Pilkada Lebak 10 Besar Paling Rawan

SERANG, SNOL—Dari 154 daerah yang menggelar Pilkada 2018, Lebak masuk sepuluh besar tingkat kerawanan pemilu se­cara nasional. Sedangkan, tiga kabupaten dan kota lain yang juga akan menyelenggarakan pilkada masuk dalam urutan 18, 33, dan 35 secara nasional. Demikian rilis Bawaslu RI yang diungkapkan dalam kegiatan peluncuran Pojok Pengawasan di Sekretariat Bawaslu Banten, Selasa (28/11).

Berdasarkan dokumen IKP yang dirilis Bawaslu RI, indeks kerawanan terbagi menjadi tiga, yaitu tingkat kerawanan rendah dengan rentang skor 0 hingga 1,99, sedang 2,00 hingga 2,99 dan tinggi 3,00 hingga 5,00.

Dari 154 kabupaten/kota yang menggelar pilkada dae­rah paling rawan ditempati Kabupaten Mimika, Papua dengan skor 3,43. Adapun Lebak menempati urutan ke 10 dengan skor 2,68. Sedangkan tiga daerah lainnya di Banten yang juga menggelar pilkada, yaitu Kota Serang dengan skor 2,44 masuk peringkat 18, Kota Tangerang di peringkat 33 dengan skor 2,28 dan Kabu­paten Tangerang peringkat 35 dengan skor 2,16.

Lebak mendapat predikat kerawanan tertinggi, karena dimensi kontestasi yang tinggi dengan skor 2,98. Namun un­tuk dimensi penyelanggaraan dan partisipasi masuk kategori sedang yaitu 2,33 dan 2,67.

Untuk Kota Serang, meski indeks kerawanan masuk kategori sedang, tetapi dimensi kontestasi justru masuk kategori kerawanan tinggi dengan skor 3,03. Hal ini terjadi karena dipengaruhi variabel kekerabatan dengan skor 5,00 atau paling rawan. Itu mengingat calon yang akan maju memiliki hubungan kekera­batan dekat dengan gubernur dan beberapa bupati/waliko­ta. Untuk dimensi partisipasi, Kota Serang masuk kategori sedang dengan skor 2,33 dan dimensi penyelanggaraan ma­suk kategori rendah dengan skor 1,87.

Untuk wilayah Tangerang tidak jauh dengan dua daerah lainnya. Kota Tangerang, di­mensi penyelanggaraan 2,33, dimensi kontestasi 2,50 dan di­mensi partisipasi 1,72. Sedangkan Kabupaten Tangerang di­mensi penyelanggaraan 2,56, dimensi kontestasi 2,05 dan dimensi partisipasi 1,94.

Komisioner Bawaslu RI Fritz Edward Siregar di sela-sela acara peluncuran Pojok Pengawasan di Sekretariat Ba­waslu Banten, Selasa (28/11) mengatakan, IKP merupakan produk yang sudah dikeluar­kan Bawaslu sejak 2014. Do­kumen tersebut dimaksudkan untuk memberi peringatan dini tentang apa saja yang mungkin terjadi pada pelaksa­naan pilkada.

“Nanti itu (IKP, red) men­jadi panduan pemerintah, bagaimana dan bagian mana yang perlu ditingkatkan. Sum­ber data, rujukan, informasi dan terutama untuk langkah-langkah antisipasi terhadap berbagai hal yang dapat meng­hambat dan menganggu proses jalannya pemilu,” ucapnya

Ada tiga indikator yang di­gunakan untuk menyusun IKP. Indikator pertama adalah dari kontestasi dan parpol, siapa saja yang bertarung, bagaima­na keputusan parpol. Kedua adalah penyelenggaranya, apakah selama ini penyelang­gara pemilu ada yang terkena sanksi Dewan Kehormatan Pe­nyelanggara Pemilu atau tidak. Terakhir adalah tingkat keakti­fannya.

“Dari tiga indokator itu, Banten tidak dalam posisi yang tinggi. Masih sedang, sebuah hal yang patut diapresiasi bahwa tingkat kerawa­nannya dalam bentuk sedang bukan tinggi. Banten tidak masuk skor 3,00 sampai 5,00,” ungkapnya.

Selain tiga indikator tadi, kata dia, ada beberapa aspek yang juga menjadi perhatian­nya, seperti mobilisasi ASB, ujaran kebencian, penggu­naan media sosial dan politik uang.

Ketua Bawaslu Banten Didih Muhamad Sudi mengatakan, secara keseluruhan IKP di Banten mengalami kemajuan. Sebab, pada Pilakda Serentak 2017, Banten masuk tiga besar daerah paling rawan.

Untuk mengantisipasi kerawanan, Bawaslu terus melakukan peningkatan SDM. Selain itu, pihaknya juga terus merangsang keikutser­taan masyarakat dalam pengawasan dengan membuka Pojok Pengawasan.

“Kami sadari memiliki ber­bagai keterbatasan, sehingga sangat penting tentunya peran serta dari masyarakat. Untuk itu kami membuka Pojok Pengawasan, silakan masyarakat yang ingin menambah wa­wasan soal pengawasan untuk datang ke sini,” ujar Didih. (ah­madi/bnn/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.