Dua Terdakwa “Berantem” Dipersidangan

SERANG,SNOL— Dua terdakwa kasus dugaan korupsi pemotongan dana bantuan alat peraga edukatif (APE) 2013 pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Sri Tresnadewi dan Elis Maryati, saling menyangkal melakukan iniastif pemotongan terhadap dana bantuan.

Menurut terdakwa Elis Maryati, inisiatif adanya pemotongan tersebut datang dari Sri Tresnadewi Kepala Seksi Kesetaraan dan Pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pandeglang yang saat itu meminta pemotongan 50 persen, namun lembaga penerima bantuan yang disalurkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendikbud yaitu lembaga Permata Hati menolak, sehingga Elis disuruh mencari kembali lembaga yang mau dipotong.

‘Yang pertama kali mengusulkan pemotongan itu Bu Sri, ke lembaga Permata Hati, namun karena ditolak saya suruh nyari yang mau dipotong 50 persen” ujar terdakwa saat menjadi saksi mahkota dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Serang, kemarin.

Namun keterangan tersebut dibantah oleh terdakwa Sri Tresnadewi yang juga dihadirkan sebagai saksi mahkota untuk terdakwa Elis. Sri mengungkapkan bahwa Elis Maryati yang lebih dahulu menjanjikan akan memberikan bagian jika lembaga di Kecamatan Kaduhejo menerima bantuan.

“Jangan lupa kepada saya, nanti juga ada untuk ibu (menirukan bahasa terdakwa Elis),” kata Sri Tresnadewi dihadapan majelis hakim.

Keterangan Sri langsung disabut Elis dengan membantah bahwa Elis tidak pernah menyampaikan perkataan seperti itu. “Ga bu, saya gak pernah ngomong gitu karena lembaga di daerah saya pasti giliran dapat bantuan,” sangkal Elis.

Selain tidak pernah berbicara sesuai apa yang disampaikan terdakwa Sri, Elis juga menyuruh Ibu Yoyoh salah satu pengurus lembaga penerima bantuan untuk mencairkan dana bantuan dan melakukan pemotongan atas perintah Sri. “Itu bu Yoyoh suruh ngecek karena yang lain sudah cair,” ujar Elis menirukan perintah Sri Trisnadewi.

Sebelum pencairan dana tersebut di bank, Elis meminta kesedian Yoyoh memberikan bagian untuk UPT Kecamatan Kaduhejo. “Banyak bu, Kepala UPT Kecamatan, yang ada di UPT,” kata Elis.

Setelah menyuruh Yoyoh, kemudian Elis menerima uang sebesar Rp6.2 juta. Dengan rincian, Rp5 juta diperuntukan kepada terdakwa Sri Tresnadewi, Rp500 ribu untuk jasa pembuatan Lpj, Rp100 ribu untuk transport Elis dan Zaenal (yang mengantar Elis), Rp600 ribu diperuntukkan UPT. “Yang nentuin nilai bu Yoyoh, tidak nentuin basa-basi. Cuma saya kasih tau aja bu Yoyoh buat kasih buat UPT,” kata Elis yang menjabat sebagai koordinator Kecamatan Kaduhejo di hadapan hakim Naisyah Kadir.

Dalam dakwaan sebelumnya, kedua terdakwa dituduh melakukan korupsi. Karena kedua terdakwa melakukan pemotongan terhadap 9 lembaga penerima bantuan dengan nilai pariatif antara Rp1 juta hingga Rp 6 juta. Selain dana APE, tujuh lembaga dari 93 lembaga penerima BOP memberikan uang kepada terdakwa sekitar Rp2 juta lebih perlembaga. (bagas/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.