Elliza Marthen Keissya Menjaga Lingkungan dan Budaya Pulau Haruku

Dengan biaya sendiri, puluhan tahun Elliza Marthen Keissya menangkarkan burung, merawat muara, menghelat lomba bertutur berbahasa setempat, dan mendirikan perpustakaan. Tempat belajarnya adalah alam.

FERLYNDA PUTRI, Maluku Tengah

Beta ini pu nama Elliza

Beta Tinggal di Haruku

Biar pulau berpisah-pisah

Indonesia tetap Satu

(Elliza Marthen Keissya)

LIMA bocah berlari-lari. ”Ayo kita lihat ikan lompa,” kata salah seorang yang berbadan paling kecil. Mereka pun lari menuju muara, dekat rumah kewang.

Sang kewang, sebutan perangkat adat Negri (Desa) Haruku, sedang asyik membuat tanda sasi. Berupa janur atau daun kelapa yang masih muda dianyam membentuk ikan. Itu dilakukannya setahun sekali, setiap sasi lompa.

Pada Rabu pekan lalu itu (25/10), Elliza Marthen Keissya, sang kewang, memang sedang sibuk-sibuknya. Sebagai ketua kewang, dia punya kewajiban untuk mempersiapkan prosesi adat menangkap ikan lompa.

Prosesi tersebut hanya berlangsung sehari itu. Mulai Rabu (25/10) selepas magrib hingga lewat tengah malam (26/10). Meski demikian, itu perayaan besar bagi warga pulau yang berada di dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah tersebut.

Menyiapkan prosesi itu hanya satu di antara segudang tugas pria 68 tahun tersebut sebagai kewang. Dia tak hanya bertanggung jawab menjaga lingkungan. Tapi, sekaligus mengurusi literasi. Kala konflik sektarian membakar Maluku pada akhir 1990-an, dia juga bergerak menjadi aktivis perdamaian.

Tak heran kalau deret penghargaan memenuhi kediamannya. Ada Kalpataru, Costal Award dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta masih ada sekitar sepuluh piagam dan plakat penghargaan lagi.

Jejak kepedulian Eli –sapaan Elliza Marthen Keissya– yang mahaluas kepada sekitarnya itu berserakan di sekitar rumahnya. Dia, misalnya, memiliki sangkar besar untuk melestarikan burung maleo. Eli menangkarkan burung tersebut untuk dilepas kembali ke hutan. ”Burung maleo itu burung yang setia,” katanya di sela-sela membuat anyaman.

Dia lantas sejenak menghentikan pekerjaannya. Lalu, mengajak Jawa Pos berkeliling di sekitar rumah. Terdengar suara ombak berkecipak menyentuh bibir. Laut memang halaman belakang bagi warga Negri Haruku. Desa itu hanyalah 1 di antara 11 desa di Pulau Haruku.

Yang pertama dia perlihatkan adalah kumpulan ikan lompa yang berada di muara samping rumahnya. Sesekali segerombolan ikan melompat. Lompa yang khas Pulau Haruku itu, kata Eli, memang jenis ikan manja. Ikan tersebut berkembang biak di muara ini. ”Karena itu, sungainya harus bersih. Tapi, sekarang sampah mulai banyak,” keluhnya.

Pria yang bulan lalu baru mendapatkan anugerah kebudayaan dan penghargaan maestro seni tradisi dari Kemendikbud itu lalu mengajak ke kandang burung maleo. Kandangnya berukuran 5 x 10 meter. Beratap seng dan hanya separo dindingnya yang dibangun dari batako. Sisanya adalah kawat.

”Kita lanjut ngobrol di panggung saja ya,” katanya sembari mengajak ke rumah panggung di samping muara.

Ada empat kursi panjang dari kayu yang mengelilingi meja. Atapnya ilalang. Sedangkan tiang-tiangnya adalah bambu. Di kanan kiri rumah panggung terdapat kursi kayu yang dicat warna-warni. Ada merah, hijau, dan kuning.

