Beras, BBM dan LPG Naik, Sembako Menyusul

SERANG,SNOL— Pemerintah kembali menaikkan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) kemasan 12 kilogram (kg) sejak Minggu 1 Maret 2015. Bahkan harga beras sudah lebih dulu melambung hingga mengejutkan warga. Diperkirakan harga sembako juga bakal menyusul naik.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan, harga premium terbaru untuk wilayah luar Jawa-Bali-Madura adalah Rp6.800/liter atau naik dari sebelumnya Rp6.600/liter. Di Jawa-Bali-Madura, harga premium naik dari Rp6.700 menjadi Rp6.900/liter.

Informasi yang dihimpun dari beberapa agen resmi Gas LPG di Kota Serang, sebelumnya harga LPG 12 Kg sebesar Rp129.000/tabung, saat ini naik Rp5.000 jadi Rp134.000/tabung. “Saya bayar seperti biasa Rp129.000, tapi dikasih tahu sama penjualnya bahwa harga elpiji sudah naik menjadi Rp134.000/tabung. Saya kaget sekali karena ikut-ikutan naik kaya BBM,” kata salah satu pembeli, Yatna kepada Satelit News, Senin, (2/3).

Bukan hanya harga yang dikeluhkan, warga juga megaku kerap menemukan tabung gas yang sudah tidak penuh lagi. Terlebih ketika membeli di pedagang eceran yang bukan merupakan agen resmi gas LPG.

Menurut pengakuan warga, berkurangnya isi tabung dilakukan oleh oknum tertentu. Hal itu dilakukan untuk meraup keuntungan yang lebih besar. Selain ilegal, tentu saja merugikan konsumen. Ditambah lagi dengan harga yang mahal.

‘’Harga sudah naik. Gas 12 Kg tersebut isinya ada yang hanya setengah. Kami sangat berharap kepada pemerintah agar memperketat pengwasan dan menindak oknum yang tidak bertanggungjawab, supaya masyarakat tidak tertipu lagi,” harap Yatna.

Senada diungkapkan Nunung (35), pedagang nasi uduk dan gorengan. Menurutnya, kenaikan harga gas ini sudah membebani masyarakat, terlebih yang membutuhkan elpiji untuk usaha seperti kuliner. Dengan naiknya harga elpiji maka otomatis biaya produksi juga akan meningkat. ‘’Tambah pusing mbak, gas 3 kg sulit didapat, sekarang 12 kg malah naik. Saya yang jualan juga bingung naekin harganya,” keluhnya.

Sebelumnya, harga beras sudah lebih dulu mengalami kenaikan. Bahkan kenaikannya hingga di atas 20 persen. Akibat kenaikan itu, pemerintah memutuskan menurunkan beras untuk rakyat miskin (Raskin) demi menstabilkan harga.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Tangerang, Sayuti mengatakan, kenaikan beras diakibatkan gagal panen di beberapa sentra pertanian. Akibatnya, pasokan berkurang sehingga membuat pedagang menaikkan harga.

Berdasarkan evaluasi data bahan pokok Disperindagkop Kota Tangerang, beras jenis IR I mengalami kenaikan sekitar 20 persen dari 10.500 rupiah menjadi 12.500 rupiah. Sedangkan untuk IR II mengalami kenaikan sekitar 12 persen dari 9.800 rupiah per kg menjadi 11.000 rupiah per kg. Data tersebut diambil pada 20 Februari 2015 di tiga pasar yakni Pasar Anyar, Malabar dan Ciledug.

“Itu penting untuk mencegah para spekulan yang menyebabkan harga beras naik. Kita sedang monitor perkembangannya,” kata mantan Kepala BKPP Kota Tangerang itu.

Berbeda dengan pandangan Sayuti, kalangan anggota DPRD Provinsi Banten justru menuding harga beras melambung karena ada mafia beras di Banten yang bermain. Disperindag dan Bulog diminta untuk turun tangan dengan rutin melakukan operasi pasar.

Ketua DPRD Banten, Asep Rahmatullah, Minggu (1/3) mengatakan,  Banten merupakan wilayah yang surplus dalam produksi beras. Karenanya aneh bila dipasaran, harga kebutuhan komoditi tersebut melambung mencapai Rp12 ribu per kilogram.

“Provinsi Banten catatan tiap tahunnya surplus atau menyumbang terhadap pangan nasional. Yang perlu kita cermati, kondisi di pasar inilah yang harus betul-betul bisa diantisipasi. Saya melihat dalam hal ini Bulog juga tidak mampu memetakan kondisi pasar,” kata Asep.

Berdasarkan Angka Sementara (ASEM) 2013 BPS Provinsi Banten, diungkapkan Asep,  capaian produksi padi sebesar 2.083.608 ton. Dengan jumlah penduduk Banten pada 2013 sebanyak 11.248.947 jiwa, maka kebutuhan konsumsi beras sebanyak 100,8 kg per kapita per tahun. Artinya akan diperoleh surplus beras di Banten pada tahun tersebut yang mencapai 75.483 ton.

Politisi PDI-P ini menyesalkan kenaikan harga beras di pasaran, tidak berdampak positif terhadap petani. Hal itu disebabkan para petani telah menjual hasil panennya jauh sebelum panen tba, alias dengan sistem ijon.

“Nah ini berarti ada mekanisme pasar yang tidak mampu dideteksi oleh pemerintah,” terangnya.

Asep meminta Bulog dan Disperindag, rutin melakukan operasi pasar untuk menekan harga beras. “Ini ada penimbunan, ada mafia, yang dikuasai segelintir orang,” jelasnya.

Sementara untuk menekan kenaikan harga beras di pasaran, Bulog Sub-Divre Serang intensifkan operasi pasar. Sabtu (28/2) Bulog menggelar OP  di Pasar Lama dan Pasar Induk Rau, Kota Serang.

Kepala Bulog Sub-Divre Serang Guntur Bustomi menjelaskan, pihaknya menyediakan 12 ton beras untuk rakyat miskin (raskin) untuk didistribusikan di Pasar Lama dan Pasar Induk Rau, masing-masing pasar 6 ton.

“Pada operasi pasar tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Kami menyediakan beras dengan satu kemasan per 5 kg seharga Rp7.400 per kg lantaran kebutuhan masyarakat tidak perkarung,” ungkap Guntur.

Operasi pasar melalui Bulog Mobile tidak menyalurkan raskin melalui kios atau pedagang beras, tapi langsung ke pasar. “Kegiatan ini disesuaikan dengan perkembangan harga beras di pasaran dan akan dilakukan sampai akhir Maret menjelang musim panen. (metty/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.