11 Anak Alami Pelecehan Seksual

TIGARAKSA,SNOL—Sebanyak 11 anak di Kabupaten Tangerang mengalami kasus kejahatan pelecehan seksual. Mirisnya, kasus ini terjadi dalam kurun waktu 4 bulan terakhir. Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan dan Pemerintahan Desa (BPMPPD),

Dhian Hartati mengungkapkan, sejak Januari hingga saat ini ada 11 anak yang mengalami kejahatan seksual. Jumlah tersebut tergolong tinggi jika dibandinkan dengan data pada tahun 2014 sebanyak terdapat 18 kasus kekerasan pada anak.

            Menurutnya, tindak kekerasan pada anak terutama kejahatan seksual justru para pelakunya adalah orang-orang yang dipandang mampu menjaga keamanan. Ia mencontohkan kasus pemerkosaan yang dialami seorang siswi kelas 2 SMA, dengan pelakunya adalah orang yang dikenalnya.

            “Kasus yang paling miris dan memilukan ada anak umur 5 tahun yang juga mengalami pelecehan seksual. Karena menyangkut masa depannya akhirnya kami pindahkan korban ke rumah neneknya yang di Kabupaten Lebak. Jadi pelakunya sendiri bukan orang-orang yang jauh dari lingkungan. Dalam beberapa tahun belakangan kasus kejahatan seksual kepada anak semakin mengkhawatirkan,” paparnya.

            Dhian menambahkan, kasus kejahatan seksual pada anak dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Padahal dampak dari kasus pelecehan seksual kepada anak sangat fatal terhadap masa depannya. Mulai dari kondisi psikologisnya, yakni korban takut untuk bertemu orang lain. Selain itu, umumnya yang menjadi korban takut untuk beraktifitas, murung dan pendiam.

            “Makanya ketika seorang anak perempuan murung, diam di kamar, tak banyak bicara itu perlu dipertanyakan. Jangan-jangan mereka sedang terlibat dalam satu masalah. Tapi ketika anak ceria dan tertawa terbahak-bahak perlu diperhatikan juga. Oleh karena itu, saya berharap para orang tua ikut mematau sang buah hati,” tuturnya.

            Kasubag Perlindungan Anak, BPMPPD Siti Zahro mengungkapkan, ada tren tersendiri dalam kasus kekerasan terhadap anak. Kebanyakan para korban tidak mau melapor karena merasa malu, apalagi korban itu adalah perempuan. Kondisi ini pun sangat membutuhkan penanganan psikologis. Menurutnya tontonan televisi juga perlu dikendalikan, karena dampaknya sangat besar terhadap pola pikir anak.

            “Artinya begini, memfasilitasi anak dengan berbagai teknologi sangat berbahaya jika tidak dilakukan pengawasan. Kalau orang tua bekerja bisa tidak terpantau. Itu menjadi berbahaya. Kan kejahatan itu bukan karena ada keinginan, tapi karena ada kesempatan,” jelasnya.

            Siti menambahkan, pihaknya sudah menangani kasus-kasus tersebut. Namun hingga kini tidak pernah ada yang sampai ke pengadilan. “Semua sudah masuk di kepolisian, karena pelaku maupun korban masih sama-sama anak di bawah umur maka tidak dilakukan penahanan. Karena sesuai undang-undang 11 tahun 2012 bahwa usia di bawah 18 tahun tidak bisa dilakukan penahanan. Kalau pun ditahan hanya keperluan untuk melakukan penyidikan,” tandasnya. (mg27/aditya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.