Pedagang Tanah Tinggi Mogok Jualan

Ancam Aksi di Istana Presiden

TANGERANG, SNOL—Ribuan peda­gang menggelar aksi unjuk rasa di Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, Senin (13/11). Unjuk rasa serta aksi mogok dagang terse­but memprotes kebijakan pengelola pasar PT Selaras Griya Adigunatama yang dinilai memberatkan. Peda­gang mengancam meneruskan ak­sinya ke Istana Presiden, Jakarta bila tidak ditanggapi pengelola.

Aksi mogok pedagang dilakukan lantaran keberatan pedagang terha­dap kebijakan pengelola tak kunjung ditanggapi. Ketua Paguyuban Peda­gang Pasar Induk Tanah Tinggi, Luster Parlindungan Siregar mengatakan pi­haknya menolak penawaran perpan yang dinilai terlalu dini. Perpanjangan kontrak dari pengelola jangan kontrak, sambungnya, disertai unsur pemaksaan.­

“Kami aksi ini sengaja seperti tuntutan kami itu, pertama masa kontrak disini kan berakhir 2021, tapi sudah dibicarakan perpan­jangan kontrak berikutnya, 2021 sampai 2026, lima tahun, bi­asanya kan selama 20 tahun itu kontrak pertama,” jelasnya.

Tuntutan lainnya, kata Siregar, pedagang menolak pungutan retribusi barang sebesar Rp 100 perkilogram untuk pedagang. Kebijakan yang mulai 2021 terse­but dinilai merugikan pedagang. Sieregar menjelaskan, rata-rata barang masuk di pasar ini men­capai 7 juta kilogram. Jumlah tersebut, sambungnya hanya menguntungkan pengelola tapi pedagang sendiri merugi.

“Setiap hari barang masuk kurang lebih 7 juta kilo, kali 100 perak berarti 700 juta perhari, dikali sebulan berarti mereka akan meraup 21 miliar per­bulan. Kita barang juga gak sepenuhnya bener, yang busuk aja terbengkalai gak diurus pen­gelola,” jelasnya

Pedagang mengancam akan melakukan aksinya selama tiga hari jika tak kunjung ditanggapi pengelola. Bahkan, Siregar men­gancam akan menggelar aksi protes hingga ke Istana Pres­iden, Jakarta.

Pedagang mengancam akan melakukan aksinya selama tiga hari jika tak kunjung ditanggapi pengelola. Bahkan, Siregar men­gancam akan menggelar aksi protes hingga ke Istana Presiden, Jakarta. Akibat aksi mogok terse­but dipastikan sebagian transak­si pasar lumpuh. Terdapat lebih dari 1.500 pedagang sayur dan buah di pasar tersebut.

“Kita mau ke Istana, senin se­lasa rabu kita nggak ada demo lagi. Kalau ini nggak ditanggapi kita akan demo presiden. Di sini semua pedagang tidak ada tran­saksi sampai rabu. Jadi mudah-mudahan, pihak pemda atau pihak terkait seperti dewan ada perhatian atas aksi mogok ini, itu yang kita harapkan,” tambahnya.

Kebijakan pengelola yang dini­lai memberatkan pedagang tadi disebut timbul karena isu relokasi pedagang ke pasar lain. Salah satu pedagang, Kemi menyebut, pen­gelola khawatir pedagang pindah ke pasar lain. Dia mengatakan, isu tersebut berasal dari surat edaran yang menyebutkan bah­wa Pemerintah Kota Tangerang tengah membangun pasar induk yang berlokasi di Jatake.

“Yang jelas dia (pengelola) ketakutan, ketakutan berdiri lagi pasar induk,” jelasnya. Namun isu tersebut ditampik Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Kota Tangerang, Agus Sugiono. Dia mengatakan, pasar tersebut bu­kanlah pasar induk. Pasar terse­but, lanjutnya, merupakan pasar lingkungan berskala kelurahan.

Manajer Umum PT Selaras Griya Adigunatama, Jamal ang­kat bicara mengenai protes ped­agang. Dia beralasan, kebijakan yang telah dibuat tadi muncul karena desakan-desakan peda­gang. Pedagang, sambungnya, boleh menerima ataupun me­nolaknya. Penawaran perpan­jangan kontrak, dikatakan Ja­mal, merupakan pertimbangan pimpinan untuk memastikan keseriusan pedagang.

“Jadi memang pimpinan kita menentukan ini karena desakan dari pedagang juga. Kalau se­andainya pedagang nggak mau, nggak jadi masalah, kan gitu. Kita bisa programkan yang lain, kan gitu. Karena kita melihat pedagang itu banyak, istilahnya kita kasihan untuk berdagang­nya di mana segala macem, yang akhirnya pimpinan kita perpan­jang dah dulu 5 tahun. Kasian pedagang belum ada penam­pungnya,” ujarnya. (irfan/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.