Setahun Rp 32 T Hanya untuk Beli Rokok

SERANG,SNOL– Belanja rokok warga Banten setiap tahunnya tercatat mencapai sekitar Rp 32 Triliun. Uniknya, nominal konsumsi rokok ini beberapa kali lipat, dari struktur APBD Banten.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Banten, Sigit Wardojo mengatakan, angka tersebut berdasarkan hasil survei Persatuan Dokter Umum Indonesia (PDUI) tahun 2014 lalu. “Di Banten, data perokok aktif sebanyak 2,4 juta jiwa dari 11,6 juta penduduk Banten. Mereka rata-rata per hari menikmati 12 – 13 batang rokok. Kalau dirupiahkan, belanja rokok satu tahun rata-rata lebih dari Rp 32 Triliun. Ini berapa kali lipat APBD kita,” kata Sigit, Jumat (5/6).

Berdasarkan data yang ada, Provinsi Banten masuk dalam urutan ke 16 sebagai daerah yang tertinggi jumlah penduduknya perokok. Bahkan, dari jumlah penduduk Banten yang berusia diatas 10 tahun yakni, 9 juta jiwa lebih. Sekitar 2.000 jiwa diantaranya membiasakan prilaku buruk yaitu merokok.

Padahal, pemerintah kerap kali melakukan sosialisasi, imbauan, dan penyuluhan, terkait bahaya rokok bagi kesehatan. Meski demikian, lanjut Sigit, jumlah tersebut masih dibawah rata-rata nasional. Sigit menuturkan, jumlah warga Banten yang perokok dalam 7 tahun terakhir, cenderung mengalami peningkatan. Dari data tersebut, banyak para perokok berasal dari usia produktif, yakni dikisaran usia 15 hingga 30 tahun.

“Salah satu upayanya, yakni dengan menginisiasi pembentukan peraturan daerah (Perda) yang saat ini sedang digodok DPRD Banten,” tambah Sigit.

Ia memprediksi, tahun demi tahun perokok kini semakin diminati kaum muda. “Kalau dulu, orang merokok itu di atas 20 tahun. Sekarang, sejak usia 11 tahun, itu ukuran anak SD sudah mulai merokok,” ujarnya.

Menurutnya, semuanya kembali lagi pada kesadaran individu perokok untuk berhenti atau mengurangi rokok. “Itu ada matrixnya, ada orang tahu (dampak merokok,red) tapi tetap melakukan. Ada juga, karena ketidaktahuannya maka dia merokok,” imbuhnya.

Tingginya biaya belanja rokok warga Banten itu juga bisa dilihat dari pendapatan asli daerah (PAD) Banten yang bersumber dari pajak rokok. Selama kurun waktu empat bulan saja atau terhitung sejak Januari hingga April 2015 lalu perolehan pajak yang diterima dari perusahaan rokok mencapai Rp 108 miliar.

Pejabat Pengelola Informasi Daerah (PPID) pada Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Daerah (DPPKD) Provinsi Banten, Awal Pasenggong mengatakan, realisasi penerimaan PAD Banten pada periode Januari-April 2015 mencapai Rp1,492 triliun, dari target Rp4,954 triliun di tahun 2015 ini. Jumlah tersebut meliputi, Pajak Kendaraan Baru (PKB) Rp515,363 miliar, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Rp578.655 miliar, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) Rp265,639 miliar, pajak Air Permukaan (AP) Rp9,89 miliar, dan pajak rokok Rp108 miliar.

Selain itu, realisasi PAD juga berasal dari pendapatan melalui pembayaran tunggakan atau denda sejumlah pajak di Provinsi Banten periode Januari-April 2015 yang mencapai Rp15,277 miliar. Denda pajak tersebut meliputi PKB senilai Rp14,84 miliar, BBNKB Rp416 miliar, PBBKB Rp1,7 juta, dan AP Rp19,3 juta.

“Jadi, dalam kurun waktu sebulan ( April-red) PAD Banten mencapai Rp 455 miliar lebih,” katanya, Selasa (26/5) lalu. (metty/mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.