Banten Siaga Darurat Bencana

352 Rumah Rusak Diterjang Angin dan Longsor

SERANG, SNOL—Pemprov Banten menetapkan status siaga darurat bencana. Itu dilakukan mengingat berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geo­fisika (BMKG) Serang, cuaca bu­ruk akan melanda wilayah Banten dan sekitarnya hingga Maret 2018 mendatang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten Sumawijaya mengatakan, siaga bencana dilakukan dengan menyiapkan tim tanggap darurat ben­cana (tagana) di setiap wilayah yang rawan bencana seperti puting-beli­ung, longsor, banjir dan lain-lain.

Selain itu BPBD juga sudah me­nyiapkan logistik untuk memban­tu warga yang terkena bencana seperti sembako, selimut, tenda darurat, makanan siap saji, mie instan, ikan dalam kemasan dan lain-lain.

“Tim tanggap darurat ben­cana nanti akan membantu war­ga untuk melakukan evakuasi jika terjadi bencana. Sementara logistik diberikan pasca terjadi bencana,” kata Sumawijaya, Senin (4/12).

Dikatakan Sumawijaya, cuaca buruk memang hampir terjadi setiap akhir tahun mengingat hal ini adalah siklus tahunan seperti halnya musim kemarau dan menyebabkan kekeringan.

“Dulu siklon Badai Cempaka, sekarang siklon Badai Dahlia dengan kecepatan angin sekitar 30 knot dengan tinggi gelom­bang sekitar 4 – 6 meter yang menimpa perairan di Banten bagian selatan,” ujar Sumawi­jaya.

Siaga darurat bencana ini akan dilakukan hingga Maret 2018 mendatang dengan ang­garan sekitar Rp 1 miliar dari biaya tak terduga. “Kalau masih kurang, kita nanti akan meminta bantuan pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Ben­cana (BNPB),” papar Sumawi­jaya.

Saat disinggung data keru­sakan akibat bencana hingga saat ini di wilayah Banten, Sumawijaya mengaku masih dalam tahap kecil, karena ben­cana terparah beberapa waktu yang lalu hanya menimpa jalan nasional tepatnya di Cilograng – Sukabumi atau perbatasan an­tara Banten dan Jawa Barat.

“Tidak ada korban jiwa. Mu­dah-mudahan ini yang pertama dan yang terakhir kalinya,” pa­par Sumawijaya, tim tanggap darurat bencana juga dibentuk di setiap desa yang rawan ben­cana.

Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Ranta Soeharta men­gatakan, daerah potensial ben­cana memang berada di wilayah Banten bagian selatan. Oleh karena itu, Pemprov akan me­nyediakan alat pendeteksi banjir yang anggarannya akan diambil dari APBD TA 2018 mendatang.

“Kita juga berencana akan membentuk daerah penampun­gan warga korban banjir, sejenis tempat relokasi lah. Termasuk banjir genangan di Banten ba­gian utara. Sekaligus membuat sumur artesis untuk menghada­pi musim kemarau,” imbuhnya.

Siklon Cempaka dan Dahlia menyebabkan ratusan rumah di Kabupaten Lebak rusak. BPBD Kabupaten Lebak mencatat se­lama bulan November 2017 se­banyak 352 rumah mengalami kerusakan diterjang angin ken­cang dan longsor. Dari jumlah tersebut, 321 rumah rusak aki­bat diterjang bencana angin kencang dan 31 rumah rumah diterjang bencana longsor yang tersebar di beberapa Kecamatan di Lebak.

Kepala Pelaksana BPBD Lebak Kaprawi mengatakan cuaca eks­trem selama November sangat membahayakan. Untuk itu, ke­tika terjadi angin puting beliung, serta longsor disejumlah keca­matan, maka ratusan rumah, mengalami rusak berat dan ringan. Bahkan, berdasarkan hasil pendataan pihaknya, maka jumlah total rumah rusak akibat puting beliung, serta longsor mencapai 352 unit rumah.

“Untuk sementara ini, ban­tuan yang telah kami berikan kepada seluruh pemilik rumah rusak akibat dua bencana alam ini, adalah bantuan logistik un­tuk kebutuhan sehari-hari para pemilik rumah,”kata Kaprawi kepada Satelit News saat dite­mui di Kantornya, Senin (4/12).

