Koeksistensi Damai Warga Bantaran Sungai di Bontang dengan Buaya

Warga kampung di tepian Sungai Guntung, Bontang, memperlakukan dua buaya yang kerap menampakkan diri seperti hewan piaraan mereka.

EDWIN AGUSTYAN, Bontang

PRIA paro baya itu jongkok di jembatan kayu. Sembari matanya saksama memperhatikan sungai, tangan kanannya bersiap melempar.

Sesaat kemudian, plung, plung, plung. Daging kerang di tangan kanan Maslah, pria tersebut, berpindah ke sungai. Dan, langsung disantap oleh yang dari tadi dipandangi si bapak di atas jembatan kayu itu: buaya.

Ya, buaya. Dan jarak antara si bapak dengan hewan sepanjang 3 meter tersebut tak sampai semeter. Kalau mau, hap, pria beruban itu bisa saja jadi ganti daging kerang bagi si buaya. Dan, Maslah bukannya tak sadar risiko itu.

’’Dilompatinya kita bisa sampai sana (menunjuk kejauhan). Tidak ada apa-apanya kita kalau begini (jarak dekat) kalau dia (buaya) mau loncat,’’ ungkap Maslah seperti yang terekam dalam video yang diunggah akun Zblind Virgo di Facebook dan kini telah menjadi milik Viral Press itu.

Cuplikan adegan dalam video tersebut hanyalah salah satu contoh bagaimana di sungai tersebut, Sungai Guntung, Bontang, koeksistensi damai telah tercipta. Antara warga kampung di bantaran sungai di Bontang, Kalimantan Timur, tersebut dan si buaya.

Sutikno, warga Kelurahan Guntung, mengungkapkan, buaya itu kian sering berenang hingga ke permukiman warga saat bakau di sekitar muara sungai ditebang. Saat air pasang, ia masuk menyusuri Sungai Guntung.

’’Paling sering terlihat siang pukul 14.00 atau senja. Biasanya ada saja di samping perahu-perahu itu,’’ katanya kepada Kaltim Post (Jawa Pos Group) sambil menunjuk deretan perahu yang ditambat di dermaga.

Menurut Sutikno, buaya 3 meter dengan warna agak kekuningan itu bukan satu-satunya yang ada di sungai tersebut. Ada seekor lagi. Berukuran lebih kecil, sekitar 1,5 meter, dan berwarna lebih hitam. ’’Mereka sejak kecil memang sering menampakkan diri,’’ katanya.

Tak sekali pun si kuning dan si hitam menyerang warga. Padahal, jarak antara permukaan sungai dan bantaran, pada musim hujan seperti saat ini, hanya sekitar semeter. Rumah-rumah penduduk juga padat berjajar di tepian.

Koeksistensi damai seperti di bantaran Sungai Guntung tersebut sangat jarang dijumpai. Yang hampir selalu terjadi, antara warga dan buaya sungai saling mengintai. Istilahnya, membunuh atau dibunuh.

Jawa Pos edisi 31 Mei lalu, misalnya, menurunkan kisah dua pedagang keliling antarpulau yang menangkap buaya sungai di Batam. Alasannya, dikhawatirkan membahayakan mereka atau warga lain. Untung, buaya seberat sekitar setengah ton itu tak lantas dibunuh, tetapi diserahkan ke dinas lingkungan hidup setempat.

Namun, di Kelurahan Guntung, situasi ’’kill or be killed’’ itu tak ada. Bahkan, bagi nelayan setempat, berpapasan dengan buaya-buaya itu sudah jadi makanan sehari-hari. ’’Dia berenang seperti biasa. Tapi, saya tetap hati-hati,’’ ujar Herianto, salah seorang warga yang bermatapencaharian sebagai nelayan.

Kalau ada kelebihan umpan, lanjut Herianto, tak jarang umpan itu diberikannya kepada si buaya. ’’Saya hampir tiap hari ketemu buaya. Kalau tidak ada di sungai, biasanya berjemur di muara sekitar sekilo dari sini,’’ katanya.

Yang rutin memberi makan buaya-buaya itu juga bukan hanya Maslah atau Herianto. Hampir seluruh warga. Tiap kali ada bau amis atau daging kerang, buaya-buaya tersebut akan muncul. Menunggu dengan setia di permukaan sungai. Dan, warga juga memperlakukan mereka, si besar maupun si agak kecil, seperti hewan piaraan sendiri. Selalu menyisakan sedikit makanan untuk keduanya.

Muhariah, warga lain yang rumahnya berada di samping dermaga, mengaku, saat malam, buaya-buaya tersebut juga kerap mengitari sungai. Tampak dari matanya yang memantulkan sinar. ’’Tapi, saya tetap hati-hati. Dulu sering saja anak-anak berenang di sungai. Sekarang sudah kami larang,’’ tegasnya.

Ya, bagaimanapun, kehati-hatian menghadapi hewan buas, apalagi yang hidup liar, tetap dibutuhkan. ’’Asal tak diganggu, buaya itu tak akan mengganggu. Tapi, kalau memberi makan, sebaiknya juga jangan terlalu dekat jaraknya,’’ tutur Sutikno.

Maksudnya, untuk berjaga-jaga. Siapa tahu si buaya lagi bad mood. Dan, siapa pun tahu, sekali ia menyerang warga, koeksistensi damai yang sudah terjalin selama ini bakal ’’resmi’’ berakhir. Berganti jadi membunuh atau dibunuh.(*/riz/k15/JPG/c5/ttg/jawapos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.