800 Pedagang Terancam Dipindah

SERANG,SNOL– Banten Lama yang kumuh dan dipenuhi para pengemis, sudah menjadi masalah klasik yang hingga kini belum bisa diselesaikan. Pemprop Banten dan Pemkot Serang mendorong revitalisasi kawasan peninggalan Kesultanan Banten tersebut.

Untuk mendukung program revitalisasi itu, sedikitnya 800 pedagang terancam digusur.

Ketua DPRD Banten Asep Rahmatullah menyatakan, Banten tidak akan besar ketika pemimpin dan masyarakatnya tidak peduli terhadap peradaban dan budaya. Kawasan Banten Lama di Kota Serang harus ditata ulang segera, agar terlihat lebih rapih dan nyaman.

“Kondisi Banten Lama saat ini sangat memprihatinkan, padahal disini adalah bukti kejayaan peradaban Banten,” kata Asep, Jumat (5/6).

Asep menjelaskan, Banten Lama bukan hanya milik keturunan kesultanan saja tapi milik semua masyarakat Banten, dan harus ada kepedulian bersama untuk melestarikan peninggalan bersejarah itu. “Siapapun yang menolak kebutuhan anggaran untuk pembangunan Banten Lama, saya anggap dia bukan orang Banten. Bahkan, jika ada yang menolak relokasi, saya anggap dia bukan orang Banten. Kemajuan sebuah daerah bukan lahirnya mal-mal besar. Suatu daerah akan maju, ketika mampu mempertahankan budaya dan peradabannya,” tambahnya.

Revitalisasi yang dimaksud, lanjut politisi PDIP ini, yaitu bukan bangunan fisik tapi penataan wilayah saja. Hal itu karena di Banten Lama dipenuhi ratusan pedagang. Terkait pengelolaan wisata Banten Lama yang dikelola orang yang mengaku keturunan keluarga kesultanan, menurutnya, masalah tersebut sudah dibicarakan.

“Kita kan hanya merevitalisasi wilayahnya saja, para pedagang akan diberikan tempat yang nyaman dan tertata rapih. Tidak seperti sekarang, yang terkesan kumuh dan tidak teratur,” ujarnya.

DPRD Banten akan mengupayakan untuk mendorong pengalokasian anggaran dari APBD Banten untuk keperluan penataan Banten Lama tersebut. “Berapapun kebutuhan anggarannya akan kami sepakati. Setidaknya anggaran untuk penataan Banten Lama membutuhkan Rp30 miliar. Saya tanya Pak Wali Kota, berapa untuk membangun sarana terminal dan lainnya, kemudian merelokasi pedagang? Pak Wali mengatakan butuh sekitar Rp30 miliar. Saya katakana, buat Banten, buat pembangunan peradaban, tidak ada apa-apanya Rp30 miliar. Untuk hal lain, ratusan miliar rupiah bisa dari APBD. Masa untuk merawat peradaban tidak bisa,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Asep meminta kepada Tubagus Ismatullah Al Abas dan Tubagus Fathul Adzim, agar menanggalkan keegoisan masing-masing. “Kepada Pak Ismet, kepada Pak Fathul Adzim, tanggalkan keegoisan masing-masing. Demi kejayaan Banten,” harapnya.

Menanggapi pernyataan itu, keluarga Kesultanan Banten, Tubagus Ismetullah Al Abbas menilai, tudingan Asep sangat tendensius. Menurutnya, pemerintah harus hati-hati berbicara, jangan merendahkan keluarga kesultanan. “Janganlah pemerintah berbicara tendensius, intelektual harus dijaga. Kami, keluarga keturunan Banten sangat mengapresiasi keinginan pemerintah daerah untuk merelokasi kawasan wisata ziarah Banten lama kita sangat welcome,” tutur Ismet.

Keluarga sangat mengapresiasi  revitalisasi tersebut, kepada  Pemprop Banten dan Pemkot Serang, sekaligus anggota dewan kota dan propinsi.  “Silahkan kalau mau dilakukan penataan ulang, kami sangat mendukung. Ini juga menjadi cita-cita warga Banten karena wacana revitalisasi sudah ada sejak Banten menjadi Propinsi. Kenyataannya, hingga sekarang belum terealisasi,” ujarnya.

Ismet menjelaskan, pihak keluarga tidak menolak dan  mempersulit seperti isu yang berkembang. “Fitnah besar itu, kalau ada isu bahwa kenadziran mempersulit revitalisasi pusat peninggalan sejarah Banten lama. Perlu digaris bawahi, pihak keluarga kesultanan hanya mengelola masjid dan tidak pernah meminta retribusi kepada masyarakat yang ziarah. Masa orang ibadah kita maintain duit. Kecuali, retribusi parkir kendaraan itu juga dinas PU yang mengelola,” jelasnya.

Keinginan keluarga dan penduduk disini harus dipenuhi. Artinya  masyarakat disini benar-benar diberikan tempat yang layak, yang baik, jangan ada penggusuran. “Silahkan dibangun dulu, jangan seperti yang sebelumnya dibangun kawasan pasar. Tetapi seperti kandang ayam, hasilnya warga disini tidak ada yang mau pindah kesana,” pungkasnya.

Ismet juga menjelaskan, upaya revitalisasi  tersebut sudah dimusyawarahkan dengan para penduduk sekitar. Menurutnya, ada  800 lebih pedagang di kawasan wisata ziarah,  60 persen diantaranya masih ketururan kesultanan Banten. Sisanya penduduk luar. Sedangkan, pengelola ziarah makam ada 289 orang, 140 orang masih keluarga kesultanan Banten, sisanya warga luar.

“Karena warga disini pendapatannya dari berdagang, harapannya pemerintah jangan mempersulit. Demi kemajuan Banten, mereka semua siap kapan saja dilakukan penataan,” imbuhnya. (metty/mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.