Siswa SDN Sadah Menolak Dipindah

Temui Bupati Serang

KAB SERANG, SNOL— Sejumlah siswi SD Sadah didampingi oleh masyarakat Kampung Sadah, menemui Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah di Pendopo, Senin (4/12). Dalam kedatan­gannya, mereka menolak kegiatan belajar mengajar (KBM) dipindahkan dan bergabung dengan sekolah lain.

Penolakan salah satunya dilontarkan oleh Ha­wasi, salah seorang warga Kampung Sadah, Desa Kaserangan, Kecamatan Ciruas. Menurutnya, ber­dasarkan hasil musyawarah bersama masyarakat lain sejak semalam, bahwa pihaknya menolak KBM SD Sadah dipindah ke sekolah lain.

“Sampai dengan semalam musyawarah, kami tetap menolak apapun itu bentuknya, apakah itu dimerger atau hanya dipindahkan, saya prib­adi mewakili masyrakat, saya sudah membuat video penolakannya,” kata Hawasi saat audiensi dengan Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah.

Ia juga menegaskan KBM SDN Sadah akan tetap dilakukan dibangunan yang sekarang di­gunakan. Walaupun kondisinya saat ini masih seadanya.”Kalau tadi saya dengar dari bapak (Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Serang, Asep Nugrahajaya-red) pembelian tanah diawal tahun, ini saya kira hanya tinggal menunggu waktu beberapa bu­lan saja. Kalau melihat proses belajar, kami melihat sudah 3 tahun disitu,” ujarnya.

Senda diungkapkan oleh war­ga lainnya, Jupran. Menurutnya masyarakat tidak setuju dengan rencan pemindahan sekolah tersebut. Adapun pertimbangan­nya, masyarakat tak ingin siswa menempuh jarak lebih jauh dari sekolah sebelumnya. “Kami masyarakat sangat tidak setuju rencana itu, kita tetap ingin me­nempati bangunan sekolah yang ada sekarang ini,” ujarnya.

Menanggapi persoalan terse­but, Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah mengaku akan menu­ruti keinginan masyarakat terse­but. Namun, ia memastikan se­lama proses pembebasan lahan hingga pembangunan selesai akan menjaga semua siswi SDN Sadah aman dari ancama ban­gunan ambruk dan bocor.

“Anak-anak ternyata tidak mau dipindahkan, tapi saya sampaikan saya tidak mau mendengar keinginan dari Di­nas, tidak mau mendengar ke­inginan orang tua, saya lebih ingin mendengar keinginan anak-anak, karena anak-anak yang ada di dalam kelas itu, mereka yang merasakan gima­na tidak nyamannya ruang kelas dengan kondisi seperti ini. Intinya saya ngikutin yang anak-anak mau, dan selama jangka waktu sampai perkiraan agustus kalau lancar kita bisa ngebangun, saya harus ngejaga mereka aman, dalam arti gak bocor, terus secara fisik bangu­nan ini tidak ambruk menimpa mereka,” katanya.

Mengenai proses pembebasan lahan, Tatu memastikan akan segera membeli lahan seluas 1.300 meterpersegi milik salah seorang warga dengan harga sesuai apraisal. Namun ia mem­inta, dalam proses pembebasan lahan ini agar ada pendampin­gan dari tim TP4D kejaksaan, se­hingga kekhawatiran tidak ada. “Kebutuhan lahan harusnya 4000 meterpersegi, tapi kan ini lahan kemarin yang diminta itu diatas apraisal, Rp 500 ribu per­meter, sedangkan tim apraisal Rp 255 ribu. Pemda bukan gak mau nambah uang, tapi tidak boleh membeli tanah diatas harga yang ditetapkan apraisal,”tegasnya. (sidik/made)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.