Menebak Kantong Suara Pak Dim

AHMAD Dimyati Natakusumah resmi maju jalur independen. Pak Dim – sapaan akrabnya – tidak memakai PPP yang menaungi kehidupan politiknya selama ini. Padahal perolehan kursi PPP di DPRD Banten cukup bagus, 8 kursi. Bagaimana suara Pak Dim dalam pilgub ini?

Mungkin Pak Dim terinspirasi dari Ahok. Jauh- jauh waktu sudah blusukan mengumpulkan KTP sebagai syarat maju independen. Pak Dim bukan Ahok. Beda orang beda dukungan. Ahok sukses meluruhkan parpol, sedangkan Pak Dim gagal dan pasti lewat perseorangan.

Pak Dim resmi berpasangan dengan Yemmelia Wiryanto. Artinya Rano dan Wahidin bakal punya satu pesaing lagi. Suara terpecah. Pasangan ini mendaftar di detik-detik terakhir pendaftaran untuk calon independen, kemarin.

Apakah Pak Dim serius atau hanya untuk “memecah” konsentrasi suara warga yang terfokus pada head to head Rano dan Wahidin? Upaya mantan Bupati Pandeglang ini memang berbeda dengan politisi lain. Meski sebagai Sekjen DPP PPP kubu Djan Faridz, dia tidak mau menggunakan perahu PPP.

Jumlah kursi PPP di DPRD Banten juga tergolong tidak sedikit, 8 kursi. Sama dengan perolehan Partai Demokrat yang mengusung Wahidin. Bahkan PPP sudah resmi mendukung Rano dengan menyodorkan Taufiequrrachamn Ruki sebagai Banten 2.

Sepertinya dia juga sadar partainya masih dilanda polemik internal, maka Pak Dim yakin harus lewat independen. Dengan berbekal popularitas saat menjabat bupati Pandeglang ditambah dengan “bantuan” Irna Narulita, Bupati Pandeglang kini, yang tak lain merupakan istri Pak Dim menjadi modal penting untuk memuluskan langkahnya ke Banten 1.

Jauh-jauh hari, Pak Dim menjaring tokoh-tokoh Banten yang mau mendampinginya berperang di Pilgub Banten. Dia getol mencari figur dari Tangerang. Isunya, Pak Dim sempat mendekati Intan Nur Hikmah, adik Bupati Tangerang Ahmed Zaki Isnkandar.

Pak Dim juga sempat berkomunikasi dengan calon walikota Tangsel Arsid. Selain itu, dia juga berkomunikasi dengan Partai Nasdem. Menurut klaimnya, Nasdem siap untuk membantunya di Pilgub Banten dengan menyiapkan kader Banten 2.

Namun seiring waktu, pilihan Pak Dim justru akhirnya jatuh kepada Yemmelia Wiryanto, seorang pejabat di Dinas Budaya dan Pariwisata (Disbudpar) Banten. Yemmelia katanya dikenal sebagai ketua Ikatan Keluarga Minang se-Provinsi Banten.

Majunya Pak Dim di Pilgub mengingatkan pada Pilgub Banten 2012. Jika pada pilgub tersebut dia bahu membahu memenangkan Wahidin-Irna, kini Dimyati bakal beda haluan dengan Wahidin. Sudah jelas, kalau jadi maju, Pak Dim akan mati-matian mengamankan kantong suaranya.

Dimyati juga mengklaim telah mengantongi 700-an ribu KTP dari 601.805 dukungan KTP sebagai tiket maju dari jalur independen.

Namun peluang Pak Dim untuk memenangkan Pilgub Banten sepertinya akan berat. Selain kalah tenar dengan Rano dan Wahidin, dia juga tidak memiliki basis massa yang merata. Dia hanya dikenal di Pandeglang.

Bahkan pada Pileg 2014, Dimyati yang kader PPP tidak nyalon di Banten 1 (Pandeglang-Lebak), tapi dia nyalon di wilayah Jakarta. Kelihatan seperti kurang percaya diri. Isu yang beredar, dukungan KTP yang dikumpulkan Pak Dim sebagian besar dari wilayah Pandeglang.

Bagaimana dengan peta politik ke depan? Pencalonan Pak Dim sudah pasti akan memecah suara Rano dan Wahidin. Namun dilihat dari peta suaranya tidak begitu pengaruh besar. Pak Dim hanya kuat di Pandeglang. Di luar itu Rano dan Wahidin masih teratas.

So, dengan hadirnya Pak Dim maju dari jalur independen ini, membuat prediksi head to head Rano dan Wahidin tidak terlaksana. Namun Pak Dim sudah memberikan warna baru perpoltikan di Banten serta alternatif pilihan warga Banten. (*/tim rakyat merdeka group)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.