Budi Santoso, Penyandang Disabilitas Pembuat Kaki Palsu

BUDI Santoso, 21, membuat kaki palsu untuk dijual kepada yang membutuhkan. Keahliannya itu bermula dari kebutuhannya sendiri sebagai penyandang disabilitas. Dia kehilangan kaki kirinya akibat kecelakaan setahun silam.

INTAN M SABRINA, Grobogan

SEJAK Agustus 2016 silam, Budi harus kehilangan kaki kirinya. Dia mengalami musibah kecelakaan sepeda motor. Saat terjatuh, dia terlindas tronton. Hal itu membuat kaki kirinya harus diamputasi. Kini dia harus berjalan menggunakan kaki palsu.

Peristiwa satu tahun silam itu masih membekas diingatannya. Meski sempat frustasi dan down, sulit baginya menerima kenyataan bahwa ia harus melanjutkan hidup dengan satu kaki kanannya.

”Saat itu memang tak tahu arah, masih belum bisa menerima. Sempat minder juga, karena saya masih muda. Masa depan masih panjang untuk bisa melanjutkan cita-cita. Untungnya, ada keluarga dan sahabat yang memberikan motivasi,” katanya.

Usai diamputasi, anak tunggal pasangan Suwadi dan Karsini ini berjalan dengan bantuan tongkat. Karena kurang nyaman, lalu ia membeli kaki palsu di Surabaya. Namun juga tak membuatnya merasa nyaman.

Akhirnya pada Desember 2016, warga Runut Desa Banjarejo Kecamatan Gabus ini mulai bereksperimen membuat kaki palsunya sendiri. Saat itu ia memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti ember plastik, sparepart, spon, pipa, lempengan besi, hidrolik, plat besi yang dipadukan engsel, hingge lem. ”Akhirnya saya kepikiran buat kaki palsu. Walaupun saya enggak bisa jalan, paling tidak saya kelihatan normal,” katanya.

Tak berjalan mulus selama dua bulan pembuatan dia mengalami berbagai kendala. Mulai yang merasa kurang nyaman, karena saat dipakai sakit. Hingga belum bisa ditekuk dan gerak. Namun berkat kemauan kerasnya, akhirnya berhasil.

”Awalnya kan cuma ingin kelihatan normal saja, tapi dari situ saya mencoba berjalan dengan kaki itu. Memang tidak bisa langsung bisa jalan, butuh proses. Bahkan kaki palsu hidrolik saya juga sudah di-launching beberapa bulan lalu,” ucapnya.

Setelah ia memakainya, banyak sesama difable yang melihat dan tertarik ingin memakainya. Lalu mulailah remaja kelahiran Grobogan 10 Maret 1995 ini kebanjiran pesanan.

Banyak orang yang senasib dengannya, datang ke rumah minta dibuatkan kaki palsu. Tak hanya dari Grobogan saja, namun ada juga dari Blora, Solo, Semarang dan Samarinda.

Dengan apa yang dialaminya, Budi kini merasa bersyukur. Ia bisa membantu orang lain yang senasib dengannya. “Walaupun berasal dari barang bekas tapi juga butuh dana yang tidak sedikit,” tuturnya.

Ia pun mulai mencari donatur untuk bisa membeli barang bekas yang dijadikan kaki palsu. ”Memang kendalanya saat ini susah mencari donatur. Selama ini saya juga sudah bekerja sama dengan Paguyuban Rantau Grobogan (PRG), P3D, dan RSI Sultan Agung. Masih butuh banyak donatur lagi,” ungkapnya.

Getolnya dalam pencarian donatur karena pemesan kaki palsu rata-rata dari golongan kurang mampu. Jadi ia tidak mematok harga tertentu, seikhlasnya. ”Saya tahu rasanya jadi dia. Jadi saya memberikan dana seikhlasnya untuk membantu sesama. Kadang juga memberinya tanpa mematok harga,” jelasnya.

Dijelaskan, barang bekas yang dipakai untuk membuat kaki palsu sangat mudah dicari. Biasanya ia mengambil dari Purwodadi hingga Kudus. Kini ia bisa membuat kaki palsu dalam waktu sehari jadi. ”Dulu dua bulanan, lalu sepekan. Kini sehari sudah bisa jadi. Dalam bulan ini saya sudah mendapat pesanan kurang lebihnya 20 kaki palsu. Saya dibantu dua karyawan,” ungkapnya.

Kini salah satu impian terbesar Budi adalah kaki palsu buatannya memiliki sertifikasi. Menurutnya, kaki palsu buatannya memiliki kelebihan dibandingkan kaki palsu pabrikan. Kaki palsu buatannya dilengkapi engsel dibagian lutut dan diatas tumit.

Sebab, kaki palsu pabrikan biasnya kaku. Berbeda dengan buatannya jika digunakan jalan serasa berjalan dengan kaki sempurna dan jauh lebih ringan. (*/lil)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.