Di sebelahnya ada juga tempat yang digunakan untuk kelas. Selain kursi warna-warni, ada meja kayu besar di tengah dan papan tulis. ”Panggung ini saya buat untuk lomba bertutur anak-anak sekolah,” ujar pria yang sudah 40 tahun menjadi kewang itu.

Dalam lomba tersebut, yang digunakan adalah bahasa daerah Maluku. Eli memprakarsai lomba bertutur lantaran prihatin bahasa daerah yang kian tak dikenal. Menurut ceritanya, banyak kata-kata lokal yang hilang. Karena itu, pria kelahiran Haruku tersebut juga mendirikan perpustakaan di dekat rumahnya.

Semua kegiatan itu dibiayai dari saku pribadinya. ”Berat sekali jadi pegiat lingkungan, sosial, dan budaya,” katanya. Tapi, toh puluhan tahun dia bisa bertahan melakukannya. Tanggung jawab sebagai kewang untuk melestarikan keasrian alam dan budayalah yang terus menyemangatinya.

Sebagai kewang, dia merasa bertanggung jawab atas keasrian daerahnya. Kebudayaan juga seolah menjadi kewajibannya untuk dijaga. Tak sekali pun terlintas di benaknya apa yang dia lakukan itu akan mendapatkan sambutan banyak pihak. Apalagi dikerjakan di pelosok desa nun di belantara ratusan pulau di Kepulauan Maluku.

Tapi, toh tetap saja kiprahnya bergema. Bahkan hingga ke mancanegara. Beberapa kali dia sempat mewakili Indonesia ke konferensi lingkungan di luar negeri. Thailand, Australia, hingga Afrika Selatan penah dia kunjungi.

”Kalau datang ke acara seperti itu, ketika pulang saya harus bawa sesuatu. Harus ada yang bisa diterapkan di Haruku,” tuturnya.

Eli mengaku tidak pernah mendapat pendidikan khusus mengenai pelestarian lingkungan. Bahkan, posisinya sebagai kewang mengharuskannya tidak pergi lama dari Haruku. Satu-satunya jalan adalah bersekolah dengan alam. Prinsip dasarnya sederhana saja: jika berlaku buruk terhadap alam, alam akan membalasnya.

”Ilmu di kampus itu berbeda dengan ilmu orang kampung. Kami selalu memperhitungkan kapan bisa ambil ikan, kapan mau tebang pohon,” ucapnya.

Pengalaman Eli untuk aksi sosial bukan hanya itu. Saat terjadi kerusuhan di Ambon, ayah enam anak itu menjadi aktivis perdamaian. ”Tak mudah. Harus lari sana-sini. Sembunyi,” tuturnya.

Namun, luka lama itu enggan Eli ingat. Dia yakin Maluku sekarang sudah tenteram. ”Dari liang pikol pangkuku. Kain berang gantong di tali. Katong samua orang Maluku. Putus gandong itu pamali. Pantun itu intinya orang Maluku tak boleh putus persaudaraan,” ucapnya sambil memetik ukulele.

Eli memang gemar sekali berkesenian. Tak jarang obrolannya dengan Jawa Pos diselingi dengan pantun. Biasanya berbentuk nasihat atau harapan. Eli juga gemar bermain musik. Salah satu alat musik yang dikuasainya adalah ukulele. ”Sekarang sudah tidak pantas angkat parang. Lebih asyik semua ditunjukkan dengan lagu, pantun, dan puisi saja,” ungkapnya.

Di usianya yang semakin tua, yang dikhawatirkan Eli kini adalah siapa yang akan meneruskan posisinya yang harus turun-temurun itu. Saat ini tiga anak lelakinya memang tengah diseleksi untuk menjadi kewang.

Tapi, tantangan mereka bakal semakin berat. Pulau Haruku harus tetap lestari. Namun, perkembangan zaman tak bisa dimungkiri. ”Semoga siapa pun yang terpilih bisa. Sebagai pemangku negeri, orang harus bekerja dengan hati,” katanya.(*/c10/ttg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.