Panglima TNI Disarankan dari AU

JAKARTA, SNOL–Desakan agar Presiden Joko Widodo segera mengajukan nama pengganti Jenderal Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI masih kuat. Gatot sendiri me­nyisakan empat bulan masa tugas. Sosok dari TNI AU dinilai layak mendapat giliran menjadi suksesor.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta Pusat, kemarin, sepakat bahwa TNI AU paling layak mendapat giliran. Mengingat, sudah lama tidak ada panglima TNI berpangkat Marsekal. Kali terakhir Panglima TNI berasal dari AU adalah pada 2006. Kala itu, Presiden Susilo Bambang Yud­hoyono menunjuk Marsekal Djoko Suyanto sebagai panglima. Masa ja­batannya pun hanya 22 bulan.

Setelah itu, panglima TNI dijabat TNI AD, lalu berlanjut TNI AL, dan kemudian kembali lagi TNI AD dua kali. Yakni, Jenderal Moeldoko yang dilanjutkan Jenderal Gatot Nurman­tyo. “Karena itu, kami dorong dari TNI Angkatan Udara, untuk kohesi­vitas,’’ terang Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin. Lagipula, UU TNI juga menganjurkan agar jabatan panglima digilir dari tiga matra.

Hasanuddin meminta Jokowi segera mengajukan nama calon pengganti Gatot. Mengingat, 13 De­sember mendatang DPR akan reses hingga pertengahan Januari. ’’Maka harus cepat, karena Komisi I juga perlu waktu untuk melakukan fit and proper test,’’ tambahnya. Apalagi, dia tidak bisa menjamin nama yang diajukan presiden bakal langsung disetujui oleh Komisi I. Selain per­soalan kohesivitas, dorongan agar AU menjadi panglima juga untuk mendukung visi poros maritim dunia yang digagas Presiden Joko Widodo.

Pengamat militer Connie Ra­hakundini Bakrie menuturkan, su­dah saatnya doktrin militer Indo­nesia berubah mengikuti visi poros maritim. Visi tersebut mengharus­kan negara memperkuat angkatan laut bila ingin mampu bersaing. ’’Tapi, dalam perang modern, di negara manapun angkatan laut pasti akan mendapat dukungan penuh dari angkatan udara,’’ tutur Connie. Dengan menempatkan TNI AU sebagai panglima, Indone­sia akan selangkah lebih maju.

Connie mencontohkan Tiongkok dan India yang saat ini sedang giat memperkuat armada lautnya. Menu­rut Connie, yang perlu diwaspadai bukan kedua negara itu. Indonesia perlu menengok ke selatan, di mana ada negara tetangga Indonesia, yakni Australia. ’’Australia itu sudah men­gubah doktrin militernya menjadi berbasis udara,’’ lanjutnya.

Bila ingin mengimbangi, maka mau tidak mau Indonesia harus juga mengubah doktrin militernya. Doktrin TNI harus menjadi mili­ter yang memiliki kekuatan untuk mendukung poros maritim du­nia. Tentunya, seluruh matra akan tetap bekerja sama seperti biasa. Visinya saja yang berubah sehingga pengembangan kekuatan militer menjadi lebih fokus.

Connie menuturkan, saat ini TNI belum punya konsep untuk mendu­kung visi poros maritim dunia. ’’Se­harusnya panglima saat ini sudah membuatnya dua tahun lalu. Nyatanya belum ada,’’ tambah Connie. Dia berharap, panglima berikutnya mampu menerjemahkan visi itu dalam merancang kekuatan militer. Dia menilai TNI AU paling pas un­tuk itu. Sementara itu, dari sisi ang­katan, saat ini KSAU Marsekal Hadi Tjahjanto memang paling muda. Hadi merupakan lulusan AAU 1986, dan lahir pada 8 November 1963. Saat ini, perwira asal Malang itu baru berusia 54 tahun. Hadi baru akan pensiun pada November 2021.

Calon lainnya, yakni KSAD Jen­deral Mulyono saat ini berusia 56 tahun. lulusan Akmil 1983 itu akan pensiun pada Januari 2019 atau tiga bulan jelang pemungutan suara Pe­milu 2019. Sementara, KSAL Laksa­mana Ade Supandi akan pensiun pada Mei 2018. Alumnus AAL 1983 itu lahir pada 26 Mei 1960. (jpnn)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.