Praktik 70 dan Teori 30 Persen

Memperin Target Lulusan SMK Terserap Semua

KEDIRI, SNOL—Harapan besar, seper­tinya, ditumpukan pada keberhasi­lan pendidikan vokasi di tanah air. Setidaknya, itu terpancar dari upaya Kementerian Perindustrian (Ke­menperin) dalam memaksimalkan kualitas lulusan sekolah kejuruan. Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartanto bahkan menargetkan semua lulusan SMK bisa terserap oleh lapangan kerja.

“Kami sampaikan keberhasilan program Jokowi selama tiga tahun ini. Dan harapannya ke depan terhadap pendidikan vokasi,” terang Menperin Airlangga kepada para wartawan usai bertemu dengan ribuan siswa SMK dari Kota dan Kabupaten Kediri di ge­dung Sasana Kridha Surya Kencana (SKSK) PT Gudang Garam Tbk (PT GG) kemarin.

Menurutnya selama ini memang pendidikan normatif lebih banyak dari­pada pendidikan produktif. Karena itu, banyak lulusan SMK sekalipun yang tidak terserap industry. Karena tidak terampil di bidangnya pascalulus.

Kenyataan itu membuat struktur pendidikan pun diubah. “Kita balik. Proporsi praktik menjadi 70 persen. Sedangkan teori hanya 30 persen saja,” terangnya.

Tidak hanya itu, Kemenperin juga melaksanakan program link and match antara kurikulum sekolah dengan kebutuhan industri. Sehing­ga ketika siswa lulus mereka berpe­luang besar terserap dunia kerja.

“Harus semakin kita tingkatkan (kualitas lulusan) karena selama ini penyerapan siswa SMK di industri masih sangat rendah,” tandasnya.

Tidak sendirian, Kemenperin juga menggandeng seluruh kementerian. Termasuk Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pasalnya di setiap kementerian pasti ada tenaga teknis yang dibutuhkan. Dengan gerak yang bersama-sama ini, diharapkan lulu­san SMK terserap 100 persen. “Kami terus lakukan koordinasi dengan se­luruh pihak,” tegasnya.

Diketahui saat ini industri di Jatim memiliki kontribusi terhadap pereko­nomian nasional sebesar 32 persen. Kota Kediri sendiri menjadi salah satu kawasan industri tembakau terbesar. Makanya pemerintah terus beru­paya agar warga sekitar sepenuhnya terserap dari industri tersebut.

“Apalagi Wali Kota Kediri ini agresif mengenalkan informasi dan teknologi di SMK sehingga kualitas lulusannya harusnya layak terserap di industri,” tandasnya.

Sementara itu, Menhub Budi Karya Sumadi cukup terkesan dengan dialog yang dilakukan dengan para siswa SMK di Kota maupun Ka­bupaten Kediri. Ada banyak masu­kan yang didapatkan termasuk cura­han hati (curhat) siswa.

Salah satu curhatan yang diterima Budi adalah susahnya masuk sekolah vokasi karena biayanya yang tinggi. Mulai dari biaya praktik hingga ke­butuhan lainnya seperti buku. Pada­hal menurutnya, seharusnya sekolah saat ini tidak lagi mahal dengan ad­anya program-program pemerintah.

“Tadi ada yang bilang menjadi pelaut atau nahkoda itu mahal. Pa­dahal seharusnya tidak,” tandas pria yang buru-buru meninggalkan tem­pat lebih awal tersebut.

Upaya Kemenhub dalam mem­bantu pendidikan vokasi adalah dengan melakukan pelatihan-pela­tihan. Kemenhub juga membuka sekolah berbasis vokasi yang nanti­nya diharapkan para pesertanya be­rasal dari seluruh pelosok tanah air.

“Saya yakin di sini ada banyak anak pintar dan berkesempatan ma­suk dalam program kami tersebut,” tandasnya.

Di kesempatan yang sama, Wali Kota Abdullah Abu Bakar menjelas­kan bahwa sejauh ini sudah sudah banyak lulusan vokasi di Kota Kediri yang sudah bekerja di PT GG. Tidak hanya SMK, ada pula politeknik Kediri (Poltek) Kediri yang cukup di­minati karena kualitasnya.

“Banyak mahasiswa yang ditarik ke industri sejak sebelum lulus,” be­ber wali kota muda tersebut.

Meskipun keterampilan dimiliki para siswa vokasi, Abu menekankan agar siswa tidak enggan untuk men­dalami teknologi informasi. Pasal­nya ke depan saingan mereka tidak hanya dari lulusan lokal saja. Tetapi juga lulusan vokasi di Asia.

“Harapannya siswa sini mampu bersaing dengan kualitas yang jauh lebih baik dari lulusan di luar sana,” tandasnya. (rk/dna/die/jpr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.