Pajak Karaoke dan Diskotik Naik

Bapenda Sosialisasi Perda No 3 Tentang Pajak Daerah

SERPONG,SNOL16Guna menginfor­masikan perubahan Peraturan Daer­ah (Perda) tentang perpajakan, Ba­dan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) adakan sosialisasi Perda No.3 Ten­tang Perubahan Perda No.7 tahun 2010 Tentang Pajak Daerah. Salah satunya membahas kenaikan pajak karaoke dan diskotik.

Kepala Bapenda Kota Tangsel, Da­dang Sofyan mengungkapkan, semua program Pemerintah Kota Tangsel bisa terlaksana dengan baik jika ada pen­danaan. Pendanaan itu salah satunya melalui pajak. Oleh karena itu pihaknya mengundang para pelaku usaha dalam sosialisasi agar ke depan para wajib pajak bisa mengetahui perubahan-pe­rubahan regulasi yang ada.

“Kami berharap dengan sosialisasi ini mengenai banyak perubahan da­lam pajak hiburan bisa dimengerti dan dipahami oleh para wajib pajak semuanya,” papar Dadang saat me­nyosialisasikan kenaikan pajak ka­raoke dan diskotik di Resto Anggrek, Serpong, Rabu (15/11).

Dadang menjelaskan, perubahan-perubahan itu meliputi pagelaran seni yang sebelumnya dibebankan pajak 5 persen kini diregulasikan menjadi 3 jenis. Pagelaran seni yang berkelas tradisional dikenakan 0 persen, Nasional 5 persen dan Inter­nasioanl 10 persen.

Hal serupa ditetapkan di sektor-sektor lain seperti, pagelaran busana dan sejenisnya, kontes kecantikan dan sejenisnya, sirkus dan sejenisnya serta pertandingan olahraga.

Untuk pusat kebugaran (fitness center) dikenakan pajak 10 persen. Sedangkan untuk pameran dipisah­kan menjadi komersial 10 persen dan non komersial 0 persen. Sama halnya dengan pameran, permainan bilyard dan bowling yang dibedakan dengan fasilitasnya.

“Sedangkan yang paling mencolok terjadi di sektor usaha hiburan, di­mana untuk pacuan kuda dan kendaraan bermotor dikenakan pajak 15 persen, diskotik dan sejenisnya 50 persen, sedangkan untuk karaoke 30 persen,” tandasnya.

Ketua Komisi III DPRD Tangsel, Amar mengatakan, pihaknya ber­harap dari pajak daerah BPHTB Tangsel semakin hari semakin naik. Adapun soal pengurangan pajak per­mainan ketangkasan untuk mem­bantu kebutuhan anak. “Pajak per­mainan anak kita kurangi, karena pengguna permainan itu mayoritas anak-anak, biar ke depan mereka punya kegiatan, tidak melulu sama gadget,” katanya.

Yang terpenting dalam hal ini, pemerintah tidak membebani masyarakat menengah ke bawah. Adapun perihal kenaikan pajak dis­kotik dan karaoke menurutnya ini merupakan langkah untuk menjaga simbol Kota Tangsel yang religius.

“Intinya pajak itu tidak boleh membebani rakyat Khususnya me­nengah ke bawah, khusus untuk karaoke 25 persen dan diskotik 50 persen naik karena untuk menjaga marwah CMORE,’’pungkasnya. (qib/bnn/jarkasih)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.