Penebangan Kayu di Blok Gudawang Diduga Ilegal

LEBAK,SNOL–Warga Desa Margaluyu menduga telah terjadi kegiatan illegal logging (penebangan pohon secara liar) di dalam kawasan hutan milik Perum Perhutani di Blok Gudawang, Desa Margaluyu Kecamatan Sajira Kabupaten Lebak. Pelakunya yang mendalagi aktivitas itu diduga merupakan beberapa orang dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Lebak.

Oknum tersebut menebang beberapa pohon kayu keras jenis mahoni milik negara. Untuk mensiasati agar tidak terlihat, kayu tersebut diselipkan diantara berbagai jenis kayu putih (kayu rakyat).

Seperti diketahui, hutan milik Perum Perhutani di Blok Gudawang memiliki luas sekitar 50 hektare dengan jumlah pohon ribuan. Hutan tersebut diisi dengan tanaman kayu produksi seperti mahoni, damar, jati dan lain-lain.

“Saya melihat kegiatan penebangan liar ini sejak dua minggu lalu. Kegiatan penebangan tersebut dilakukan oleh pengurus LMDH Lebak. Penebangan pohon itu sudah mencapai sekitar 10 persen dari jumlah pohon yang ada,” kata Solihin (40), salah satu warga Desa Margaluyu, kemarin.

Warga sudah mempertanyakan prihal penebangan pohon kayu tersebut ke pihak LMDH Lebak, namun belum pernah ditanggapi. “Mungkin ke depan akan kita adukan ke Perum Perhutani dan Pemkab Lebak,” papar Solihin.

Salah satu pengurus LMDH Lebak, Sarim, membantah jika pihaknya melakukan penebangan kayu jenis mahoni secara liar. Dia berdalih hal itu sudah seizin dari pihak Perum Perhutani (legal) dan diketahui oleh Ketua LMDH. ”Saat ini di blok tersebut sedang ada kegiatan pembersihan.  penebangan ini legal karena seizin pihak Perhutani dan Ketua LMDH. Jadi bila ingin lebih jelas silahkan tanyakan langsung saja pada ketua LMDH setempat,” ungkap Sarim.

Suhada (37), pengusaha yang membeli kayu di lahan  Perum Perhutani yang juga sebagai guru PNS di lingkungan UPT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kecamatan Sajira, mengaku bahwa dirinya yang membeli kayu-kayu tersebut langsung dari LMDH atas seizin pihak Perhutani. ”Penebangan ini disaksikan langsung oleh pihak Perum Perhutani, jadi tidak ilegal. Adapun untuk kayu jenis mahoni, saya hanya membeli sebanyak 6 pohon. Lebih jelasnya silahkan tanyakan langsung kepada ketua LMDH Lebak yakni H Udang. Selama ini kami sudah sering bekerjasama dengan pihaknya,” akunya.

Terpisah, Edi, mandor Perum Perhutani saat dikonfirmasi mengaku tidak mengetahui adanya kegiatan pembersihan di Blok Gudawang tersebut. Termasuk adanya penebangan kayu mahoni. ”Mungkin bisa saja ada penebangan kayu, tapi dilakukan oleh mandor lain. Sementara saya sebagai mandor juga tidak mengetahui ada kegiatan penebangan,” paparnya singkat.

Ketua LMDH Lebak H Udang hingga Jumat (30/5) sore, belum bisa dimintai keterangan. Berkali-kali ponselnya dihubungi namun selalu dalam keadaan tidak aktif. Udang juga tak membalas layanan pesan singkat yang dikirimkan wartawan. (ahmadi/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.