa pak akil meminta uang,” jawab susi.

“Jadi bukan perintah dari saya atau saudara wawan?,” tanya atut.

“Tidak ada, perintah ke saya tidak ada,” kata susi.

“Baik, saudari menyadari bahwa setiap kali saudari berbicara melalui telepon mengenai lawan bicara saudari mengenai kasus pilkada lebak selalu menyinggung dan menyangkut nama saya dan sampai saat ini saya menjadi terdakwa. Saya merasa betul-betul menjadi korban dalam hal ini. Sementara saya yang disebut-sebut namanya tidak pernah tahu perkembangan apa yang sebenarnya terjadi karena pada saat awal pertemuan tanggal 26 di hotel Sultan. Saya telah meminta kepada saudara Amir Hamzah-Kasmin untuk tidak melakukan gugatan sengketa pilkada lebak dikarenakan selisihnya sangat besar. Saudari menyadari saya jadi korban?,” beber Atut.

“Saya menyadari karena saya tahu informasi ibu ke singapur dari Amir. Saya tidak pernah berkomunikasi dan berhadapana dengan bu Atut,” kata susi.

“Sekarang saya jadi korban,” kata Atut

“Ya saya minta maaf,” kata Susi disambut sorakan para pendukung Atut. Seusai Tanya jawab Atut – Susi, sidang dilanjutkan dengan memperdengarkan rekaman pembicaraan antara Susi dengan Akil Mokhtar serta pembicaraan Susi dengan Amir Hamzah.

Sebelum sidang ditutup, penasehat hukum Ratu Atut memberikan surat permohonan kepada majelis hakim agar terdakwa diizinkan memeriksakan kesehatan lanjutan di rumah sakit. Namun, majelis hakim menyarankan agar terdakwa berobat di Rutan. Kalau tidak memungkinkan agar meminta rekomendasi dari dokter rutan, baru nanti diizinkan. Menurut anak pertama Ratu Atut, Andika Az-rumy, ibunya mengalami sakit di bagian paru-paru yang menyebabkan demam.

Persidangan berakhir pukul 13.00 WIB. Ratu Atut langsung menuju ruangan terdakwa dan bertemu dengan keluarga dan kerabat. Kemudian, sebelum kembali ke Rutan, Atut menyempatkan sholat di musholla Tipikor bersama keluarga. Sekira pukul 13.51 Wib, barulah dia kembali ke Rutan dengan dikawal ketat oleh kepolisian. (mg-17/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.