Pembunuh Angeline Diteriaki Warga

DENPASAR, SNOL—Suara riuh penuh kemarahan warga menyambut kedatangan tersangka Margareith di Jalan Sedap Malam Nomor 26, Denpasar Timur, kemarin (6/7) dengan menggunakan mobil Dantis Pengendalian Massa. Menyusul Margareith, tersangka Agustinus tiba di TKP menggunakan mobil Baracuda kecil milik Brimob.

Kedua tersangka yang tiba sekitar pukul 10.30 langsung dibawa masuk ke TKP dan diiringi dengan teriakan emosional para warga yang sejak pagi sudah memenuhi ruas jalan TKP untuk menyaksikan rekonstruksi pembunuhan gadis mungil tersebut.

“Bunuh!” itulah satu kata yang berulang kali diteriakkan oleh warga ketika menyaksikan tersangka Agus dan Margareith yang saat itu sama-sama menggunakan baju tahanan berwarna oranye.

Sebelum tiba di rumah berpagar cokelat tersebut, tersangka Agus dikeluarkan dari sel Provos Polda Bali dan Margareith dikeluarkan dari sel tahanan Mapolda Bali. Margareith ditemani satu orang anggota provos dan seorang penyidik wanita, sementara Agus ditemani seorang penyidik dan dikawal oleh anggota Brimob dan Buser berseragam lengkap.

Terkait hal tersebut Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Hery Wiyanto menyampaikan jika rekonstruksi yang akan dilakukan merupakan rekonstruksi kasus kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa ANG. “Kami mengagendakan untuk rekonstruksi kasus kekerasan yang menyebabkan hilangnya nyawa ANG dengan tersangka M (Margareith) dan A (Agustinus),” terang Hery.

Dirinya menambahkan dengan digelarnya rekonstruksi pihaknya dapat mengetahui apa peran masing-masing tersangka. “Itulah nanti yang dibawa oleh penyidik ke JPU sebagai kelengkapan berkas kemudian untuk meyakinkan hakim dalam memutus perkara ini,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut Kombes Pol Hery mengatakan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru yang ditetapkan usai rekonstruksi. “Tetapi saat ini kami masih fokus terhadap kedua tersangka, namun apabila di perjalanan penyidikan nanti memang ada tersangka lain, ya memang harus dipertanggungjawabkan perbuatannya,” tegas mantan Kabid Humas Polda Bengkulu tersebut.

Tak berbeda dari yang telah disampaikan sebelumnya, pihaknya mengaku belum dapat menentukan apa motif di balik pembunuhan ANG, karena memang penyidikan belum selesai.

Sementara itu, di TKP sekitar pukul 08.25 petugas dari Polresta Denpasar dan Polda Bali tampak mensterilkan TKP sebelum rekonstruksi dimulai. Dari pantauan Jawa Pos Radar Bali, sebanyak dua peleton Pengendalian Massa (Dalmas) Polresta Denpasar diturunkan untuk mengamankan TKP. Tak hanya Dalmas, Satlantas Polresta Denpasar dan sejumlah pecalang pun turut diterjunkan untuk mengamankan arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Dua saksi yakni Rahmat Handono dan Susiani juga tampak tiba bersama pendamping hukum P2TP2A Kota Denpasar Siti Sapurah alias Ipung. Dalam rekonstruksi tersebut Handono dan Susiani yang menyewa kamar di rumah Margareith menjalani 17 adegan dari total 81 adegan yang dilakukan tepat pada hari ANG dibunuh Sabtu (16/5) silam. “Ada 17 adegan itu sebelum mereka berangkat kerja sampai pukul 01.00 pada tanggal 16 Mei 2015, dan saat itu ANG masih beraktifitas seperti biasa,” terang wanita yang akrab disapa Ipung.

Ipung menambahkan jika 81 adegan tersebut adalah kegiatan ANG dan tersangka sehari-hari mulai dari pagi hari yaitu memberi makan ayam, mengepel, dan memberi makan anjing hingga ANG dibunuh dan dikubur di belakang rumah. “Ini baru sampai saksi berangkat kerja, nanti sepulang kerja akan ada adegan lagi,” lanjutnya.

