Sekolah Disegel, Siswa PAUD Belajar di Jalan

TANGERANG SELATAN,SNOL– Segel bambu gedung sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) Sekar Melati di Jalan Reformasi III, RT 03/02 Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan belum dibuka hingga kemarin (20/5). Namun siswa di sekolah itu kembali menjalani rutinitas belajar. Bagaimana suasananya ?

Matahari menanjak tinggi kala jarum jam menunjukkan angka 8. Sekitar 30 bocah kecil berusia 3 hingga 4 tahun siswa PAUD Sekar Melati berkumpul dengan mengenakan busana muslim serba putih di tengah Jalan Reformasi III, Pondok Jaya, Pondok Aren. Mereka  duduk di atas tikar yang sudah digelar di atas aspal jalanan depan sekolah.

Dipandu tujuh orang guru, puluhan anak-anak lucu itu mengawali proses belajar dengan gembira. Mereka membaca doa belajar, bernyanyi kemudian menggambar. Di tengah pelajaran, tampak beberapa siswa menangis dan protes karena kepanasan.

“Nek, panas,” teriak seorang siswa, Bima Kenzabar (3,5) kepada Icung (53), neneknya yang mengantar ke sekolah. Selang beberapa lama, Bima menangis histeris mencari keberadaan neneknya. “Mau pulang, panas,” isaknya sembari memeluk sang nenek. Icung berusaha menenangkan Bima yang terus menangis. Perempuan berkerudung itu mengatakan kalau cucunya tidak pernah serewel ini. Biasanya, Bima lincah dan selalu terlihat riang di dalam kelas.

“Ini karena tidak nyaman belajar jadinya rewel begini. Ada-ada saja, masak kelas disegel. Kasihan kan anak-anak,” tutur Icung. Tidak hanya Bima, Askia (4), siswa lainnya juga terus mengajak ibunya pulang. Melihat anak didiknya gelisah, pihak PAUD memulangkan siswanya lebih cepat. Seharusnya belajar dari jam 8 pagi selesai jam 11 siang. Namun karena belajar di tengah jalan, jam belajar hanya sampai jam 9.30 saja.

“Mau bagaimana lagi, anak-anak sudah rewel. Seharusnya hari ini ada jam belajar menari, tapi karena kepanasan jadinya jam pelajaran tersebut kami hapuskan,” ungkap Margiati, Kepala Sekolah PAUD Sekar Melati.

Menurut Margiati, hanya setengah dari jumlah siswanya yang datang. Seharusnya ada 60 siswa, namun yang datang hanya 30 saja. Pada Kamis mendatang saat jam pelajaran berikutnya, Margiati akan mengungsikan siswanya ke Mushola Al Hikmah yang tak jauh dari lokasi PAUD, untuk lokasi belajar mengajar mereka.

“Sementara ngungsi dulu ke mushola belakang. Daripada nungguin segel dibuka, kemudian anak-anak belajar di jalanan begini. Saya enggak mau,” tuturnya.

Sebenarnya, Margiati ingin saja memindahkan PAUD nya, namun pihaknya menginginkan melihat langsung sertifikat tanah yang selama ini diklaim Gacho Sunarso. Selama empat tahun terakhir, orang-orang yang datang mengaku sebagai suruhan Gacho, tidak pernah membawa sertifikat kepemilikan tanah.

“Kami memang pernah menerima surat somasi pada pertengahan April lalu. Tapi surat somasi itu tidak dilampirkan dengan surat kepemilikan lahan ini. Makanya kami ingin lihat surat itu,” paparnya. Menurut Margiati, lahan seluas 150 meter persegi itu dulunya adalah rawa. Kemudian oleh warga diurug dan dijadikan balai warga untuk berbagai kegiatan. Namun empat tahun terakhir, barulah ada ahli waris atas nama Gacho Sunarso yang mengaku memiliki lahan tersebut.

“Awalnya kami menggratiskan sekolah ini. Namun untuk menggaji, kami memungut iuran Rp 20 ribu per bulan per siswanya. Guru pun kami gaji Rp 100-170 ribu saja per bulan,” tutur Margiati.

Di lain pihak, Gacho Sunarso mengaku, tanah tersebut sebenarnya sudah dia miliki sejak 10 tahun lalu. Ketua Komisi IV DPRD Kota Tangsel ini memiliki sertifikat lahan tersebut atas nama istrinya, Ratna.

“Atas nama istri saya. Jadi terserah saya mau dibangun apapun di lahan ini, sertifikat tanah pun sudah saya miliki,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, Mathodah menyayangkan aksi penyegelan terhadap balai warga oleh Gacho Sunarso, anggota DPRD Kota Tangsel. Menurutnya, kalaupun tanah tersebut atas nama pribadi, persoalan bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan tanpa mengorbankan nasib belajar mengajar puluhan siswanya.

“Seharusnya pemilik lahan ajak ngobrol pemilik PAUD atau warga sekitar. Jangan sampai mengorbankan siswanya,”tutur Mathodah. Meski demikian, Mathodah mengaku akan men-gontrol langsung ke PAUD Sekar Melati, memantau langsung proses belajar mengajar.

“Kami pastikan agar tidak terganggu,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan, Gacho Sunarso menyegel balai warga di Jalan Reformasi III RT 05/RW 02 Kampung Rawa Gledek, Pondok Aren Kota Tangerang Selatan sejak Kamis (15/5) lalu. Akibatnya, aktivitas warga di gedung yang digunakan untuk Posyandu hingga PAUD Sekar Melati itu terhenti. Penyegelan dilakukan Gacho karena kecewa kalah di RT 05/02 Kampung Rawa Gledek Pondok Aren dalam pemungutan suara pada Pemilu Legislatif 2014 lalu. (pramita/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.