Ciwandan Kembali Dihujani Debu Pabrik

Diduga dari PT Cemindo Gemilang

CILEGON,SNOL– Warga Lingkungan Warung Kara Kelurahan Kepuh Kecamatan Ciwandan, mengeluhkan debu halus yang mencemari udara di kawasan Ciwandan. Hujan debu yang diduga berasal dari pabrik Semen merek Merah Putih milik PT Cemindo Gemilang itu sudah terjadi sejak sebulan lalu.

Perusahaan yang berlokasi di depan persimpangan jalur lingkar selatan (JLS) tersebut lokasinya berdekatan dengan pemukiman warga. Ketua RT.05/01, Mijo mengatakan, debu halus yang mengotori rumah dan halaman warga itu dikhawatirkan akan mengancam kesehatan mereka. “Saya khawatir debu ini bisa mengganggu kesehatan warga. Bahkan awal bulan ini ada tim kesehatan dari provinsi untuk mengecek kesehatan warga,” kata Mijo, saat ditemui di tempat tinggalnya, kemarin.

Debu tersebut mengarah tepat ke pemukiman warga yang diperkirakan jaraknya kurang dari satu kilometer. Bahkan material seperti bubuk semen juga masuk ke rumah warga.

 “Kalau debu ini sampai terhirup oleh anak-anak, mungkin bisa sampai kena penyakit pernapasan,” ujar Mijo.

Saat dikonfirmasi, humas PT Cemindo Gemilang yang akrab dipanggil bapak Aos, enggan berkomentar. Ia mengaku kurang mengetahui kondisi yang terjadi dan meminta wartawan untuk meminta konfirmasi ke bagian operasional. “Aduh saya kurang tahu masalah itu. Kalau mau informasi itu silahkan bapak hubungi pak Budi manajer operasional kami,” kilahnya.

Wartawan pun mendatangi pabrik yang berada tepat di pintu keluar JLS Cilegon itu, untuk tujuan menemui manager operasional yang dimaksud Aos. Hanya saja harapan itu tidak tercapai, karena pihak keamanan pabrik tersebut tidak mengijinkan wartawan untuk menemui manajer tersebut.

Sementara itu, warga Kelurahan Kepuh hingga kini masih was-was dan menunggu pernyataan resmi dari pihak perusahaan terkait dugaan pencemaran debu dari PT Semen Merah Putih itu. “Harusnya pihak perusahaan segera melakukan pengecekan di lapangan, apakah pencemaran debu itu dari perusahaan mereka atau bukan,” ujar Nazmudin, salah seorang warga setempat.

Kesabaran warga sepertinya diuji, warga pun mengancam akan menggelar aksi demo sebagai bentuk protes pada perusahan tersebut Selasa (20/5) ini, di pintu masuk perusahaan itu. Masyarakat kesal karena perusahaan masih tidak mau bicara soal debu halus yang menghujani warga.

Nazmudin dan warga di kampungnya akan mengadakan aksi meminta kejelasan debu yang mencemari udara di daerahnya itu. Bahkan menurut pemuda yang disapa Mumu tersebut, keluhan warga yang disampaikan kepada pihak perusahaan semen itu seperti dianggap sebuah angin lalu, sehingga tidak ada tanggapan untuk berbagai aspirasi yang pernah disampaikan.

“Ya gimana kang, sampai sekarang aja pihak pabrik semen merah putih gak ngasih penjelasan apa-apa terkait kondisi yang sedang terjadi di Kepuh ini,” ujar Mumu kepada wartawan, seraya menambahkan, hingga saat ini masyarakat sebenarnya masih menunggu kejelasan dari pihak perusahaan tersebut, sehingga permasalahan ini segera bisa diselesaikan dan tidak berlarut natinya.

“Saya harap pihak Semen Merah Putih bisa lebih kooperatif dengan masyarakat sehingga permasalahan ini tidak berlarut,” tegasnya.

Menanggapi laporan masyarakat serta temuan di lapangan terkait dampak lingkungan yang diakibatkan pembangunan dan operasional produksi Pabrik Semen Merah Putih, Badan lingkungan Hidup (BLH) Kota Cilegon, memanggil manajemen PT Cemindo Gemilang, Senin (19/5). Alasan pemanggilan tersebut adalah untuk meminta konfirmasi terkait permasalahan debu yang terjadi di Ciwandan belakangan ini. Humas PT Cemindo Gemilang, Aos, membenarkan adanya pemanggilan tersebut. “Iya, hari ini pihak kami sedang bertemu dengan BLH Kota Cilegon,” ujar Aos.

Kepala Bidang Pengendalian Lingkungan Hidup BLH Kota Cilegon Rasmi Widyani mengatakan, pemanggilan manajemen perusahaan tersebut untuk meminta konfirmasi berkaitan dengan temuan tim BLH soal belum dikerjakannya penghijauan yang menjadi bagian untuk pengurangan dampak debu dari proses produksi semen. “Pemanggilan pihak manajemen Semen Merah Putih itu untuk minta konfirmasi dari mereka terkait temuan kami,” kata Rasmi, Senin (19/5).

Dia berasumsi, debu ini muncul saat transportasi Klinker semen dalam proses grendeng. Debu juga berasal dari jalan. “Asumsi sementara saat ini debu itu mungkin berasal dari jalan dan proses transportasi klinker semen,” tukasnya. (mg13/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.