Meskipun rekonstruksi sempat molor karena menunggu kuasa hukum Margareith yang tak kunjung datang, akhirnya rekonstruksi dimulai sekitar pukul 11.00 yaitu setelah kuasa hukum Margareith; Dion Pongkor, Jeffry Kam, Posko, dan Aldress Napitupulu tiba di TKP. Bahkan, tak sedikit warga yang menanti-nanti karena penasaran dengan Hotma Sitompoel yang selama ini menjadi kuasa hukum Margareith. Namun sayang, Hotma tak tampak hadir untuk mendampingi kliennya.

Kedatangan keempat pengacara tersebut disusul dengan kehadiran anak dari Margareith yakni Yvonne dan Christine yang tak pelak membuat warga kembali emosional dengan meneriaki mereka.

Berbeda dengan kuasa hukum Margareith yang tiba belakangan, kuasa hukum Agus yakni Hotman Paris Hutapea dan Haposan Sihombing tampak telah siap di TKP bersamaan dengan kedatangan kliennya. Dikatakan oleh Hotman, kliennya dalam kondisi yang sehat dan siap untuk menjalani rekonstruksi. “Klien kita dalam kondisi fit,” ujar Hotman.

Dirinya mengatakan meskipun Agus sedang berada di TKP bersama Margareith, keduanya tidak terlihat berinteraksi satu sama lain. “Jarak mereka sekitar 2 meter lah tetapi diawasi juga oleh petugas, mereka tidak berinteraksi,” lanjutnya.

Terkait rekonstruksi yang turut menghadirkan saksi Handono dan Susiani, pria berdarah Batak tersebut menyampaikan jika dalam BAP Agus, sesudah dirinya diperintahkan mengubur ANG, Margareith menyuruh Agus untuk berpura-pura menanyakan ANG kepada Handono ketika datang dari bekerja. “Itu yang akan ditanya ke Handono apakah benar ada adegan seperti itu,” terang Hotman.

Dalam kesempatan itu, Hotman menyampaikan kecurigaannya yang belum terjawab mengenai lubang tempat ANG dikubur yang dikatakan untuk tempat pembuangan sampah. Hal tersebut dikatakannya tidak masuk akal, karena ada di antara kandang ayam. “Padahal ada pekarangan kosong di belakang kandang, atau di sudut-sudut rumah. Kenapa nggak buat pembuangan sampah di sana?,” tananya.

Selain itu, dirinya juga meminta pihak kepolisian menyelidiki penggalangan dana yang dilakukan Yvonne ketika ANG diberitakan menghilang. Sesuai kesaksian saksi yang merupakan WNA asal Sidney yaitu mengatakan bahwa pernah diminta mentransfer sejumlah uang oleh orang yang mengaku Yvonne. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk menebus ANG yang diculik oleh seseorang.

“Apakah memang ada kesengajaan membunuh dan digunakan untuk menggalang dana agar orang kasihan, atau memang digunakan untuk kepentingan pribadi, entah lah. Yang jelas ada keanehan, kok keluarga yang sedang mengalami kehilangan aktif menggalang dana secara terbuka dan blak-blakan lagi,” katanya.

Dalam rekonstruksi yang berlangsung secara tertutup tersebut, Haposan menyampaikan bahwa akan dilakukan adegan dari mulai di kamar Agus kemudian ke kamar Margareith hingga di lokasi penguburan ANG. “Rekonstruksi kan sudah di kamar Agus, sekarang TKP di kamar tersangka M (Margareith). Kemungkinan dari mulai kamar Agus baru ke kamar M (Margareith), kemudian ke TKP penguburan,” jelas Haposan.

Kepala Kedokteran Forensik RS Sanglah Dudut Rustyadi juga tampak hadir dalam rekonstruksi pembunuhan ANG yang diperankan oleh remaja berumur 17 tahun dan menggunakan baju berwarna biru. Dirinya menyampaikan jika kehadirannya tidak lain adalah untuk menyesuaikan apakah adegan kekerasan tersebut sesuai dengan luka-luka yang ada di tubuh ANG. “Ada banyak kesesuaian hasil otopsi dengan proses rekonstruksi,” ujarnya singkat.