Katanya, karena Lebak sampai saat ini masih diselimuti cuaca ekstrem maka pihaknya terus menghimbau kepada relawan BPBD yang tersebar di 28 Keca­matan di Lebak untuk terus me­mantau dan jika terjadi bencana alam untuk segera memberi ta­hukan kepada BPBD Lebak agar bisa segera ditanggulangi.

“Tidak hanya relawan yang terus kita imbau, melainkan masyarakat Lebak untuk terus waspada bencana yang dapat datang tiba-tiba,”ujarnya.

Saat disinggung, apakah akan ada bantuan berupa materi un­tuk perbaikan rumah yang ru­sak tersebut, menurut Kaprawi, silahkan konfirmasi ke Pemkab, karena dari pihaknya baru se­batas bantuan logistik untuk kebutuhan pangan dan lain-lainnya.“Kalau dikonfirasi soal rencana bantuan materi untuk perbaikan rumah yang rusak akibat angin putingbeliung ataupun longsor, saya belum tahu. Silahkan tanya langsung ke Pemda,”katanya.

Sementara itu, dihubungi melalui telepon selulernya oleh wartawan terkait ratusan rumah yang rusak akibat angin puting beliung dan longsor, Asisten Dae­rah (Asda) II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Leb­ak, Budi Santoso mengatakan, para pemiliknya berencana akan diberikan bantuan berupa materi. Namun, sebelum ban­tuan materi tersebut diserahkan, maka kini pihak Pemkab sedang melakukan inventarisasi tingkat kerusakan yang dialami masing-masing rumah.

Status siaga darurat bencana juga ditetapkan Pemkab Pan­deglang. Bupati Pandeglang Irna Narulita menetapkan sta­tus siaga darurat bencana me­lalui surat keputusan (SK) yang dikeluarkannya Nomor: 460/Kep.483-HUK/2017.

Dalam isi SK tersebut tengah menjabarkan beberapa poin bencana yang patut menjadi perhatian semua pihak yakni siaga darurat bencana banjir, banjir bandang, banjir Rob, ta­nah longsor, dan angin puting beliung. SK itu juga berlaku se­lama 90 hari terhitung dari 20 Nopember 2017 sampai 20 Feb­ruari 2018.

Kepala Badan Penanggulan­gan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang, Dadi Supriadi membenarkan saat ini Pande­glang sudah ditetapkan status siaga darudat bencana. Pene­tapan itu kata dia, tengah men­imbang berdasarkan informasi yang diterima dari Badan Me­teorologi Klimatologi dan Geo­fisika (BMKG) mengenai perki­raan musim hujan, curah hujan dan sifat hujan beberapa bulan kedepan. Begitu juga kata dia, hasil dari pemantauan dan fakta bencana yang terjadi di lapan­gan.

“Dalam penanggulangan bencana perlu dilakukan upa­ya-upaya kesiapsiagaan terkait situasi saat ini, agar mampu me­minimalisir dampak bencana serta melakukan penanganan yang bersifat preventif, cepat, tepat dan terpadu sesuai penan­ganan yang berlaku. Makanya, mesti ditetapkan terlebih dulu melalui surat keputusan bupati,” kata Dadi, Senin (4/12).

Kabupaten Pandeglang menurutnya, sudah termasuk daerah yang rawan bencana karena berdekatan dengan laut dan pegunungan. Maka dari itu kata dia, semua pihak harus berperan aktif untuk selalu tang­gap bencana atau waspada pada wilayah masing-masing serta tempat tinggalnya.

“Ada sekitar 13 kecamatan di Pandeglang yang sudah men­jadi langganan banjir setiap tahunnya yakni diataranya Panimbang, Sobang, Patia, dan Sukaresmi. Belum lagi wilayah longor seperti di Jiput, Madala­wangi dan wilayah pegunun­gan lainnya. Untuk itu kami berharap semua masyarakat dimanapun harus waspada, karena bencana kerap terjadi tak terduga,” jelasnya.

Dadi menegaskan kembali, supaya masyarakat semuanya waspada, bahwa SK bupati soal penetapan siaga darurat ben­cana sudah disebarkan ke semua Kecamatan untuk memberikan informasi kepada masyarakat. “Hujan yang terjadi ini kemung­kinan besarnya akan usai pada Pebruari 2018 nanti. Tapi, mu­dah-mudahan pertengahan De­seber juga sudah usai,” pungkas­nya. (mulyana/ahmadi/gatot)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.