Lika-liku Mencari Wakil Berujung CLBK?

MENGAMATI dinamika politik jelang pilkada Kota Tangerang ibarat mengikuti kuis Teka Teki Sulit (TTS) milik komedian Cak Lontong. Peserta dibuat penasaran dengan jawaban yang disodorkan sang pre­senter. Jawab ini salah, jawab itu salah, meski klunya sudah benar. Tahu-tahu jawabannya sangat mudah yang memang tidak terpikirkan oleh peserta.

Begitu juga dengan dinamika politik Kota Tangerang. Kebanyakan orang akan mene­bak incumbent Arief Wis­mansyah akan kembali ber­pasangan dengan Sachrudin. Dilalah di tengah jalan, Sach­rudin mendapat mandat DPP Partai Golkar untuk bertarung sebagai bakal calon walikota. Kondisi ini memaksa Arief berpikir ulang untuk duet lagi dengan Sachrudin. Selain me­mang adalah hak warga negara untuk mencalonkan diri, Arief

mempunyai keinginan untuk bersaing dengannya.juga berpikir bahwa Sachrudin

Akhirnya, duet Arief-Sachru­din pun (untuk sementara) kan­das. Nah, di tengah kegaduhan keretakan duet ini, Arief bergerak mencari calon pendamping. Ibaratnya, Arief mengge­lar audisi. Sejumlah nama, baik dari kalangan birokrat, politisi, pengusaha, bahkan pejabat di tingkat pusat diajak untuk adu konsep bagaimana membangun Kota Tangerang lima tahun ke depan.

Sejumlah nama sempat santer digadang-gadang bakal digandeng. Dari kalangan bi­rokrat muncul Kepala Bappeda Banten Hudaya Latuconsina, Sekda Kota Tangerang Dadi Buadairi, Kepala Dinas Info­kom Kota Tangerang Tabrani, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang Engkos Kosasih, Sekretaris Di­nas Perumahan dan Permuki­man Kota Tangerang Maryono Hasan. Dari kalangan politisi, Sekretaris DPD Hanura Banten Rano Al-Fath, Sekjen PPP Bant­en Iskandar dan Ketua Nasdem Banten Wawan Iriawan. Dari pejabat pemerintah pusat ada pejabat di BKPM RI wilayah Singapura Ricky Kusmayadi, dan dari kalangan pengusaha ada Executive GM Bandara Soekarno-Hatta Suriawan Wakan. Mereka semua adalah sederet nama yang muncul ke permukaan.

Banyaknya nama yang disaring, mungkin menurut Arief adalah untuk mencari sosok duet yang tepat, yang bisa berja­lan bersama membangun Kota Tangerang lebih baik. Karena secara popularitas, Arief sudah tidak dipusingkan lagi. Di be­berapa survei, nama Arief ada di urutan pertama. Kepuasan masyarakat terhadap tingkat kinerja Arief juga tergolong tinggi. Itu belum ditopang dengan kekuatan materi yang di­miliki Arief dan keluarganya.

Namun, sudah hampir empat bulan, audisi yang dilakukan Arief tanpa hasil. Petahana ini belum kunjung mendapat pasangan yang diidamkan. Di beberapa kesempatan, Arief juga terus bungkam mengenai siapa calon wakilnya.

Apakah Arief sedang diliputi kegamangan memilih wakil? Jawabannya mungkin iya. Atau bisa juga Arief sedang hati-hati memilih wakil. Dia mungkin tidak ingin calon pendamping­nya itu tidak seirama. Arief tidak mau visi misi yang dibangun un­tuk Kota Tangerang lima tahun ke depan akan rusak di tengah jalan hanya karena keretakan hubungan dengan pendampingnya.

Malah isu terbaru menye­butkan kalau Arief akan kem­bali berduet dengan Sachru­din. Apalagi, posisi Sachrudin dalam keadaan “menggantung”. Sempat diisukan mengundur­kan diri dari pencalonan, lalu mengklarifikasi tidak mundur. Ketua DPD Golkar Banten Tatu Chasanah sempat mewarning Sachrudin agar menguatkan jalinan komunikasi politik. Ko­non kabarnya, Sachrudin dideadline hingga akhir Novem­ber lalu. Nyatanya, hingga kini, Golkar pun masih menutup rapat soal kandidat di pilkada Kota Tangerang.

Apakah kondisi ini menjadi sinyal Arief akan kembali duet dengan Sachrudin? Ibarat pepa­tah mengatakan “Jodoh tidak ke­mana, mungkin dia masih men­jalani liku-liku perjalanannya untuk sampai ke kota hatimu.” (*/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.