Korban Persekusi Diintimidasi

LPSK Tawarkan Perlindungan, Polres Buru Pengunggah Video

TIGARAKSA, SNOL— Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) menawarkan perlindungan terhadap R (28) dan N (20), pasangan kekasih yang menjadi korban persekusi di Desa Sukamulya, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Tawaran disampaikan seiring pengakuan korban yang menyebutkan mereka diintimidasi agar tidak melanjutkan proses hukum perkara tersebut.

Wakil Ketua LPSK Hasto Atmojo mendatangi Mapolresta Tangerang Kamis (16/11), siang. Dia meminta keterangan dan data kepada polisi terkait kasus dugaan tindak kekerasan dan pelecehan terhadap sepasang kekasih di Kampung Kadu RT 07 / RW 03 Sukamulya, Cikupa, Jumat (10/11) malam. Dia disambut Wakasat Reskrim Polresta Tangerang AKP Mulyadi. Pertemuan berlangsung tertutup di gedung Satreskrim Mapolresta Tangerang.

Hasto Atmojo mengaku sengaja datang ke Mapolresta Tangerang untuk memberikankepastian perlindungan dan rasa aman kepada para korban melihat kejadian viralnya video persekusi tersebut. Dalam kunjungan itu, LPSK mendapatkan para korban masih dalam kondisi trauma. Mereka juga masih terlihat takut apabila bertemu dengan orang yang baru dikenal. “Masih terlihat sangat shock, korban terlihat masih banyak diam, apa lagi yang laki-laki. Sejak awal tim dari LPSK datang hingga usai, korban banyak memilih diam,” kata Hasto.

Berdasarkan hasil interogasi, Hasto mengatakan korban mengaku pernah dihubungi oleh orang yang belum diketahui identitasnya. Mereka diintimidasi agar tidak melanjutkan kasus persekusi tersebut.

“Katanya pernah ada yang minta tidak dilanjutkan kasusnya,” terang Hasto.Oleh karena itu, untuk menghindari adanya unsur intimidasi dari pihak luar sekaligus memberikan rasa aman kepada korban, sambung Hasto, pihaknya juga menawarkan agar para korban pelecehan mau tinggal di rumah aman milik LPSK. “Dengan begitu, korban akan merasa lebih aman,” kata Hasto. Meski begitu, LPSK tetap memberikan kebebasan kepada para korban

untuk tinggal sesuai pilihannya.Wakasat Reskrim Polresta Tangerang AKP Mulyadi mengatakan, Polresta Tangerang hanya memfasilitasi pertemuan korban dengan LPSK. Pertemuan sengaja dilakukan dalam upaya memberikan rasa aman dan nyaman kepada para saksi dan korban. “Kalau kita kan hanya memfasilitasi pertemuan saja, selebihnya menjadi urusan LPSK dengan korban apakah mau tetap tinggal bersama keluarga atau di rumah aman milik LPSK,” pungkasnya. Terkait kasus persekusi tersebut, jajaran kepolisian dari Polresta Tangerang Kota terus memburu pelaku pengunggah pertama video persekusi yang menimpa R (28) dan N (20). Untuk mempercepat pengungkapannya saat ini tim penyidik Polresta Tangerang Kota berkoordinasi dengan Mabes Polri.

“Hari ini kami tengah berkoordinasi dengan Mabes Polri agar bisa mengungkap siapa pelaku pengunggah video persekusi di Cikupa,” jelas Kapolresta Tangerang Kota, AKBP Sabilul Alif kepada Satelit News, usai menghadiri acara Penandatanganan Kerjasama tentang Pencegahan Pengawasan dan Penanganan Permasalahan Dana Desa antara Polresta Tangerang Kota dengan Pemkab Tangerang, Kamis (16/11).

Sabilul menjelaskan pengungkapan pelaku kasus persekusi ini, termasuk mengungkap pelaku pengunggah videonya sangat penting sebagai upaya untuk memberikan efek jera di masyarakat sehingga kasus yang sama tidak kembali terjadi. Terlebih sambung Sabilul, kasus yang sama pernah terjadi di Kabupaten Tangerang pada 4 tahun lalu. Bahkan kasus tersebut mengakibatkan korban persekusi nekad bunuh diri akibat tak kuasa menahan malu.

“Kami tidak ingin kasus ini terus berulang. Untuk itu kami serius melakukan penindakan untuk memunculkan efek jera di masyarakat,” tegas mantan Wadir Dit Lantas Polda Jawa Timur ini. Sementara itu terkait penanganan para korban, Sabilul menjelaskan pihaknya telah melakukan pendampingan selama 3 hari terakhir kepada R dan N dengan mendatangkan tim psikiater. Pendampingan tersebut jelas Sabilul, sangat dibutuhkan untuk memulihkan

kondisi psikologis para korban yang saat ini mengalami trauma atas peristiwa yang dialaminya. “Untuk sementara kami belum mengizinkan para korban untuk ditemui siapapun. Hal ini dilakukan agar korban bisa segera dipulihkan dari trauma yang dialaminya,” jelas Sabilul.

Bahkan Sabilul menyebutkan trauma tidak hanya dialami para korban bahkan kedua orang tua R juga mengalami goncangan yang cukup hebat atas peristiwa yang dialami putranya. “Usai diwawancara di sebuah stasiun televisi saya melihat orang tua khususnya ibunya R mengalami pingsan karena tak terima atas peristiwa yang dialami putranya,” papar Sabilul.

Polisi menetapkan 6 tersangka dalam kasus ini, Termasuk ketua RT dan ketua RW setempat. Enam tersangka yang berinisial G, T, A, I, S, dan N sudah ditahan. Keenam tersangka itu pun dijerat dengan pasal 170 KUHP dan 335 KUHP dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara.(mg1/hendra/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.