Madu Ujung Kulon Tembus Mancanegara

PANDEGLANG,SNOL–Keberadaan madu hutan Ujung Kulon, diharapkan bisa mendongkrak tingkat perekonomian masyarakat. Dengan demikian, selain menyosialisasikannya ditingkatan lokal dan nasional, kelompok tani madu hutan Ujung Kulon juga mensosialisasikannya sampai ke tingkat international.

Pendamping kelompok tani madu hutan Ujung Kulon Eman Sulaeman menyatakan, para kelompok tani sudah diakui oleh dunia. Salah satu event yang rutin diikuti adalah pameran “Madhu Duniya 2015”, yang sudah diselenggarakan sekitar tiga tahun kebelakang.

“Tahun 2015 ini, event pagelaran Madu Dunia dipusatkan di Phnom Penh, Kamboja. Madu hutan Ujung Kulon, menjadi salah satu primadona diantara Negara-negara Asia,” kata Eman, Minggu (3/5).

Kegiatan itu diselenggarakan sejak 27 April sampai 2 Mei lalu. Yang dihadiri oleh beberapa Negara Asia diantaranya, India, Malaysia, Vietnam, Filipina, Bangladesh, Kamboja dan beberapa Negara lainnya. Dirinya juga berharap, melalui pagelaran acara itu madu hutan Ujung Kulon bisa mendunia dan diminati lebih luas lagi.

“Madhu Duniya 2015, merupakan salah satu event sharing pengalaman dan berbagi pengetahuan antara beberapa negara di Asia. Antara lain, Indonesia, India, Malaysia, Vietnam, Filipina, Bangladesh dan Kamboja. Negara-negara itu merupakan beberapa negara yang mempunyai sebaran lebah yang cukup merata,” tambahnya.

Event Madhu Duniya 2015, merupakan event yang ketiga setelah yang pertama di tahun 2007 diselenggarakan di India. Event kedua tahun 2011 diselenggarakan di Ujung Kulon, Indonesia. Pembukaan oleh Femy Pinto, selaku Direktur NTFP Asia, sambutan oleh perwakilan WWF Kamboja, dan dari Pemerintah Kamboja.

Ditambahkannya, delegasi dari Indonesia terdiri dari beberapa wilayah, yaitu kelompok madu hutan dari Taman Nasional Tesso Nilo diwakili Ichal, Kelompok madu dari Sumbawa (Junaidi), kelompok madu dari Flores (Patricius), dan Pendamping kelompok Tani Madu Hutan Ujung Kulon yang diwakili oleh Eman Sulaeman.

“Dalam event itu juga ada beberapa pembahasan. Di antaranya Nola Andaya NTFP-EP Asia yakni membahas, akses pemasaran madu hutan dari Asia Tenggara di Negara-negara Eropa, dan Negara-negara Asia Timur seperti Jepang. Dr. Nor Hayati, membahas laporan penelitian beberapa uji klinis madu hutan dari asia salah satunya dari Ujung Kulon, Indonesia, yaitu manfaat madu hutan untuk kanker dan anti aging ternyata cukup signifikan,” ujarnya.

Selain itu, ada juga sharing pengalaman pemanfaatan madu hutan di berbagai Negara peserta konfrensi. Mr Robert Leo dari Keystone Foundation India, memaparkan teknologi peningkatan mutu madu hutan, dan Dr Eri Indrawan dari Direktorat Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial Kemenhut menyampaikan, kolaborasi pegiat madu hutan di Indonesia dengan Pemerintah.

“Pada hari ketiga, peserta konferensi melakukan kunjungan lapangan ke kelompok madu hutan Kamboja. Tepatnya di Provinsi Mondulkiri, dimana semua peserta menyaksikan proses panen lestari madu hutan yang diawali dengan ritual oleh masyaraka local Mondulkiri,” terangnya.

Wakil ketua DPRD Pandeglang Erin Fabiana menyatakan, pemanfaatan madu hutan dimasing-masing wilayah, perlu ditingkatkan. Salah satunya, bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat, serta penyelematan kawasan hutan. “Hal itu harus dilestarikan, dan pemerintah diharapkan berparan aktif dalam mengembangannya. Misalkan, dalam hal penjualan atau pemasaran agar lebih luas lagi,” harapnya. (mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.