Aliran PDAM tak Lancar, Warga tetap Bayar

PANDEGLANG,SNOL– Sejumlah warga Panimbang mengeluhkan aliran air PDAM Kabupaten Pandeglang, yang saat ini aliranya sangat kecil. Hal itu sangat mengganggu aktivitas pelanggan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara pembayaran tetap berjalan dan kalau telat masyarakat tetap kena denda.Warga Kampung Lelang Lama  Desa Panimbang Jaya Kecamatan Panimbang, Dede Rafiudin mengatakan, saat ini aliran PDAM di rumahnya dan rumah warga lainnya tidak lancar. Hal itu sudah berlangsung beberapa minggu. Ironisnya, meski alirannya tidak normal, pelanggan tetap harus bayar. “Kalau begini terus, kami kesulitan untuk mendapatkan air. Padahal, saat ini kami sangat butuh. Apalagi saat ini musim kemarau, sudah beberapa bulan. Jelas-jelas lah saya dirugikan. Bayar selalu lancar, masa aliran airnya tidak lancar. Saya berharap, PDAM segera melakukan tindakan, agar alirannya normal kembali,” kata Dede.

Senada dikatakan pelanggan lainnya, Ilyas. Dia mengaku kondisi ini berlangsung sudah lama bukan hanya pada saat musim kemarau ini saja. Bahkan, saat ini pembayaran tidak melihat meteran dari PDAM tetapi dihitung perbulan Rp 50 ribu pembayaranya.

“Kalau harapan saya sih, airnya bisa lancar dan tidak meski kami sedot dengan menggunakan mesin air. Apalagi sekarang air sangat kami butuhkan, karena musim kemarau berlangsung lama,” harapnya.

Menanggapi keluhan itu, Divisi Pelayanan Pelanggan PDAM Pandeglang Euis mengaku belum mengetahui kondisi itu karena melihat laporan dari pengelola PDAM Panimbang dan Cabang Labuan masih lancar. Ia mengakui, memang beberapa bulan lalu ada hambatan terkait aliran, namun itu sudah ditangani. “Tadi saya sudah koordinasi dan hasilnya untuk minggu-minggu ini aliran sudah lancar. Adapun yang masih terhambat, sebaiknya melapor. Karena, mungkin saja bisa tersumbat aliran pipanya,” imbuhnya.

Air Sungai Keruh, Warga Mengeluh

Di Kabupaten Lebak, sejumlah warga di Desa Sukamekarsari Kecamatan Kalanganyar mengeluhkan keruhnya Sungai Ciujung. Mereka menduga, keruhnya air itu akibat galian pasir ilegal yang dilakukan oknum warga disekitar Sungai Ciujung.

Salah seorang warga Kampung Bojong Kapunah Desa Sukamekarsari, Fatonah (42) mengatakan, keruhnya Sungai Ciujung yang melintasi perkampungan warga di desanya terjadi sejak akhir Juli 2015 lalu. Sejak keruh, warga di desanya tidak lagi mengambil air Sungai Ciujung untuk keperluan sehari-hari seperti untuk mandi, memasak, dan yang lainnya. “Kami khawatir, terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti penyakit gatal-gatal, diare, dan yang lainnya,” kata Fatonah, Selasa (8/9).

Warga di desanya akhir-akhir ini memang kesulitan air bersih, terlebih pada saat ini masih musim kemarau. Jika saja Sungai Ciujung tidak keruh, mungkin kesulitan air bersih akan sedikit terbantu. “Makanya, kita berharap oknum warga yang melakukan galian pasir illegal di sekitar Sungai Ciujung untuk diadili sesuai dengan ketentuan yang ada, dan sebanding dengan perbuatannya,” papar Fatonah.

Senada dikatakan warga Kampung/Desa Sukamekarsari lainnya, Rozak (39). Persoalan keruhnya Sungai Ciujung ini telah disampaikan ke Pemkab melalui aparat desa dan kecamatan namun hingga saat ini belum ada tanggapan.

Kepala Desa Sukamekarsari, Abdul Rahman membenarkan kondisi Sungai Ciujung yang keruh. Ia mengaku, pihaknya sudah mengajukan permohonan bantuan air bersih ke Pemkab Lebak. “Mudah-mudahan saja bantuan air bersihnya segera turun,” harapnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Kabupaten Lebak, Sofiyan mengaku sudah berkoordinasi dengan aparat kepolisian dan Satpol PP Lebak untuk menangkap oknum warga yang melakukan aktivitas penambangan ilegal di sekitar bantaran sungai Ciujung.

Apalagi sesuai dengan Perda Nomor 2 Tahun 2014, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), wilayah Rangkasbitung sudah tidak boleh lagi ada usaha pertambangan apalagi galian pasir illegal.  (mg29/ahmadi/ mardiana/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.