Sekitar pukul 15.41, Hotman Paris terlihat keluar dari TKP dan menyampaikan kepada awak media bahwa kliennya menjalani 81 adegan dengan tenang dan lancar. “Penguburan ada di adegan ke-80 dan disaksikan oleh Margareith. Bahkan, yang memutar jenazah ANG itu Ibu Margareith,” terang Hotman.

Disampaikan olehnya, dalam rekonstruksi tersebut dipastikan bahwa TKP pembunuhan ANG adalah di kamar Margareith. Hal tersebut dikatakan Hotman dapat membuat penyidik yakin bahwa pelaku utama pembunuhan ANG adalah ibu angkatnya. “Sesuai semua adegan Margareith yang melakukan pembunuhan. Adegan ke-50-an lah terjadi pembunuhan ANG,” lanjutnya.

Meskipun Margareith menolak untuk menjalani rekonstruksi, Hotman mengatakan jika peran Margareith diganti oleh penyidik sementara Margareith hanya menyaksikan jalannya rekonstruksi tanpa ada menyangkal ataupun mengajukan protes dengan adegan-adegan yang dijalani tersebut. Selisih pendapat juga sempat terjadi antara Agus dan Margareith karena adanya keterangan Agus yang tidak diakui oleh Margareith. “Sebelum adegan ke-20, Agus sempat marah, lalu membanting tiang dan bilang, ‘Bohong!”, ujar Hotman menirukan apa yang dilakukan oleh Agus.

Menurut Hotman, kebohongan itu karena ketika ANG sudah tergeletak di kamar ibu angkat korban, Agus dikatakan sedang berdiri di depan kamar Margareith. Padahal menurut Agus saat itu dirinya dipanggil oleh Margareith dan menyaksikan ANG sudah tergeletak, dijambak, dan dibenturkan.

Berbeda dengan Agus yang sempat tersulut emosi, Margareith sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya. Bahkan, kata Hotman janda tersebut sering terlihat tersenyum.

Meskipun demikian, Hotman yang tergesa agar tidak ketinggalan pesawat untuk kembali ke Jakarta mengaku sedikit lega karena kliennya akan aman dari dugaan pembunuhan. “Sampai hari ini dan ke depan, Agus sepertinya akan aman dari dugaan pembunuhan, meskipun memang benar dia membantu mengubur ANG atas perintah Margareith,” katanya.

Usai menjalani adegan penguburan jenazah ANG, Agus dan Margareith masih akan menjalani adegan di mana Handono dan Susiani pulang kerja dan adegan di mana Ibu Rohana dan Yvonne mendatangi kediaman Margareith sebelum memutuskan untuk melaporkan hilangnya ANG kepada kelian adat. “Rekonstruksi ini sesuai dengan BAP Agus yang terakhir,” ujar Haposan.

Dirinya menambahkan tidak ada tambahan di luar BAP Agus tersebut dan Margareith tidak mau memerankan saat adegan pembunuhan ANG. “Margareith mau memerankan adegan yang menguntungkan buat dia. Adegan pembunuhan dia tidak mau memperagakan, makanya digantikan oleh penyidik, sedangkan setelah Ibu Rohana dan Yvonne datang dia mau memperagakan,” jelasnya.

Haposan juga menyampaikan jika dalam rekonstruksi tersebut juga ada adegan ketika Agus diminta menyulut rokok ke punggung ANG, namun karena Agus enggan maka Margareith yang akhirnya melakukan hal tersebut. “Adegan pemerkosaan juga tidak ada dalam rekonstruksi tadi. Jadi, keseluruhan adegan ada 98 adegan,” lanjutnya.

Sementara itu, kuasa hukum Margareith, Jeffry Kam mengakui kliennya yang tidak mau memperagakan adegan seperti yang ada di BAP Agus tersebut. “Rekonstruksi itu kan memperagakan fakta-fakta dalam BAP, jadi kalau itu bukan fakta yang terjadi ya klien kami tidak mau memperagakan,” terangnya.

Sedangkan mengenai emosi Agus yang sempat meledak ketika Margareith dianggap bohong, dirinya memandang hal tersebut sangat mengagetkan. Sikap Agus yang emosional menjadi pertanyaan di benaknya. “Apa iya orang yang seemosional seperti itu bisa disuruh dan diancam oleh nenek-nenek umur 50 tahun. Itu yang menjadi pertanyaan,” tegasnya. (ras/ken/yes/jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.